. Seorang gadis belia keluar dari dalam Mamuro Plaza.
Malam itu, suasana di depan pusat perbelanjaan itu masih sangat ramai.
Meskipun plaza sudah tutup, tapi masih banyak orang berlalu lalang menuju diskotik di lantai atas Mamuro Plaza.
Begitu pun dengan banyaknya wanita-wanita penghibur yang menjajakan diri di sekitar jalan masuk menuju diskotik.
Gadis belia itu kemudian melangkah menuju ke sisi lain Mamuro Plaza.
Meski tetap sama ramainya, tapi jauh dari asap rokok yang mengepul dari mulut wanita-wanita penghibur itu.
Matanya beberapa kali melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Huh, lama sekali!" Sungutnya dalam hati.
Nampaknya gadis itu sedang menunggu seseorang.
Dari jarak beberapa meter, di dalam sebuah mobil seorang lelaki separuh baya nampak memperhatikan gadis belia itu.
Seperti menemukan sesuatu, perlahan lelaki itu melajukan kendaraannya mendekati sang gadis.
Mobil itu berhenti tepat di depan gadis belia itu yang berdiri di tepi jalan.
"Hai, maaf.
Bisakah kau memberi tahu aku jalan menuju Mamuro Hall?" Lelaki itu bertanya kepada sang gadis.
Gadis belia itu menatap sekilas seolah tak peduli.
Tapi matanya membelalak saat melihat mobil yang dikendarai lelaki itu.
"Wah, BMW" gumam gadis itu nampak kagum.
"Ehm, Mamuro Hall?" Sahut sang gadis menegaskan.
Lelaki bermobil mewah itu tersenyum seraya mengangguk.
"Eh, anda berlawanan arah" kata gadis belia itu lalu perlahan mendekat.
Lelaki itu nampak menunjukkan selembar peta sambil menunjuk suatu tempat.
"Aku bingung.
Jalannya seperti ini bukan?" Lelaki itu bertanya lagi sambil menunjukkan petanya.
Gadis itu mendekat lalu ikut melihat ke peta di tangan lelaki bermobil.
"Bukan, harusnya anda lewat jalan Reiji" tunjuk sang gadis di peta.
Karena kepolosan gadis itu dan perhatiannya sedang tertuju ke arah peta, dia tidak menyadari bahwa lelaki yang tengah dibantunya itu menyeringai.
Dengan gerakan cepat, tangan lelaki itu mencengkeram kerah baju sang gadis belia lalu menariknya ke dalam mobil.
"Akhhhh Gadis belia itu berteriak kaget.
Tapi sebelum gadis belia itu menyadari keadaannya, lelaki itu segera memacu mobilnya.
Tak lama kemudian, dari dalam Mamuro Plaza yang sudah tutup, keluar beberapa orang wanita muda yang nampaknya adalah pegawai di pusat perbelanjaan itu.
Nampak seorang wanita mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.
"Yuki..!" Teriak wanita itu sambil terus mengawasi sekitarnya.
"Yuki...!" Teriaknya lagi.
Langkahnya tertuju ke tempat dimana tadi berdiri gadis belia tadi.
Wanita itu sejenak terdiam.
Matanya membelalak melihat sehelai syal berwarna biru muda yang tergeletak di tepi jalan.
Setengah berlari, wanita itu lalu memungut syal itu.
Diperhatikan dengan teliti hingga dia yakin bahwa syal bitu muda itu adalah milik Yuki, adiknya yang disuruh menunggunya diluar.
"Yuki... Yuki...!!" Wanita itu kembali berteriak kebingungan karena tidak menemukan adiknya disana.
*David Valley sedang menyantap makan siangnya saat bel berbunyi disertai pintu kamar apartemennya diketuk dari luar.
Dengan menahan kesal karena makannya terganggu, David melangkah membuka pintu.
"Tumben kau tidak keluar? Atau sedang bercinta dengan wanita lagi?" Tanya Kirk Johnson di depan pintu kamar David yang terbuka.
Matanya melongok ke dalam kamar memperhatikan isi kamar.
"Uang dari mana buat bayar wanita? Sudah hampir sebulan ini kita tidak mendapat job!" Sahut David bersungut-sungut.
Kirk hanya terkekeh mendengar keluhan David.
