. Arjuna POV"Mari pulang ... marilah pulang ... marilah pulang ... bersama-sama.
Mari pulang ... marilah pulang ... marilah pulang ... bersama-sama.
""Belanda sudah mati Indonesia merdeka, tanah airku tidak ku lupakan ... kan kukenang selama hidupku ... walau pun engkau ... pergi jauh ....."Dor-dor ...!"Tiarap ...!" seru suara dari komando yang berada di depan.
Di kala itu, aku sedang berada di barisan paling belakang.
Tertinggal dari kawanan yang sedang beregerak ke arah depan.
Pasalnya, beberapa tembakan dan bom datang dengan sangat banyak.
Membuat suasana di sekitar hutan sangatlah gelap tertutup asap.
Kemudian aku berlindung di balik pohon yang berukuran sangat besar, sambil menatap sekitaran.
Kami pikir setelah banyaknya para kawanan dari pemberontak yang tewas di kilometer 0, wilayah ini sudah aman.
Namun, malah sebaliknya.
Aku menarik napas panjang karena sudah kehabisan pluru dan senapan pun tak ada gunanya lagi.
Yang tersisa hanyalah pisau dan beberapa benda-benda lainnya di dalam kantong.
Para sahabat telah bubar entah ke mana, membuat aku sangat bingung hendak berjalan ke arah mana.
Di depan sangat penuh kabut asap, terlihat begitu sangat tebal menutup jalanan.
Kemudian aku pun beralih dan hendak berjalan menelusuri kabut tersebut.
Langkah kakiku menjadi sangat gontai, terseok karena tak melihat arah depan.
Kedua mata ini hanya bisa membayangkan kalau sampai di depan ada pemberontak, maka mereka akan menghabisi nyawaku dalam sekejap.
Padahal mereka sudah pastikan kalau para mafia telah pergi dari kawasan itu.
Akan tetapi malah ada lagi suara bom dan tembakan.
Dengan sangat lambat, akhirnya aku pun berjalan memegang pepohonan.
Suara para sahabat menghilang dan tak ada satu pun dapat memberikan aba-aba.
Kemudian suara tembakan kembali terdengar sampai membuat aku terduduk di bawah pohon.
Bukan karena takut, akan tetapi misi yang diberikan kali ini sangat berbeda dari biasanya.
Para pemberontak yang di kabarkan membuat masyarakat resah telah memasuki wilayah tengah dari hutan.
Aku pun tak tahu hendak pergi ke mana.
Ponsel tidak ada, bahkan kompas sebagai menunjuk arah mata angin pun tak punya.
Kekesalan ini datang dengan sendirinya, karena aku tak tahu harus berbuat apa.
Tak berapa lama, hujan pun turun di sekitar hutan.
Air membasahi badan ini dan dingin pun datang.
Perlahan kabut bekas dari bom menghilang dengan sendirinya, dan area depan pun terlihat jelas.
Akan tetapi sangat licin sampai aku harus melepas sepatu.
Dengan memegang kedua sepatu itu, aku pun berjalan lagi ke depan.
Yang membuat heran adalah, para sahabat yang berjumlah banyak tidak ada satu pun yang bersuara.
Padahal mereka baru saja bernyanyi lagu kemenangan.
Di sepanjang perjalanan, aku pun melihat sebuah pohon pisang yang terdapat di pinggir sungai.
Untuk menutup badan ini dari basahnya air hujan, kemudian aku berniat hendak turun ke pinggir dan mengambilnya.
Namun, belum pun sempat turun, kaki selebah kiriku tersandung akar dari pohon hutan dan membuat badan ini terjatuh ke sebuah sungai.
Blug-byur !!!Aku tidak dapat menahan derasnya aliran sungai, karena sangat ganas dan berkali-kali melipat badan ini.
Pandangan mulai kabur, aku pun terempas dan sampai kenyang minum air.
Dalam hati ini selalu berkata, kalau aku akan kehilangan nyawa dan tak akan selamat.
Kedua kakiku tak mampu bertahan lagi, kedua tangan ini juga merasa sangat kram dan akhirnya aku tak dapat melihat wilayah permukaan sungai.
Arus yang sangat deras itu begitu membuat badan terasa remuk, serta libasan dari air juga menghantam wajahku ke akar pepohonan di pinggir sungai.
