. ***Aku sebal dengan Pak Lurah, enggak, aku sebal dengan diriku sendiri.
Tindakan impulsif yang aku lakukan kemarin, rasanya menjadi bumerang untuk diriku.
Salah satu hal yang menyebabkan aku jarang bergabung dengan masyarakat, bukan hanya karena aku introvert, ataupun banyak kerjaan tetapi juga karena aku adalah seorang yang impulsif.
Tindakan impulsifku seringkali lebih banyak merugikan diriku sendiri.
Ya seperti yang tadi malam itu.
Karena omong-omongan di acara PKK tentang Pak Lurah dan segala macam tingkah penggemarnya, aku jadi punya ide yang tidak ku pikir panjang.
Menggoda Pak Lurah sedemikian rupa yang membuatku akhirnya malu semalu-malunya pagi ini.
Kenapa semalam aku bisa bertingkah macam ituu???.
Benar kata Pak Lurah, semalam aku binal banget.
Rasanya pengen menghilang saja, nggak mau ketemu sama Pak Lurah.
Belum lagi kejadian Pak Lurah yang buang pejunya sembarangan.
Gimana kalau aku jadi hamil? Aahhh kacau deeehh.
Semalam itu Pak Lurah nyemprotnya berkali-kali dan banyak.
Aku ingat sekali, karena rasanya seperti masih tertinggal.
Anget dan banjir.
Aku menutup wajahku menggunakan kedua tangan dan berjongkok di depan kompor yang sedang menyala.
Masa bodoh dengan sayur yang sedang ku masak itu.
Bayang-bayang kelakuan ganjenku dan genjotan serta semprotan Pak Lurah berputar silih berganti di kepala.
Sebentar-sebentar aku merutuki perbuatanku, tapi sebentar lagi aku juga mengingat genjotan Pak Lurah yang menyodokku sampai muncrat keenakan.
Aku bergidik.
Nggak nggak, jangan ingat lagi.
Aku berdiri dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Ku ulangi beberapa kali berharap kejadian kemarin malam bisa hilang sejenak dari otakku.
Aku kipasi juga mukaku dengan tangan, berharap wajahku yang panas akibat malu itu mendingin, dan tidak memerah.
Ku alihkan perhatianku pada panci yang ada di atas kompor.
Oke Tari, fokus masak dulu, batinku.
Ku buka tutup panci di depanku, dan mengaduk sayur sop yang sedang ku masak.
Kuambil sedikit kuah dari sendok, untuk kucicipi rasanya.
Semoga saja enak.
Aku masaknya agak asal-asalan karena hatiku yang sedang acak-acakan.
Kutuang sedikit kuah yang sudah ku tiup ke tangan kanan.
Saat mendekatkan tanganku ke arah mulut, seseorang lebih dulu menariknya dan menjilat kuah yang ada di tanganku.
"Hmm enak.
" Aku menoleh kaget dan menemukan Pak Lurah yang masih memegang tangan kananku dengan senyum yang tersungging.
Di mataku senyuman itu terlihat sangat menyebalkan.
Aku ingat tadi pagi, kami sempat berdebat tentang pejunya yang dikeluarkan di dalam dan berpotensi membuatku hamil.
Perdebatan yang cukup intens menurutku tapi di tanggapi dengan asal-asalan oleh Pak Lurah sehingga membuatku kesal setengah mati.
Katanya, salahku semalam terlalu menggoda sampai dia terlanjur keenakan dan enggan mencabut senjatanya saatย hampir muncrat.
Lagian, aku terlihat sangat menikmati di sembur banyak peju, tambahnya.
Saking nggak bisa berkata-kata lagi, aku meninggalkan Pak Lurah di atas kasur dan pergi ke kamar mandi.
Jadi, aku mandi jam 3 pagi saat sedang kesal-kesalnya dan sedang dingin-dinginnya sembari merutuki tindakan tanpa pikir panjangku itu.
Hah, kenapa pula aku lupa siapkan kondom sih.
"Udah pinter goyang, pinter masak lagi.
" Aku tersadar dari lamunan saat mendengar omongan Pak Lurah.
Mataku memicing menatapnya.
"Hmm, wangi banget istriku.
" "Iihh.
" Aku otomatis menjauh saat hidungnya mengendus leherku.
Kutepis juga tangan kirinya yang entah sejak kapan sudah bertengger dengan apik dan mengelus pelan pinggangku.
Sumber:Internet