. Pak Lurah yang juga suamiku itu akhirnya menegakkan tubuhnya setelah beberapa saat hanya tertawa dan mengabaikanku yang memberontak.
Matanya menatapku dan bibirnya menyunggingkan seringaian yang menyebalkan.
Tiba-tiba dia memegangi dan menurunkan kedua tanganku yang tadi berada di dadanya untuk menjauhkannya dari dadaku.
Tanpa aba-aba kepalanya kembali merunduk dan mengarahkan mulutnya ke area dadaku lalu secara cepat menyedot pentilku dari luar baju dengan kuat.
"Aaaaahhh.
" Aku spontan menjerit, antara kaget dan enak.
Ini pertama kalinya aku merasakan secara nyata ada orang yang menyedot pentilku.
Biasanya cuma mimpi.
Kepalaku menunduk melihatnya yang secara rakus menyedot-nyedot pentil kananku sampai bajuku nyeplak basah di area itu.
Mau memberontak tidak bisa, laki-laki itu memegangi tanganku kuat sekali.
"Massss… apa ini… uuuhh… lepaasssh.
" Aku hanya bisa menggerakkan badanku mencoba lepas dari kungkungannya tapi tidak bisa.
Ruang gerakku terbatas.
"Aaahhh.
" Aku menjerit lagi ketika Pak Lurah itu menarik kepalanya sampai putingku ikut tertarik kuat, ohh rasanya linu sekali.
Lalu dia spontan melepaskan pentilku sampai susuku yang terlepas dari mulutnya memantul-mantul.
Uhh pentilku kebas.
Akibat di sedot demikian rupa oleh Pak Lurah, sekarang pentil kananku terlihat lebih besar dan menonjol di bandingkan dengan yang kiri.
Kepala lurah mesum itu mendongak ke arahku, memperhatikanku yang masih ngos-ngosan akibat dari ulahnya, dengan senyum mesum yang menyebalkan.
"Mas pengen.
" Katanya.
Aku mengernyitkan dahi tidak paham dengan ucapannya.
Pengen apa dia.
"Kita sudah sepakat melanjutkan pernikahan ini kan?.
Jadi tugas pertama kamu adalah melayani mas.
Mas pengen ngewein kamu.
" Katanya frontal, suaranya pelan mendayu-dayu, merayuku.
Tangannya juga tidak bisa diam, yang kiri masih memegangi kedua tanganku dengan kuat, yang kanan digunakan untuk mengelus-elus pentil kananku yang di sedotnya tadi.
"Eemhh… tanganmu berhenti dulu mas.
Uhh jangan elus-elus.
" Kataku sambil mendesah tipis-tipis.
Tidak tahan, elusannya sih di pentil, tapi getarannya merambat sampai ke memek.
Memekku terasa gatal dan kedut-kedut sejak tadi.
Tapi tidak hanya itu, aku rasa memekku sudah banjir sekarang.
"Kenapa? Bukannya enak ya? Kamu sampai merem melek gitu.
" Balasnya mengabaikan permintaanku, tangannya masih aktif disana.
Jari telunjuknya memutari pentilku lalu menoel-noelnya.
Siapa yang tidak merem melek di perlakukan seperti ini.
"Eeenggh.
Nggak enak, sakit.
" Jawabku.
Tentu saja bohong.
Aku tidak mau secepat itu mengakuinya.
Harus tampak jual mahal dikit lah.
Aku tidak mau di cap murahan oleh si pak lurah itu kalau baru di sentuh dikit aja langsung luluh.
Walaupun iya, kita sudah sepakat memulai pernikahan ini.
Tapi maksudku ya harus pelan-pelan dulu gitu lho, mulai dari perkenalan dulu lah paling tidak.
Eh ini malah langsung di ajak ewean.
"Bohong banget.
Wajahmu aja kelihatan sange kok, kayak semalem.
" Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku lalu mengecup bibirku sekilas.
Aku melotot, bukan hanya karena di kecup bibirku tapi juga karena ucapannya.
Maksudnya apa ya?.
Semalem apa?.
"Masih belum ingat?.
" Tanyanya pelan.
Wajahnya belum menjauh sejak mengecupku tadi, masih begitu dekat di depan wajahku.
Aku yang memang tidak ingat hanya mengernyitkan dahi.
Lalu dia melanjutkan perkataannya.
"Mas yang bikin pentil adek lecet.
Tadi malem, mas kenyot-kenyot pentil kamu, mas gigit-gigit pake gigi, kamu keenakan.
Terus….
Kamu juga minta di sedotin memeknya.
Jadi mas sedotin memekmu pake lidah, mas sodok-sodok itilmu pakai jari sampai kamu muncrat….
Mas baru tau ternyata kamu gampang sange, terus bisa squirting juga ya.