Dalam sekelebat penglihatan, dunia menghilang dari pandangan dan aku hanya bisa terdiam di dalam sungai.
Ikan-ikan bahkan menertawakan aku, yang tak mampu berbuat apa pun selain hanya berangan-angan hendak kembali pulang.
***Namaku adalah Arjuna Andi Kusumanegara Saragih, lahir di Medan, tahun 2002.
Saat ini aku berusia dua puluh dua tahun.
Dan sekarang aku sudah bergabung di angkatan darat sejak beberapa bulan di nyatakan lulus oleh hasil yang memukau.
Aku terlahir dari orang tua yang berbeda negara, ayah bersuku Batak dan Ibu bersuku Jawa.
Aku adalah lulusan terbaik, terlebih lagi kalau prestasiku dalam menjalani pelatihan menjadi sorotan para petinggi dan Jendral yang terlibat kala itu.
Ini adalah tugas pertamaku, bergeriliya di hutan dan kami berjumlah banyak sekitar seratus lebih dari cabang Bintara.
Baik lulusan Kopassus, Infantri, dan lainnya terjun untuk mengusir para pemberintak wilayah kilometer 0.
Dengan tugas yang di berikan ini, aku berharap dapat menyelesaikan semua tantangan.
Namun, tidak tahu ke depannya seperti apa.
Satu hal yang pasti, kalau aku sudah di didik keras untuk menjadi militer yang siap tempur demi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Kisah ini berawal ketika aku sedang berada di sebuah asramah yang sangat khas dengan warna hijau, banyak para tentara berlarian menuju ke lapangan karena mendengar suara serunai.
Aku pun segera memakai seragam dan perlengkapan lainnya.
Kami bergegas menuju ke loby depan seraya mengambil senjata satu persatu, bebas dan sembarang asal dapat mengambil senjata tersebut.
Kemudian kami bergerak langsung ke arah komando, terdapat di tengah lapangan hijau dengan ukuran rumput yang pendek.
Seluruh prajurit dari berbagai lulusan ada di sini, karena tahun ini prekrutan prajurit paling banyak sepanjang masa.
Dan aku adalah salah satunya yang lulus, berangkat dari kampun dengan harapan dapat mengembangkan karir bersama para senior dan prajurit seangkatan.
Untuk saat ini, aku belum punya satu pun sahabat.
Apalagi aku juga terbilang anak yang sangat introvert, dan tidak terlalu suka berkumpul-kumpul pada siapa pun.
Sehingga, orang-orang belum belum tahu namaku kalau tak membaca bordiran dari seragam loreng ini.
Kami yang sedang di komado oleh seorang komandan bernamaโSatria dan Ferdi, mereka tengah berkeliling patroli.
Pasalnya, mereka hanya mencari-cari kesalahan kepada prajurit yang salah memakai kostum atau tidak lengkap saat berada di lapangan ini.
Aku yakin, kalau apa yang sudah kulakukan semuanya sesuai dengan perintah.
Serta senapan juga aku letakkan di tangan, sejajar dengan bahu.
Baret hijau menghiasi kepalaku, sebagai pertanda lulusan infantri handal untuk masa depan.
Lirikan mata kedua komandan itu mengarah ke wajahku, setelah mereka bergeming sekian menit.
Wajah ini penuh dengan keringat, karena belum mandi dan baru saja menyelesaikan pelatihan sore bersama yang lainnya.
Ada tatapan berbeda dari Komandan Satria, dia menyentuh daguku dan seperti orang remeh ketika melihat bawahan.
Itu hal biasa dalam kesatuan, kami dilarang baper atau bawa perasaan.
Apa pun yang dilakukan oleh senior adalah benar, dan kesalahan ada pada junior.
Aku pun memandang wajahnya sangat berani, tanpa berkata sedikit pun.
Kemudian, Komandan Ferdi menyuruh beberapa prajurit untuk maju ke depan.
"Kamu gak pakai topi, maju ke depan!" pekiknya dengan melayangkan sepatunya di badan prajurit itu.
"Kamu, maju.
Mana sepatumu! Ini bukan pasar pagi, jadi kau harus pakai sepatu!" bentaknya lagi.
Bersambung ...
Sumber:Internet