. Happy Reading guyss!! ...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐Setelah selesai menangis selama kurang lebih satu jam, Luna kemudian tertidur karena lelah.
Max datang menghampirinya dan memeriksa kondisi Luna, ia juga menghapus jejak air mata di pipinya.
'Bagaimana caraku mengatakan tentang kondisi rahimnya? Aku tak tega melihatnya lebih terpuruk dari ini.
' pikir Max.
Max mengelus rambut Luna berharap Luna nyaman dan tidur dengan nyenyak.
Flashback "Dokter bisakah saya memberitahu tentang pengangkatan rahim ini setelah kondisinya mulai membaik? Istriku tengah terpukul karena kehilangan anak kami.
Aku tak ingin ia semakin sedih.
" Ucap Max.
"Baiklah tuan, saya mengerti kondisinya.
Anda bisa mengatakannya saat kondisi nyonya sudah stabil.
" Ucap dokter......-Keesokan harinya-Luna terbangun dan melihat Max disampingnya tengah membaca beberapa berkas, saking seriusnya Max tak menyadari Luna telah sadar dan memperhatikannya.
"Max.
" Panggil Luna serak.
"L-...Luna.
" ucap Max terkejut, ia bahkan sampai menjatuhkan berkasnya.
"Haus.
" Ucap Luna.
"Baiklah, tunggu sebentar.
" Ucap Max beranjak menuangkan air minum ke gelas.
Luna pun minum dibantu oleh Max untuk duduk.
Masih dalam posisi duduk Luna mengajak Max untuk berbicara.
"Sudah berapa lama sejak aku tak sadarkan diri?" Tanya Luna.
"Sekarang sudah satu minggu sejak kejadian itu.
" Ucap Max.
"Aku-.... Aku minta maaf.
Karena aku, anak ki Ucap Luna sambil mengepalkan tangannya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa yang kau katakan? Harusnya aku yang mengucapkan kata-kata itu.
Tapi aku sadar maaf saja tak cukup bukan? Apa yang kau inginkan? Aku akan-..." Ucap Max.
"Jika kau ada di depanku sekarang, apakah keluargamu juga baik-baik saja?" Tanya Luna memotong ucapan Max.
"Ya... Kami baik-baik saja berkat dirimu-....." Ucap Max.
"Terima kasih.
" Lanjutnya.
"Jadi peledak itu sungguh nyata?" Tanya Luna.
"Ya... Itu peledak sungguhan.
" Balas Max.
Mendengar itu air mata Luna terjatuh.
Sungguh kejam, ia benar-benar dipaksa menjadi seorang pembunuh.
Jika ia salah langkah maka keluarga Anderson pasti sudah tiada.
Max mengusap air mata Luna dengan hati-hati.
"Aku akan menyelidikinya dan memastikan semua orang yang terlibat akan tertangkap.
" Ucap Max.
"Seorang wanita.
" Ucap Luna.
"Hm?" Tanya Max.
"Aku ingat di beri minuman yang sangat pahit oleh seorang wanita, setelah itu perutku sangat sakit dan aku tak sadarkan diri, mungkin-..." Ucap Luna menarik nafasnya yang sesak.
"Mungkin saat itulah aku kehilangan anak kita.
" Ucap Luna, saat ia menutup mata ia seperti mengingat jelas kejadian itu.
"Saat i A...ku... A... Ugh.. hah.. hah.. hah.
" Luna tak bisa melanjutkan kata-katanya karena seluruh tangannya gemetar hebat dan nafasnya mulai sesak.
"Luna!" Ucap Max khawatir, Max langsung berdiri dan memeluk Luna yang terlihat sangat ketakutan, ia sangat tidak asing dengan respon Luna sekarang.
Jelas Luna mengalami trauma.
Sumber:Internet