. Setelah tiba di tempat semula, aku pun mendudukkan badan.
Di atas bumi semesta saat bulan sedang menyingsing perlahan, suara burung hantu terdengar memaski telinga.
Lamat-lamat kami menutup mata dan menarik napas panjang.
Pasalnya, ini adalah pertama kalinya kami berada di hutan dalam waktu malam hari.
Pernah kami ketika pelantikan, akan tetapi pulang di malam itu juga.
Dengan bermalam di hutan ini, harapanku hanya satu agar kami baik-baik saja tanpa ada hewan buas yang datang.
Kalau sampai hewan buas datang, otomatis akan membuat kami kewalahan jika malam hari.
Beberapa menit menjelang tidur sangat biasa saja dan aku pun nyaman.
Suasana dingin mencekam, diri ini hanya memakai baju satu lapis bersama yang lainnya.
Sementara Dika dan Reza seperti orang yang sedang memgantuk berat tanpa ada ucapan sama sekali.
Berbeda ketika di dalam asrama, kalau mereka selalu mengigau satu sama lain.
Dalam keheningan malam, aku pun sukar menutup mata karena di sini terdengar suara-suara tak wajar.
Sambil membaca surah-surah pendek dalam hati, aku pun di tuntut untuk bisa tetap waspada ketika sedang tidur.
Beberapa menit telah berlalu, aku membuka mata dan suasana masih sangat gelap.
Kemudian muncul pula sebuah percikan embun, sudah pasti akan menjelang tengah malam.
Kemudian aku meletakkan kayu bakar kembali agar tetap menyala dan hangat.
Karena para anggota sepertinya sudah sangat kedinginan.
Biarlah aku yang menjaga malam, tidak tidur pulas agar mereka baik-baik saja.
Kali ini udara pun menjadi sangat hangat, karena bebakaran kami telah menyala lagi beberapa menot setelahnya.
Tanpa selimut, dan tak ada nyamuk karena asap dari kayu basah itu mampu menggusir hewan penghisap tersebut.
Ketika menatap sebuah api yang menyala, aku pun mendengar kembali sebuah suara yang datang dari posisi pohon bambu.
Pasalnya, pepohonan itu terdapat di pinggir sungai.
Yang membuat diri ini merasa aneh bukan sekadar suaranya saja, akan tetapi lebih kepada kemistri yang begitu membuat merinding tengkuk.
Pundak ini terasa sangat berat, batin pun merasa seperti sedang ada yang memerhatikan.
Aku pun tetap santai dalam hal ini, membiarkan diri untuk tetap membakar sampah.
Daun kelor yang aku dapatkan di tengah hutan masih ada, kemudian aku pun membakarnya.
Konon, daun ini dapat membuat suasana menjadi sangat membaik dari gangguan makhluk gaib.
Apaladi tengah hutan, sudah pasti ada yang namanya makhluk halus.
Beberapa menit menatap api, aku pun hendak membuang air kecil.
Namun, tak ada pohon berukuran besar.
Dengan mau tak mau, akhirnya aku membangkitkan badan dan meninggalkan para sahabat sejenak.
Karena aku tak mau kalau buang air di sini akan membuat bau atau apa pun.
Seraya membangkitkan diri, kemudian aku berjalan menuju ke wilayah yang lumayan gelap.
Setibanya di pohon itu, aku pun membuka resleting dan tak lupa untuk membaca doa.
Setelah selesai, kemudian aku merasa seperti ada bayangan hitam yang melintas di belakang.
Kemudian aku menoleh, dan memerhatikan siapa yang lewat itu.
Namun, di sana tidak ada siapa pun.
Lalu, aku pun menarik napas panjang karena di belakang badan seperti ada lagi yang memerhatikan.
Seraya menelan ludah, aku pun memutar secara spontan.
Ternyata tidak ada, ini adalah halusinasiku saja.
Tanoa rasa takut, kemudian aku berjalan kembali menemui para sahabat.
Di sepanjang jalan, langkah ini terasa sangat berat.
Apalagi sampai menyibak beberapa rumput, dan seolah membuat aku tak kuat lagi kalau sampai menemui para sahabat berlama-lama.
Kini tibalah aku di tempat semula, tak ada yang ganjil atau bekas tapak seseorang.
Karena kami hanya berlima dan sudah pasti aku paham siapa saja yang ada du sini, akan tetapi ketika aku hendak merebahkan kedua sayap.
Mata ini menuju ke arah samping kanan dan kiri, pasalnya ada yang aneh dalam jumlah kali ini.
Aku pun serius menatap lagi.
Dalam hati diri ini menghitung sahabat yang ada di atas tanah, dengan memahami satu persatu.
Karena seperti ada yang tak ada di dalam lingkaran kami.
'Ini Reza, Dika, Johan ... dan ... Rizki ke mana, ya? Apakah dia buang air juga atau gimana? Kok, anak itu gak ada?' tanyaku secara bertubi-tubi dalam hati.
Sumber:Internet