" Bisiknya pelan menggoda.
Aku kaget mendengar pengakuannya.
Jadi semalam itu nyata, bukan mimpi ya?.
"Iiiiihhh, dasar Pak Lurah mesuuummmm.
" Aku menjerit kesal, menarik-narik tanganku supaya terlepas dari genggamannya.
Tapi percuma, yang ada aku malah kehabisan tenaga.
Aku menyorotnya dengan pandangan mataku yang tajam.
"Kamu pencuri mesum!!.
" Kataku ketus.
Tapi dia malah mengecup bibirku saja.
Sekali, dua kali, berkali-kali.
Aku menggerak-gerakkan kepalaku mencoba menghindarinya.
"Sudah dibilang kok, aku mesumnya cuma sama kamu aja dek, istriku.
" Jawabnya.
"Lagian, semalem itu aku nggak nyuri ya.
Kamu yang minta, aku cuma nurutin aja kok sebagai suami yang pengertian kepada istrinya.
" Tambahnya, pintar sekali dia bikin alesan, pantesan bisa jadi lurah.
"Ya tapi kan aku nggak sadarr, lagi tidurr.
Harusnya kamu nggak main gituin aja dong!!.
" Protes ku lagi, aku masih kesal.
Merasa dicurangi.
Pantas saja semalam itu rasanya mimpi yang seperti nyata, enaknya nyata, puasnya nyata.
"Nah, makanya sekarang mas minta ijin dulu kan.
Boleh ya… .
Semalem mas janji sama kamu lho, masih ingat nggak?.
" Tanyanya.
Mana aku ingat, orang rasanya kayak mimpi kok.
"Mas janji… .
Bakal sodok memek kamu pake kontol mas yang gede.
" Lanjutnya lagi berbisik sensual di telingaku.
Aku bergidik ketika dia juga meniup kupingku pelan.
Aku juga risih mendengar perkataannya yang frontal ketika menyebut itunya.
"Ihh mass, bisa nggak nyebutnya jangan frontal kayak gitu.
" Protesku sambil menatapnya kesal.
Wajahnya sudah menjauh dari kupingku.
"Loh, frontal apa?.
Bukannya bener ya namanya.
Ini namanya kontol.
" Katanya, tangan kanannya yang tadi dipakai untuk mengelus pentilku, sekarang bergerak untuk menyentuh kontolnya sendiri.
"Terus ini namanya memek.
" Lalu tangannya beralih menyentuh pelan memekku.
"Ini namanya susu.
" Lanjutnya membawa tangannya itu merambat dari memek ke perut, lalu ke atas lagi menangkup bagian bawah susuku yang tidak muat di tangannya dan meremasnya pelan.
"Dan ini… .
" Dia menjeda ucapannya, tangannya melepaskan susuku, lalu jari telunjuknya bergerak memutari pentil kananku.
"Namanya pentil.
" Katanya pelan sambil mencubit dan memelintir pentilku.
Sedangkan aku, mati-matian menahan desah keenakan yang sudah ada di ujung karena perlakuannya itu.
Gimana nggak keenakan, dari tadi digoda sedemikian rupa, pentil yang merupakan bagian paling sensitif di tubuhku di mainin dari tadi, di sedot, di elus, di pelintir.
Kalau nggak karena mempertahankan gengsi, kayaknya aku sudah mendesah-desah kelojotan minta lebih.
Dia kok pro sekali ya menggodaku seperti ini, curiga dia sudah pengalaman.
"Benerkan namanya itu?.
" Dia menaikkan pandangan matanya dari pentil untuk menatap mataku yang mungkin sudah sayu.
"Ihh nggak tauu!!!.
" Jawabku berusaha membuat suara ketus, tapi malah terdengar merengek manja.
Aduh pikiran dan tubuhku nggak bisa di ajak kompromi.
Menyebalkan.
Ya memang benar itu namanya, tapi kan ada juga penyebutan yang lebih halus.
Aku malu dan tambah sange saat mendengarnya menyebut bagian-bagian itu dengan frontal.
Walaupun aku juga menyebut seperti itu, tapikan hanya di dalam hati.
Kalau menyebut langsung, aku pasti cari kata penyebutan lain.
"Hahaha… udah nggak usah malu-malu.
Mas janji bikin kamu enak sampai ketagihan.
Mas mulai ya.
" Pak Lurah itu mengabaikan semua protesan dan rasa kesalku.
Dia hanya terkekeh pelan, selanjutnya setelah izin yang tidak sempat ku balas, bibirnya mulai menyasar bibirku, kali ini tidak hanya mengecup.
Dia memagut-magut bibirku rakus.
Yaa, akhirnya aku tidak kuat lagi menahan.
Pertahananku pecah, aku hanya bisa pasrah dan menikmati sekarang.
Sumber:Internet