. POV Farel AditiyaKawanan yang kala itu sedang berjuang untuk negara pun telah tidak berhasil mengalahkan para pemberontak, kami telah di tarik mundur oleh kesatuan dan pergi dari wilayah tersebut.
Kemudian semuanya kembali berjalan menuju sebuah hutan.
Perjuangan pembelaan untuk permulaan ini tidak seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya.
Dalam penuh kekesalan, ini adalah pertama kalinya gagal dalam hal.
Rasa malu yang teramat dalam pun terus menghujani, apalagi sekarang aku sudah memilih untuk berpisah tim pada Arjuna.
Dia adalah danton yang terkenal sangat bijaksana, akan tetapi aku tidak suka padanya.
Para komandan selalu menguluh-uluhkan dia sebagai pimpinan masa depan di batalyon 3.
Yang sakitnya lagi, aku datang sebagai prajurit lulusan terendah merasa tak punya harga diri.
Kegagalan ini pun akhirnya membuat kami cidera.
Termasuk anggota yang pergi bersamaku, hampir rata-rata dari kami mengalami yang namanya luka.
Tapi tidak ada yang menghilang, hanya Bambang saja tak tahu entah ke mana.
Dalam hal ini, dia adalah orang yang bersalah karena merasa bimbang tak mau mendengar ucapanku.
Pemilihan jalan pun ternyata salah, dan kami di hadapkan akan sebuah kenyataan pahit.
Begitu mentok ke sebuah pilihan, malah membuat kami terjebak dalam markas.
Karena sebelumnya aku tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hutan ini.
Dan strategi yang aku miliki padahal sangat baik, sudah berani memecahkan tim menjadi dua bagian.
Namun, kali ini kami tak dapat melihat kawanan dari Arjuna sekali pun.
Mereka entah ada di mana, apakah sudah kembali atau masih berjuang di dalam hutan.
Kekalahan ini adalah yang pertama, akan tetapi tidak apa-apa.
Karena tugas ini juga masih yang pertama, kami tak bisa menyesuaikan dengan keadaan baru di hutan yang katanya terkenal sangat angker ini.
Dengan berjalan satu persatu, kami pun berjalan ke luar menuju hujan tersebut.
Aku masih ingat beberapa titik di sana, dan akhirnya kami tiba di sebuah pohon yang memecah pertemuan kami dengan Arjuna.
Setelah semalaman berada di hutan, kami telah kehilangan anggota sebanyak enam orang yang entah ke mana perginya.
Mungkin mereka telah kembali, dan sudah di bantu pulang para komandan.
Kali ini yang berjuang bukan hanya kami, dari angkatan darat semuanya turun langsung.
Bahkan di bagian Selatan dan Barat, mereka juga telah di kepung oleh para danton yang berbakat juga.
Misi kali ini mengharuskan kami akan kembali tanpa ada berita menyenangkan, aku pun tiba di sebuah mobil kompi.
Ternyata di sana sudah ada Komandan Satria yang menjadi sopir, dia bersiap membawa kami kembali ke Batalyon 3.
Ya, satu persatu pun naik akan tetapi aku tak berani berkata kalau Arjuna dan sahabatnya berada di mana.
Sekarang aku sudah berhasil, rencana untuk menyingkirkan anak itu dari kesatuan tanpa ada campur tanganku pun berjalan mulus.
Dengan rasa gembira, kemudian aku hanya bergeming menatap hutan larangan yang menjadi pusat para memberontak itu berteduh lama.
Akhirnya kami kembali menuju jalan utama, dan berkumpul dengan para mobil kompi dari rekan lainnya.
Mereka sedang bernyanyi, sepertinya sedang tidak ada masalah.
Entahlah, aku tidak tahu dengan ini.
Sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga Jendral besar, aku tak mau di atur oleh seseorang yang memiliki pangkat yang sama.
Kalau mereka adalah komandan aku mau, karena memang tugas mereka untuk mmbentuk kami.
Kalau dia adalah Arjuna, atau bahkan senior yang biasa aku tidak akan terima akan hal ini.
Menjadi pangeran di dalam kesatuan karena pangkat tertinggi ayahku di bagian kepolisian, membuat aku berambisi menjadi orang nomor satu.
Bahkan menjadi pimpinan dalam sebuah kesatuan, bukan justru menjadi anak bawang di peringkat terakhir kelulusan.
Harga diri keluarga pun turun, akan tetapi setidaknya aku sudah menyingkirkan Arjuna dan kawan-kawannya, yang tak mau memilih jalanku di awal tadi.
Dengan menunggu beberapa menit, akhirnya kami pun tiba di dalam batalayon.
Ucapan selamat datang telah tanpak dari luar, kalau ini adalah markas kesatuan paling elit yang pernah ada.
Bagaimana tidak, tak ada satu pun yang menolak masuk dan lulus AKMIL di sini.
Dari ribuan pendaftar, hanya 100 sekian yang lulus.
Dan aku adalah salah satunya, karena bakat dan ayahku tentunya.
Sumber:Internet