. Kemudian aku menutup mulut Dika dengan menggunakan tangan kanan, karena suaranya terlalu keras dan akan membuat orang-orang yang ada di arah sejurus menjadi sangat curiga.
Mereka pun melihat ke arah kami, kemudian kami pun tiarap dan tak berani menatap lagi.
Para sahabat yang saat ini mengikuti pergerakanku, kemudian kami pun menunggu momen yang pas.
Akan tetapi, sejak kami berada di sini tak ada melihat Rizki sedang berada di sana.
Karena orang-orangnya sangat sukar di tebak berada di mana, kemudian kami pun bergerak ke arah depan dan berjalan sangat perlahan.
Sambil menenteng senapan laras panjang, satu persatu dari kami berjalan menuju ke sebuah markas yang sangat remang itu.
Dengan berjalan sangat mengendap-endap, kami membentuk dua tim.
Dari sebelah kanan ada Johan dan Dika, sementara di sebelah kiri ada aku dan Reza.
Untuk mengecoh lawan, kami pun terpaksa membentuk dua tim agar terlihat sangat penuh strategi.
Kali ini langkah kami mulai mendekati wilayah tersebut, dan ternyata di sana ada ruangan bawah tanah yang baru kali ini kami lihat.
Pasalnya, aku pun bergeming di sebelah kiri dan langsung menaikkan tangan agar memberikan aba-aba pada sahabatkuโReza, karena suasana di dalam persembunyian tersebut tak terlihat ada siapa pun.
Lalu, kami masuk berdua dan berjalan sangat lambat.
Setibanya di dalam sana, barulah kami melihat dua orang yang menjaga.
Senapan yang saat inj sudah siap siaga, kami langsung melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban.
Aku pun memegang sebuah pistol, karena tak terlalu mahir menggunakan sebuah senapan.
Walau pun sudah latihan, pistol lebih simple dan ringkas.
Lalu, secara bersamaan kami menyiapkan pluru dan dalam aba-aba ketiga kami akan melayangkan pluru itu.
Dengan menaikkan jari ke udara, Reza pun melirik aku.
Satu ... dua ... tiga ...Dor-dor-dor!Mereka terkapar di atas bumi, kemudian kami segera memasuki ruangan persembunyian yang di jaga oleh kedua orang itu.
Kemudian aku dan Reza pun berjalan ke sebuah sel tahanan yang ada di sana, ternyata di sana ada seseorang yang membuat kami tercengang.
Ya, dia adalah Rizki dan satu lagi adalah orang yang tadinya dari tin Farel.
Mereka berdua telah terlelap, dengan tak sadarkan diri dan sudah berada di dalam sel tersebut.
Aku pun mengambil pistol untuk membuka sebuah gembok besi yang menutup rapat pintu sel tahanan sementara itu.
Dalam sekali tembakan, ternyata pintu pun terbuka dan membuat kami dapat dengan mudah memasuki wilayah tersebut.
Aku pun masuk dengan sangat cepat, kemudian Reza ada di pintu depan seraya menjaga.
Kemudian aku menyentuh pipi kedua orang tersebut, ternyata hanya terlelap saja.
"Rizki, bangun.
Bambang, apakah kalian bisa mendengar suaraku?" tanyaku sangat perlahan.
Akan tetapi keduanya tak dapat membuka mata, membuat aku sangat tak tahu apa yang sedang mereka alami sekarang.
Kalau dari tebakanku, kalau keduanya sedang di bius oleh obat tertentu.
Sehingga tak ada yang mampu untuk bangkit dari posisi tidur, aku yang kala itu sudah tak tahu lagi cara membangunkan, kemudian Reza pun masuk.
Setibanya di dalam sebuah sel, Reza menatap mantap ke arah wajahku.
"Apa yang terjadi pada mereka, Jun?" tanyanya.
"Sepertinya mereka sedang terkena bius, kita harus membawa mereka ke luar dari sini, aku bawa Rizki dan kau bawa Bambang!" seruku sangat serius.
Kemudian Reza pun mengangguk, dia membawa orang tersebut untuk ke luar dari wilayah ini.
Dan aku pun mengikuti mereka, akhirnya kami pun berjalan ke luar sangat mengendap-endap.
Kali ini kami harus melewati pintu lebih dulu, karena kedua sahabat yang lainnya tak terlihat sama sekali.
Aku yang sedang membawa badan Rizki, ternyata terhadang seseorang yang baru datang dari depan dengan mobilnya.
Kali ini jumlah mereka menjadi banyak, aku pun berhenti sejenak.
Reza yang berada di belakang pun ikutan berhenti.
Pasalnya sang sahabat kali ini bingung, hendak dari mana akan ke luar.
Sementara di sini hanya ada satu tempat ke luar, sisanya adalah jendela.
Sumber:Internet