Gelap

Gairah Sersan Ku 11

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Gairah Sersan Ku 11

. Perdebatan kali ini tak ada yang memenangkannya, karena aku hanya fokus pada visi dan misi dari komandan dan tidak mau menjerumuskan siapa pun anggotanya.
Kami adalah angkatan yang sama, dengan tujuan yang sama agar kemerdekaan di negara ini merata tanpa adanya campur tangan lagi dari pihak mana pun.
Di sepanjang perjalanan, aku tidak henti-hentinya menatap kompas.
Sang waktu beranjak pergi dan menyingsing, akan tetapi kami belum juga mendapatkan titik terang tentang target yang akan kami cari.
Sekarang kami hanya lima orang, mereka semua tampak sangat lelah dan termasuk aku.
Langkah kaki kami kian gontai, lalu aku pun merasa hendak istirahat sejenak.
Tepat di bawah pohon dewandaru, yang berukuran sangat besar dan daunnya lebat.
Katanya pohon ini adalah pohon keramat, dan belum ada yang tahu pasti akan kebenarannya.
Namun, aku percaya karena sudah berkali-kali menjumpai pohon tersebut ketika berlatih di pendidikan ketika masuk AKMIL.
Kemudian kami mendudukkan diri di atas bumi, semuanya sedang merebahkan sayap karena merasa sangat lelah.
Tanpa ada ponsel yang kami bawa, kemungkinan pun tak akan berfungsi di hutan ini.
Jangankan jaringan ponsel, sekadar HT saja terganggu karena anginnya yang sangat tidak stabil.
Lalu, aku pun beranjak dari tempat duduk semula dan meninggalkan keempat sahabat.
Mereka tampak sangat lelah dan letih, kemudian aku berjalan ke arah pepohonan bambu.
Tampak dari depan, kalau ada hewan burung yang melintas.
Kalau di kampungku, burung itu dapat di makan dan dia bakar.
Kemudian aku berjalan mengendap-endap seraya menantikan momen pas.
Wajah kami sudah berwarna loreng, layaknya semak-semak yang menyatu pada dedaunan rumput.
Aku pun tiarap, dan memerhatikan dari kejauhan.
Tak berapa lama, burung itu mendekat dan dengan cepat aku menyergapnya begitu saja.
Brug!"Kenapa kau ... aku udah lama gak makan burung seperti ini.
Kalau di bakar sepertinya enak ini," kataku sediki semringah.
Tak berapa lama, datang lagi beberapa burung yang sama.
Warna yang sama, dan ukuran sedikit berbeda.
Aku pun kembali bersiap hendak mengangkap hewan itu, dengan gaya tiarap dan memerhatikan dari jarak tertentu.
Ketika dia lewat, kembali tertangkap dan aku mendapatkan beberapa ekor.
Untuk menu makan malam bersama para sahabat, ini adalah hal yang harus kami lakukan di hutan.
Meskipun tanpa makanan, kami di tuntut agar bisa tetap kenyang dan segar kembali ketika bertugas.
Tidak ada kata lemah dalam dunia kami, militer itu harus kuat dan aku pun akhirnya bergerak menuju ke arah para sahabat yang sedang kelelahan di sana.
Mereka tercengang setelah melihat aku datang.
Pasalnya, Dika pun melirik ke arah burung itu.
"Juna, dari mana kau mendapatkan burung itu?" tanyanya sangat penasaran.
"Aku menangkap di sana, tepat di bawah pohon bambu.
Dan ini adalah menu makan malam kita, apakah kalian enggak lapar?" tanyaku sangat penasaran.
"Ya ... lapar, sih, tapi aku gak mau makan burung.
Pasti rasanya gak enak, kelihatan dari gayanya," pungkas Dika menolak.
"Hmm ... berhenti manja, di sini gak ada makanan lain.
Emang kamu mau makan daging tikus?" Kali ini aku menawarkan padanya.
"Kalau mau aku akan carikan," lanjutku dengan wajah penuh kemenangan.
"Ogah, emang aku elang makan tikus?" jawab Dika lagi, dia pun berdiri dan melepas topinya.
Kemudian yang lainnya juga berdiri, aku mengikat kaki burung itu dan meletakkannya di atas rerumputan.
Kemudian kami berjalan ke pinggir hutan ketika aku mencari burung itu, ternyata benar kalau di pinggir pohon bambu adalah sungai.
Anak sungai yang sangat jernih, dan tidak deras alirannya.
Kami yang kala itu menatap, begitu riang.
Bagaimana tidak, air di dalam tas kami sudah habis, ini adalah berkah bagi kami yang sedang kehausan.
Sementara rambut juga sudah kering, butuh penyegaran juga.
Aku pun menuruni lereng menuju sungai itu, dan Reza pun mendelik melihat aku.

Sumber:Internet