Gelap

Cinta Pak Lurah 23

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Cinta Pak Lurah 23

. ***Hawa dingin membuatku gelisah, aku bergerak semakin merapat pada objek yang ada di depanku.
Tapi rasa geli di pentilku akibat bergesekan dengan sesuatu yang lunak membuatku mau tidak mau mengernyit dan berakhir membuka mata.
“Eemh.
” gumamku sambil berjengit pelan menjauhkan tubuh dari objek di depanku, yang berakhir sia-sia karena belitan kuat sebuah tangan di pinggangku.
Aku menghela nafas lega saat tahu itu Pak Lurah.
Yang ada di depanku, yang tangannya membelit pinggangku, yang dadanya tergesek pentilku tadi.
Aku melenguh pelan.
Mengedarkan mata, memindai sekeliling ruangan yang remang-remang.
Ya Gusti, aku dengan Pak Lurah ternyata tidur di sofa ruang tamu semalaman.
Pantas tempat yang kutiduri rasanya sempit.
Mau gerak pun susah.
Sudahlah Pak Lurah ini meluknya kenceng banget.
“Mas, bangun.
” kutepuk pelan dadanya, aku sudah tidak tahan berada di posisi seperti ini, badanku pegal semua.
Pak Lurah bergeming, sama sekali tidak ada tanda-tanda mau bangun.
“Maaaas, banguuun!!.
” kali ini aku agak berteriak dengan tepukan lebih keras di lengannya.
“Hmm, kenapa Dek?.
” berhasil, Pak Lurah bangun.
Dengan susah payah berupaya membuka matanya.
“Bangun Mas, badanku pegel semua.
” kataku sambil melepaskan pelukan tangannya di pinggangku.
“Jam berapa?.
” Tanya Pak Lurah dengan suara serak khas bangun tidurnya itu.
“Enggak tahu.
” Jawabku sembari berusaha untuk bangun.
“Aah aduuh… duuhh.
” “Kenapa Dek?.
” Tanya Pak Lurah panik, aku yakin kantuk yang menggelayuti matanya tadi langsung hilang.
Sebab sekarang dia sudah duduk sepenuhnya di sampingku dengan tubuh telanjang bulatnya itu.
Aku memindai tubuhku sendiri sambil sesekali meringis menahan rasa sakit.
Pantas saja aku merasa dingin, wong ternyata sama telanjangnya seperti Pak Lurah.
“Dek, kenapa?.
” Tanya Pak Lurah lagi saat aku tidak menjawab dan hanya meringis-ringis saja.
“Aahh, badanku sakit semua Maas.
” Jawabku dengan rengekan ke arahnya.
Pak Lurah meringis lagi.
Kepalanya mendongak melihat ke arah jam yang tepat berada di dinding depan kami, lalu menunduk lagi menatapku.
“Ayo Mas gendong ke kamar, masih jam setengah 3.
Masih ada waktu buat tiduran lagi.
" Pak Lurah berdiri di depanku, sebelum akhirnya mengangkatku yang masih telanjang bulat ini.
"Em, maluuu.
Tutup mata.
" kedua tanganku yang bebas bergerak menutup mata Pak Lurah.
"Ck, pinternya istriku.
Terus Mas jalannya gimana kalau mata ditutup gini, hm?.
" katanya sarkas.
"Eh, " iya juga, aku jadi merasa goblok.
"Yaudah aku pakai baju dulu, kamu merem.
" kataku sambil berusaha turun dari gendongannya.
"Udah diem, semalem juga kamu binal banget godain Mas.
Kenapa sekarang jadi mengkeret, hm?.
"Tatapan mata Pak Lurah saat bertanya membuatku terdiam.
Aku jadi mengingat-ingat kelakuanku tadi malam yang menggodanya habis-habisan.
"Iiih yaudah, ayo cepetan ke kamar.
Kamu jangan nunduk, lihat ke depan aja.
" aku menyilangkan kedua tangan di depan dada, berusaha menutupi sebisanya.
Yang tentu saja sia-sia.
Tangan Pak Lurah saja tidak cukup untuk menampung dadaku, apalagi tanganku.
