. Aku merasa baru saja tertidur ketika tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut dan basah bermain di pentilku.
Aku menggeliatkan badan berharap sesuatu yang membuatku geli itu hilang, karena aku masih capek sekali dan ngantuk.
Tapi percuma, sesuatu itu semakin menjadi-jadi membuatku terpaksa membuka mata dan segera melihat apa yang sedang terjadi.
Hahh… kalian sudah bisa menebak kan?.
Benar, siapa lagi kalau bukan Pak Lurah mesum.
Apa dia belum puas ngewein aku tadi?.
Aku menatapnya yang sedang berada di atas tubuhku dengan jengah.
Dia juga menatapku dengan bibir yang masih mengulum pentilku disana.
"Maaasss… ngapain sih??.
Aku ngantuk banget lhoo.
" Aku merengek protes.
Hilang sudah rasa sungkan atau apapun itu.
"Hehe kamu bangun dek?.
Mas lagi nyusu.
" Jawabnya dengan muka sok polos, setelah melepaskan pentilku begitu saja.
"Belum puas yang tadi malem?.
Aku ngantuk lho maaas, masih capeeek.
" Aku merengek lagi, menampilkan wajah memelas.
Bukan aleman ya ini, aku beneran capek di gempur batangnya Pak Lurah yang….
ya kalian taulah gimana kondisi batangnya Pak Lurah.
Mana itu kali pertamaku kan.
"Oh… yaudah tidur aja dek.
Mas kan cuman nyusu, nggak ngajakin kamu ngewe.
" Jawabnya lagi.
Bener-bener deh Lurah satu ini, banyak banget jawabannya.
"Ya mana bisa atuh maaass…" Jawabku geregetan.
"Loh kenapa nggak bisa?.
" Balasnya, entah bener-bener heran atau cuma pura-pura heran, membuatku memutar bola mata dan berdecak kesal.
"Ohh…karena di kenyot pentilnya ya, kayak gini.
" Ucapnya santai setelah itu kembali mencaplok pentilku.
Aku terkesiap sampai memejamkan mata sebentar karena ulah mesum spontannya.
Aku kembali membuka mata dan menatap tajam ke arah Pak Lurah yang sedang bermain di dadaku.
Bukannya berhenti, dia malah seolah sengaja menggodaku.
Pentilku yang kiri dikelamutinya dengan bibir, sesekali lidahnya memutar menjilat.
Sedangkan yang kanan di pilin-pilin dengan tangan kirinya.
Tak mau ketinggalan, tangan kanannya ikut meremas-remas susuku yang sedang di emut pentilnya.
Mau tidak mau aku terbawa suasana.
Ya gimana nggak?.
Coba kalian bayangkan menjadi aku yang diperlakukan seperti itu.
Pasti lama-lama sange juga kan.
Aku mendesah pelan menikmati perlakuan Pak Lurah di susuku.
Tanganku bergerak merangkul kepalanya.
Menekannya dalam-dalam untuk merasakan gundukan daging yang empuk itu.
"Ganti emut yang kanan mas.
" Pintaku menyodorkan susu kananku.
Pak Lurah mendongak dengan senyum menyeringai, seolah berkata 'Aku menang, kamu keenakan.
' Tanpa menjawab dia beralih mengenyot pentil kananku.
Memperlakukannya sama dengan apa yang dia lakukan di pentil kiri tadi.
Kira-kira 10 menit kemudian akhirnya Pak Lurah melepaskan kenyotannya di pentilku.
Dia menariknya menggunakan bibir lalu melepasnya sampai berbunyi ploop.
Membuatku mendesah.
Dia beranjak dari atas tubuhku dan menggulingkan badannya ke samping.
Aku mengernyit menatapnya yang kini menopang kepala dengan tangan kirinya menghadap ke arahku.
'Udah, gini aja nih?.
Kentang banget' batinku.
Seolah paham dengan tatapanku Pak Lurah berkata.
"Hehe… sebenernya Mas belum puas.
Tapi Mas takut kebablasan.
Memekmu pasti sakitkan?.
Tadi Mas lihat warnanya merah-merah gitu… heee.
" Ucapnya sambil nyengir nggak berdosa.
Aku mendesah lega walaupun sebenarnya sedikit kesal juga karena udah kena tanggung banget.
Memekku memang sakit tapi tetap aja sekarang sudah basah akibat permainan Pak Lurah di susuku tadi.
Sumber:Internet