. "Aku ada di mana ini? Kok, di sini gelap banget?" tanyaku secara bertubi-tubi.
Dalam samar aku membuka mata, lirikan netra itu menerawang jauh ke kanan dan ke kiri.
Pasalnya, kali ini aku sedang berada di salah satu tempat yang sangat aneh.
Sebuah ruang dengan satu lentera saja, akan tetapi seperti sebuah kerajaan yang jauh dari kata-kata layak huni.
Kemudian diri ini menyentuh pipi kanan dan kiri.
'Apakah aku sudah mati?' tanyaku seraya menarik pipi kanan, ternyata rasanya tidak ada sama sekali.
'Astaga ... benar kalau aku sudah berada di alam yang berbeda.
'Berdialog di dalam dialog, bagai seseorang yang sudah tak tahu hendak ke mana akan bertanya.
Kemudian aku membangkitkan badan dan berjalan sangat laju menuju ke luar dari sebuah ruangan gelap.
Langkah kaki membawa diri agar segera tiba di tempat penuh cahaya itu.
Tiba-tiba, aku menabrak sebuah bangunan di hadapan mata yang muncul mendadak.
Brug!"Ach ...." Sambil meringis kesakitan, kemudian aku menjatuhkan badan di atas bumi dan menatap apa yang ada di depan sana.
Ternyata itu adalah sebuah pintu menuju ke sebuah tempat.
Aku pun membangkitkan badan dan membuka pintu tersebut.
Terbukanya pintu itu, memerlihatkan sebuah pemandangan indah dan luar biasa.
Bagaimana tidak, di sana banyak bunga-bunga yang di lengkapi permadani.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat sebuah pemandangan yang begitu indah.
"Apakah ini yang namanya surga? Berarti, aku telah berada di dunia lain.
Dan, badanku telah hilang dari bumi.
Aku telah pergi.
Mengapa ... dan semuanya terjadi begitu saja dalam diriku.
" Obrolan ini pun terjadi di saat aku merasa kalau diri ini sudah tiada di bumi lagi.
Pemandangan yang indah itu seketika lenyap dan berubah menjadi sangat merah.
Api melalap sangat panas, dan bergerak pergi dari pandangan.
Kedua bola mataku menyaksikan sebuah kehancuran, dan ini adalah pertama kalinya aku saksikan.
Dalam hal ini, hanya perasaan penyesalasan karena aku telah pergi dari wilayah kerajaan tadi.
Dengan berlari sangat kencang, kemudian diri ini pun menemukan sebuah celah ketika membawaku ke tempat sekerang.
Aku pun masuk ke dalam celah itu, ternyata berhasil.
Brug!"Aku sudah kembali, aku telah berhasil kembali," ucapku dengan sangat girang.
Namun, di atas bangunan yang sekarang aku pijak telah runtuh dan menimpahku dengan sangat dasyat.
"Tidak ...." Teriakku sambil membuka mata secara spontan.
Ketika kedua mataku terbuka lebar, ini adalah ruangan tempat di mana aku sedang bertugas.
Orang-orang berseragam loreng telah datang menemui, dan di adalah Dika dan Reza.
Aku menoleh kanan dan kiri, mengembuskan napas panjang, keringat ke luar sangat deras dari badan.
"Arjuna, kau sudah sadar? Ka-kau kenapa?" tanya Dika sangat takut.
Kemudian aku menatap sahabat yang sangat ketakutan itu.
Entah apa yang mereka lihat, satu kepastian dalam diriku, kalau akan ada kejadian yang akan menimpah kami di kemudian hari.
Dengan menelan ludah, aku tak mampu menjawab apa pun.
Mungkin ini adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami.
Dalam dunia militer, baru kali ini aku melihat masa depan dari kehidupan yang akan datang seperti apa.
Aku menarik napas panjang.
Kemudian salah seorang pun datang menemui kami, dia adalah seorang komandan yang membawa sebuah sebotol minuman.
Namanya adalah Satria, ketika berada di lapangan menatap kedua mataku sangat tajam.
Aku tidak tahu kenapa dia melihatku begitu serius, karena biasanya dia biasa saja.
Dalam sekelebat penglihatan, dunia berubah menjadi sangat mengerikan.
Ini adalah hal yang aku alami sekarang.
Lelaki berhidung mancung itu mendekat, dia menyodorkan minuman dan menatap dari jarak dekat.
"Kau sudah sadar, Juna?" tanyanya.
