. Aku berjalan menghampiri ibuk yang sedang mengupas bawang, duduk di kursi meja makan.
Beliau menatapku dengan alis yang mengernyit dan seperti menahan tawa.
"Kenapa Buk?.
" Tanyaku sambil menggeret kursi untuk duduk di seberang ibukku.
Ibukku menoleh ke belakang, kanan dan kiri sebelum akhirnya menjawab dengan suara berbisik-bisik.
"Pak Lurah ganas ya?.
""Maksudnya?.
" Tanyaku heran, kok tiba-tiba Ibuk tanya keganasan Pak Lurah, maksudnya apa?.
Ibuk tidak langsung menjawab keherananku, tapi matanya tiba-tiba menatap bagian bawahku yang terhalang meja lalu kepalanya mengedik ke arah sana.
"Wes gak usah rahasia-rahasiaan kalo sama Ibuk.
Itumu, susah jalan kan?.
" Jawabnya santai masih dengan berbisik.
Aku yang baru paham kemana arah pembicaraan ini kaget menatap Ibuk dengan panik lalu menyentak pelan.
"Ibuukk.
" Kataku panik, kepalaku menoleh ke segala arah memastikan tidak ada orang disana.
Ibuk lalu ketawa ngakak.
"Apa to Buk, ra ilok.
" Kataku lagi.
Ya maaf nih, aku memang berkata mesum dan kotor waktu di kamar bersama suami, tapi kalau dengan orang lain meskipun ibuku sendiri, tetap saja malu.
"Hahaha… ibuk dulu juga gitu.
Bapakmu ganas, itunya gede.
Pagi-pagi habis gituan, ibuk jalannya ngangkang karena masih ngganjel rasanya.
" Curhat ibuku dengan santai.
Aduh ibuk ini, kenapa bisa sesantai itu membicarakan masalah ranjang dengan anaknya sih.
Tapi sebenarnya yang dibicarakan ibuk sama persis dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Aku harus jalan pelan-pelan dan sedikit ngangkang gara-gara Pak Lurah.
Tadi pagi saat mau bangun pagi, aku baru merasakan kalau memekku sakit luar biasa.
Akhirnya dibantu Pak Lurah yang mesum itu buat ngecek kondisi memekku.
Ya, ternyata tidak hanya merah-merah, tapi setelah di obok-obok lagi sama Pak Lurah tadi pagi, memekku lecet.
Aku sempet marah dan kesel, tapi ternyata Pak Lurah sudah sedia obat lecet buat memekku, beli bareng obat lecet buat pentilku kemarin.
Jadinya marah dan keselku sedikit mereda karena dia bantu aku buat mandi dan ngolesin obat itu di bawah sana.
Yang membuatku sekarang harus jalan kayak penguin adalah karena selain lecet bener juga kata ibuk, rasanya memekku kayak masih di sumpel sama kontol jumbonya Pak Lurah.
Aduh kalau inget semalem, memekku jadi kedutan lagi.
Ditambah sekarang aku nggak pakai celana dalam di balik gamisku karena sakit kalau kegesek, jadi rasanya agak semriwing.
"Ibuukk, kok bisa-bisane ngomong gitu sama aku.
" Jawabku lagi, sembari tanganku ikut mengupas bawang yang ada di meja.
Sekarang masih pagi belum ada jam 6, tapi memang sudah kebiasaan kami bangun pagi lalu siap-siap untuk bikin sarapan.
"Halah wong gitu aja kok, sama kamu ini.
Kamu juga sudah pengalaman kan.
" Jawab ibukku acuh dan fokus mengupas bawang.
"Pengalaman opo?.
" Balasku lagi.
"Ibuk ngerti yoo.
Semalem itu suara jeritanmu sampek ke kamar ibuk kok.
"Aku melotot kaget mendengar balasan ibuk.
"Haaah… ih ibuk.
Bapak denger juga?.
" Tanyaku panik.
"Yo denger, wong Ibuk sama Bapak masih ngobrol-ngobrol kok semalem itu.
""Aaaak… maluu.
" Jawabku sambil menutup muka menggunakan kedua tangan.
Ternyata gini rasanya jadi pengantin baru yang malam pertamaan di rumah.
Jadi bahan ledekan.
Semoga aja bapak nggak kayak ibuk.
Sumber:Internet