. Aku menatap pantulan tubuhku di cermin, memastikan kalau pentilku tidak terlihat menjiplak di baju.
Setelah merasa tidak seperih tadi, aku segera bangun dari tempat tidur dan memakai gamis yang longgar serta jilbab yang lebar.
Aku gak pakai beha, karena saat aku coba tadi susuku terasa sesak di dalam sehingga pentilnya tergesek dan terasa semakin perih, jadi aku putuskan tidak pakai beha saja dan mengakalinya menggunakan gamis dengan kain yang lumayan tebal.
Ketika tampilanku sudah enak dipandang, aku segera keluar kamar untuk melihat kegiatan di dapur, tempat ternyamanku.
Aku terbiasa masak di pagi hari, jadi hari ini pun aku ingin memasak untuk sarapan.
Sampai di ruang tamu, aku melihat banyak orang di luar rumah sedang membongkar tenda dan pelaminan yang aku pakai kemarin, ramai sekali.
Aku melanjutkan berjalan menuju dapur, ternyata keadaannya sama dengan di luar rumah, dapurku juga terlihat masih ramai oleh para tetangga yang membantu memasak kemarin, mereka sedang bersih-bersih sekarang.
Enaknya hidup di desa ya seperti ini, antar tetangga bisa saling bantu, kalau sedang ada acara apalagi mantenan mereka akan datang ke rumah si pemilik acara dan membantu dengan senang hati.
"Buk, aku mau bikin sarapan ya.
" Aku melihat ibuku yang sedang menata jajanan di piring, entah mungkin untuk orang di luar yang sedang bongkar tenda.
"Lho nduk kok sudah bangun?.
" Ibuku bertanya dengan heran.
Kok aneh, kan biasanya aku juga bangun jam segini buat bikin sarapan.
"Kok heran gitu Buk, aku kan tiap hari keluar kamar jam segini.
Ibuk mau dibikinin sarapan apa hari ini? Sekalian masak buat ibu-ibu itu nanti.
Belum pada sarapan kan?.
" Tanyaku, ini masih jam 7 dan aku yakin mereka belum sarapan.
Dengan senyum malu-malu menggoda, ibuku menjawab.
"Lha Pak Lurah dimana? Apa belum bangun? Udah, kamu itu masih nganten anyar, sana balik ke kamar aja.
Suaminya di tungguin sana, wong belum bangun kok malah di tinggal keluar.
" Jawaban ibuku sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaanku sebelumnya.
Kenapa malah bawa-bawa Pak Lurah? Aneh ih, lagian kalaupun Pak Lurah masih tidur, ngapain aku tungguin dia sampai bangun, kaya kurang kerjaan aja.
"Ibuk i lho jawabannya gak nyambung, lagian Pak Lurah udah bangun, udah dari masjid juga tadi.
" Aku menjawab dengan acuh, bukan bermaksud gak sopan, tapi kalau di ladeni ibuku akan semakin menjadi.
Aku tau maksud tersirat dari omongan ibuku, pasti tidak jauh-jauh dari kegiatan enak yang biasa dilakukan pasutri di malam pertama setelah menikah.
"Apa masak nasi goreng ya Bu? Ini nasi sisa kemarin masih banyak, nasinya pera juga, cocok buat nasi goreng.
" Aku mengalihkan pembicaraan berharap ibu berhenti menggodaku, kalau sampai terdengar oleh ibu-ibu tetangga, bisa habis aku di goda mereka juga.
Ini tidak enaknya tinggal di desa, kadang masalah pribadi pun digunakan sebagai pembicaraan.
"Itu sebenernya rawon dan soto sisa kemarin masih banyak nduk, tadi abis di angetin juga, masih enak kok.
Tadi Ibuk ya mau gorengin nasi buat mereka, tapi katanya gak usah, mau makan pakai rawon atau soto itu aja katanya.
" Ibu menjawab sambil meneruskan menata jajanan di piring.
"Yaudah kalo gitu aku bikin buat aku aja Buk.
Enek soalnya kalau pagi-pagi makan rawon, sudah bosen juga dari kemarin makan itu.
" Aku menjawab dan bergerak mengambil bumbu untuk membuat nasi goreng.
"Kok buat kamu aja? Buat Pak Lurah juga to, ingat ya nduk kamu itu sudah menikah, sekarang apa-apa harus berdua.
Utamakan suami.
" Nah lagi, dari sebelum aku menikah ibu selalu bilang seperti ini.
Aku sampai hafal dan bosan.
Kenapa harus selalu utamakan suami?.
Ini salah dua kekurangan tinggal di desa.
Budaya patriarkinya masih tinggi.
Dengan agak kesal aku menjawab.
"Iya iya ini Pak Lurah di buatin juga.
"Plakk"Aduh, apa to buk? Kok aku di pukul?.
" Aku spontan mengaduh ketika ibuku meneplak tanganku lumayan keras.
Sumber:Internet