"Siap, apa yang sedang aku alami, Dan!" hendakku sangat penasaran.
"Kau pingsan, ketika aku melihat wajahmu tadi.
Aku rasa, kau terlalu lelah.
Dan ... sudahlah, jangan di bahas.
Kemungkinan kalau kau istirahat penuh, besok akan pulih kembali," katanya, lalu dia pergi dari ruangan.
Dengan di bantu oleh Dika, aku meneguk air mineral itu dan sampai tandas satu botol.
Kemudian, aku pun menarik napas panjang sambil menelan ludah.
Di malam yang sangat sunyi, di kala para prajurit telah bubar ke ruangan masing-masing.
Aku berada di ruang pengobatan, dan Dika kembali datang membawa makanan.
Dia duduk di bangku, menatap aku secara saksama.
Sang sahabat malah tersenyum, dia seolah melihat aku bagai anak kecil yang kekurangan vitamin.
Kemudian Dika menyodorkan satu bungkus roti, dan aku mengambilnya.
Malam dengan sangat hangat, karena selimut telah melindungi kulit dari pelukan angin malam.
"Kau hanya lelah, Juna.
Jangan pikirkan, aku gak tega kalau harus pergi meninggalkan kau di sini," ucapnya begitu semangat.
"Dika, apa yang aku alami? Kenapa orang-orang berada di sini dalam jumlah yang banyak? Sudah seperti melihat keanehan saja," tanyaku bertubi-tubi.
"Hmm ... tadi kau pingsan di lapangan, saat kami sedang melaksanakan yang namanya pelantikan.
Dan mungkin karena mereka penasaran aja kali, orang sekuat dirimu malah jatuh tanpa ada satu hal apa pun," jelas Dika.
"Aku pingsan? Kenapa, dan sepertinya aku baik-baik saja.
Ka-aku pasti salah lihat kali, Dik!" kataku tak percaya.
"Sudahlah jangan dipikirkan.
Mungkin kau memang lelah, kenanan darahmu rendah.
Banyak makan saja, karena kita akan menjalankan misi sangat hebat kali ini.
Dan aku juga tidak tahu misi apa yang akan kita lakukan sekarang, satu yang pasti ini akan menjadi hal pertama ketika di lantik menjadi angkatan, mendapatkan tugas luar biasa," jelas Dika, aku pun mengangguk.
Kami saling tukar tatap, kemudian aku menoleh ke arah jendela ruangan.
Perihal dari tugas pertama yang akan kami dapatkan adalah, pergi ke hutan.
Akan tetapi, ke hutan kali ini bukan untuk berlatih lagi.
Namun, sudah harus menjalankan misi terbesar dalam diriku.
Baru pertama kali dalam menghadapi yang namanya perang sipil, antara pemberontak di kilometer nol.
Pikiran ini berkecamuk, karena aku sangat percaya kalau aku bisa melewati dengan baik, maka aku tak akan menjadi orang yang selalu di anggap remeh para senior.
Sebagai lulusan terbaik dari cabang bintara, aku memiliki tanggung jawab besar serta beban yang tak main-main.
Bagaimana tidak, semua mata tersorot padaku yang datang dari kampung.
Tak punya orang dalam, dan bermodalkan nekat tanpa membawa uang banyak.
Padahal, mereka saja yang lulus dari cabang tam-tama sudah memiliki orang dalam luar biasa.
Terlepas dari ini semua, aku melihat seperti ada yang di sembunyikan oleh komandan Satria padaku.
Di dalam batalyon 3 ini, aku tidak tahu apa yang terjadi.
Semuanya seperti halusinasi saja dan mendadak membuat namaku terangkat melambung tinggi.
Aku adalah Arjuna, terlahir dengan badan yang tinggi dan tegap, mencapai 178Cm.
Berbadan sangat ideal, dan sekarang sudah mencapai bentuk perut sixpack.
Karena aku pekerja keras di kampung, selain sebagai kuli angkat semen aku juga mengangkat sawit dengan jumlah banyak.
Pekerjaan memundak itu sudah aku lakukan sejak masih duduk di bangku SMA kelas X.
Kini aku masuk tentara jalur umum, tidak ada kenalan siapa pun dan akhirnya lulus.
Namun, sebuah hal mengejutkan terjadi.
Aku pun lulus di peringkat pertama, sampai membuat mata publik bungkam.
"Aku akan pergi sebentar, kau tetap berada di sini, Juna!" ucap Dikaโsahabatku.
Bersambung ...
Sumber:Internet