. "Ma-maaf, Jendral, kami akan pindah lokasi," ucap Komamdan Satria.
Kemudian komandan pun menarik lengan kananku dan dia mengajak aku pergibdari tempat ini.
Kompi bantuan memang dilarang untuk siapa pun bersuara.
Kemudian kami ke luar dari ruangan tersebut dan mulai berjalan menuju sebuah tempat yang sedikit jauh.
Tepat di depan teras ruang kamar milik Komandan, akhirnya kami berbincang di sana.
Perdebatan panjang kali lebar pun di mulai.
Aku yang bersikukuh akan di berangkatkan malam ini, masih mencari celah agar dapat pergi.
Karena ini adalah kesempatanku, dan semua penawaran dan negosiasi telah aku katakan.
Berbagai banyak cara telah di jelaskan agar Komandan percaya.
Ternyata sedikit susah membuat komandan Satria percaya padaku.
Padahal kalau dia berkata pada Arjuna sangat percaya seribu persen.
Entah apa bedanya dengan aku, kami sama-sama seorang prajurit yang siap untuk membela negara ini.
Aku pun menjelaskan banyak alasan, karena jika terlalu lama Arjuna berada di luar akan semakin berbahaya.
Kemudian Komandan pun merasa sangat khawatir ketika keselamatan akan terancam.
Dia pun memasuki ruang kamarnya dan menarik lenganku sangat erat.
Ini adalah kali pertama aku di ajak masuk ke dalam ruangan miliknya.
Lalu, kami pun masuk ke dalam ruangan.
Selepas magrib di malam ini, aku bergeming di depan beberapa tembok ruangan sepetak ini.
Terlihat jelas banyak foto-foto Arjuna di dalam sana, dia mengabadikan momen-momen bersama orang yang aku benci itu.
Bagaimana tidak, Arjuna waktu itu masih aangat culun dan belum pantas masuk ke angkatan.
Berpenampilan sangat kampungan, tidak seperti aku yang datang dari anak seorang jendral.
Mereka tampak sudah akrab dari awal kenal, tak henti-hentinya aku memandang wajah mereka berdua di sana.
Sekarang barulah sadar itu datang, ternyata komandan Satria bukan sekadar bersemangat untuk membuat menaikkan karir Arjuna.
Akan tetapi dia pun merasa dekat pada Arjuna karena di sampingnya ada seorang lelaki membawa senapan yang sama persis dengan penampilan Arjuna.
Namun, orang itu sudah sedikit berusia.
Aku penasaran dengan orang itu, sedang membawa anak kecil dan di tangannya ada seorang bayi imut.
Kemudian aku berhenti di foto itu, di dalam sebuah foto terelam jelas seorang wanita.
Siapa lagi kalau bukan persit memakai seragam hijau layaknya seorang istri dari prajurit tentara.
Sejenak aku berkata-kata dalam hati, karena kalau di lihat-lihat lelaki berseragam loreng itu adalah komandan Satria.
Dia menggendong seorang bayi laki-laki, akan tetapi bayinya entah ke mana.
Bahkan istrinya juga tak tahu ada di mana, karena yang aku tahu kalau dia masih seorang lajang dan belum menikah sampai saat ini.
Banyak yang mengatakan kalau dia adalah lajang dan sudah berpangkat mayor, akan tetapi aku tidak percaya kalau Satria adalah laki-laki lajang.
Dari bahasa tubuhnya dan perawakannya dia sangat dewasa, bagai seorang sosok ayah dan pas dengan ayahku di rumah.
Selalu mengayomi siapa pun, dan mampu membuat nyaman semua prajurit muda.
Komandan paling netral di antara siapa pun, aku pun menarik napas kali ini, kemudian beralih ke foto yang lainnya.
Tepat di paling ujung sebuah bangunan itu, aku pun berhenti.
Itu adalah foto komandan Satria ketika dia masih baru lulus AKMIL di sini.
Ternyata dia besar bersama batalyon 3.
Menetap sebagai seorang mayor, yang memberikan pengarahan di batalyon 3.
Akan tetapi aku tak peduli dia berasal dari mana.
Yang aku mau malam ini dia memberikan aku izin untuk pergi.
Karena para senior sudah hendak meninggalkan kompi dan semuanya juga sudah bersiap di luar sana.
Tak berapa lama Komandan Satria datang dari sebuah kamar mandi, dia menemui aku yang sengaja menatap mantap semua foto.
Dia pun tercengang melihat aku yang memegang sebuah foto di dinding itu, lalu dia pun berdiri dengan mengernyit.
Aku pun secara spontan merubah posisi badan dan langsung tegap ketika menatap wajahnya.
Kali ini kami berbincang lagi, akan tetapi aku lebih kepo pada foto-foto itu.
Karena hampir semua alumni ada di sana hanya aku yang tak dia foto untuk di abadikan dalam momen kesukaan baginya.
Dalam hati berkata, mungkin komandan hanya mau membawa prajurit yang terlahir yatim atau piatu saja.
Sumber:Internet