Tapi setidaknya pentilku yang sudah tegak bisa tertutupi sih.
Menurut, Pak Lurah berjalan pelan menuju ke arah kamar kami.
Dia juga menuruti ucapanku untuk melihat ke depan dan tidak mencuri-curi pandang ke bawah.
"Buka pintunya Dek.
" pintanya saat kami sudah berada di depan pintu kamar.
Aku mencebik saat harus mengangkat satu tanganku untuk menjangkau pintu.
Satu tanganku lagi berusaha mengepit dadaku, masih mencoba melindungi dadaku yang sebenarnya sia-sia saja.
Ya buat apa?.
Toh Pak Lurah sudah berulang kali mengerjai dadaku.
Tapi entahlah, kalau sedang mode waras seperti ini, rasa malu ku tiba-tiba meroket.
Pintu terbuka, Pak Lurah masuk dan menutup pintu dengan menendangnya menggunakan satu kaki.
Berjalan pelan ke arah kasur, dia menurunkan ku dengan perlahan.
Begitu tangannya lepas dari badanku, aku segera beringsut masuk ke dalam selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.
Pak Lurah mengernyit melihat tindakanku, sedangkan aku semakin rapat membungkus tubuhku dengan selimut, menyisakan kepala supaya aku tetap bisa bernapas.
"Haah.
" Pak Lurah menghela nafas kasar, dengan satu tangan berada di pinggangnya.
Lalu terkekeh pelan sambil mengedarkan matanya sebelum akhirnya menatapku lagi yang sedang melihatnya dengan takut-takut.
"Dek, yang bener aja deh.
Aku kayak habis ngewein istri orang kalau lihat tingkahmu yang kayak gini.
""Padahal siapa ya yang semalem godain aku, hm?.
" lanjutnya bertanya.
Aku terdiam, mengingat kembali kelakuanku semalam.
Menunggunya di ruang tamu dengan pakaian kurang bahan.
Menggodanya, menyuruhnya mengemut pent….
Ihhhh, aku menggeleng-gelengkan kepalaku kalut saat mengingat hal itu lagi.
Kenapa aku bisa termakan provokasi ibu-ibu PKK siihhh??.
Kalau memang Pak Lurah akhirnya kepincut sama si janda rebondingan itu, ya udah biarin aja nggak sih?.
"Hmm… siapa yang semalam pakai baju tidur seksi di ruang tamu?.
" aku berjengit kaget saat suara Pak Lurah terdengar begitu dekat.
Sibuk kilas balik, tanpa sadar Pak Lurah sudah ikut naik ke atas kasur dan sekarang dia sedang menyangga kepalanya menghadapku dengan satu tangan, tangan lainnya bahkan sudah mengungkung tubuhku.
Aku spontan ingin menjauhkan tubuhku, tapi tidak bisa, tangannya sudah mengunciku.
"Kenapa malu-malu?.
Kayak semalam aja lho, aku suka.
" tambahnya.
"Ih semalem aku khilaf, lepasin Mas mau tidur lagiii.
" aku mengeluarkan jurus merengekku, semoga Pak Lurah luluh.
"Nggak mau reka adegan lagi?.
Itu sofa ruang tamu semalam basah kuyup berkat pejumu sama pejuku, apa nggak mau sekalian banjirin kasur, hmmm?.
" rayunya dengan suara yang rendah, membuatku bergidik.
Kalau suaranya sudah seperti ini, biasanya Pak Lurah sudah mulai sange.
Aku menatap matanya, nah kan benar.
Matanya sudah sayu dan menatapku dengan lekat.
Namun seketika aku mengingat sesuatu saat mengulang kembali pertanyaannya.
Mataku membola dan spontan berteriak memanggil Pak Lurah.
"MAS!!.
"Pak Lurah agak terkejut sebelum akhirnya menjawabiku.
"Ha, kenapa?.
""Kamu semalam nyemprot di dalem ya?.
" tanyaku sambil mendelik.
"Eh….
".
***Eh l Pelanggaran Pak Lurah ini.. Update tipis-tipis, semoga besok bisa update lebih panjang yaa.

Sumber:Internet