"Masuklah" David mempersilahkan Kirk masuk ke kamarnya.
Kirk melangkah masuk sambil membuka jubah panjangnya.
Digantungkannya jubah itu di dinding dekat pintu, lalu dia duduk di kursi tanpa menunggu diperintah oleh David.
Setelah menutup pintu David bergegas menghabiskan makan siangnya yang sempat tertunda.
"Dave, apa kau sudah mendengar berita tentang penculikan dan pembunuhan gadis-gadis belasan tahun di distrik Mamuro?" Kirk mulai bertanya saat David selesai dengan makan siangnya.
David yang baru saja minum tidak langsung menjawab.
Tangannya mengambil rokok di meja TV lalu menyalakan sebatang.
"Maniak yang mengejar gadis-gadis remaja yang suka masih berkeliaran di malam hari, ya?" Ujar David sambil menghembuskan asap rokok.
"Dan biasanya korbannya akan ditemukan tergeletak mati keesokan harinya?" Sambung David.
"Seperti habis manis sepah dibuang, kan" tambah Kirk seraya melepaskan kacamatanya.
David menatap Kirk yang sedang mengelap kacamatanya, menunggu ucapan selanjutnya dari Kirk.
"Salah satu korbannya bernama Yuki Sambro, seorang anak SMA" Kirk kembali melanjutkan ucapannya.
" Sayang, anak semuda itu masa depannya masih panjang" gumam David menerawang.
"David, cobalah lebih serius sedikit!" Balas Kirk yang sepertinya menduga pikiran mesum dibalik ucapan David.
"Aku selalu serius.
Apa kau pikir aku tidak sedang serius?!" Sahut David lalu menghembuskan asap rokoknya ke wajah Kirk sambil menatapnya tajam.
Kirk terdiam sesaat kemudian terkekeh.
"Aku tahu isi otakmu jika bersangkutan dengan gadis muda.
Ujar Kirk masih terkekeh.
David menyeringai kecil tapi akhirnya ikut tertawa mendengar ucapan dari mulut sahabatnya itu.
"Klien kita kali ini adalah kakak perempuan korban.
Namanya Linda Sambro" lanjut Kirk cepat.
"Jadi target kita pastinya maniak itu, kan?" Sahut David.
"Aku juga berharap orang seperti itu cepat-cepat ditangkap polisi" kata Kirk lalu memakai kacamatanya lagi.
"Aku punya perasaan senasib dengan klien kita kali ini" sambung Kirk sambil mendengus gelisah.
David terperangah mendengar ucapan Kirk.
Di condongkan kepalanya ke depan wajah Kirk dan menatapnya tajam.
"Apa?! Pacarmu juga dikerjai? Perempuan yang mana?" Tanya David memastikan kepada Kirk.
Kirk menggeleng pelan.
"Bukan, ini soal adikku.
Seandainya dia bernasib seperti i Kalau berpikir kesana, aku... Aku..." Kirk menundukkan kepala tak mampu meneruskan kalimatnya.
David menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi.
"Aku menger Aku mengerti Ujar David kemudian.
Bagaimanapun David tahu perasaan Kirk sebagai kakak yang memiliki adik perempuan remaja, karena saat itu sedang marak kejadian penculikan dan pembunuhan gadis-gadis muda.
"Kalau begitu cepat suruh klien kita untuk menemuiku di Kurio Night Club..." Sambung David.
"Kurio Night Club?" Tanya Kirk dengan mata terbelalak.
"Kau mau dia datang ke tempat seperti itu?" Lanjut Kirk seolah tak percaya dengan tawaran David.
"Justru di tempat seperti itulah jejak si maniak bisa kita ketahui" sahut David mantap.
Kirk menghembuskan nafas berat.
Pikirannya melayang membayangkan tempat yang diajukan oleh David.
Kurio Night Club adalah lokasi yang bisa dikatakan adalah tempat berkumpulnya para bandit.
Dari pencopet, perampok hingga penjual obat-obatan terlarang.
Memang tak salah jika David akan mulai mencari di tempat itu, pikir Kirk.
Tapi yang tak bisa dia mengerti, bagaimana cara dia meyakinkan klien untuk datang ke tempat itu.
*
Sumber:Internet