Gelap

Gairah Sersan Ku 20

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Gairah Sersan Ku 20

. "Ma-maaf, Jendral, kami akan pindah lokasi," ucap Komamdan Satria.
Kemudian komandan pun menarik lengan kananku dan dia mengajak aku pergibdari tempat ini.
Kompi bantuan memang dilarang untuk siapa pun bersuara.
Kemudian kami ke luar dari ruangan tersebut dan mulai berjalan menuju sebuah tempat yang sedikit jauh.
Tepat di depan teras ruang kamar milik Komandan, akhirnya kami berbincang di sana.
Perdebatan panjang kali lebar pun di mulai.
Aku yang bersikukuh akan di berangkatkan malam ini, masih mencari celah agar dapat pergi.
Karena ini adalah kesempatanku, dan semua penawaran dan negosiasi telah aku katakan.
Berbagai banyak cara telah di jelaskan agar Komandan percaya.
Ternyata sedikit susah membuat komandan Satria percaya padaku.
Padahal kalau dia berkata pada Arjuna sangat percaya seribu persen.
Entah apa bedanya dengan aku, kami sama-sama seorang prajurit yang siap untuk membela negara ini.
Aku pun menjelaskan banyak alasan, karena jika terlalu lama Arjuna berada di luar akan semakin berbahaya.
Kemudian Komandan pun merasa sangat khawatir ketika keselamatan akan terancam.
Dia pun memasuki ruang kamarnya dan menarik lenganku sangat erat.
Ini adalah kali pertama aku di ajak masuk ke dalam ruangan miliknya.
Lalu, kami pun masuk ke dalam ruangan.
Selepas magrib di malam ini, aku bergeming di depan beberapa tembok ruangan sepetak ini.
Terlihat jelas banyak foto-foto Arjuna di dalam sana, dia mengabadikan momen-momen bersama orang yang aku benci itu.
Bagaimana tidak, Arjuna waktu itu masih aangat culun dan belum pantas masuk ke angkatan.
Berpenampilan sangat kampungan, tidak seperti aku yang datang dari anak seorang jendral.
Mereka tampak sudah akrab dari awal kenal, tak henti-hentinya aku memandang wajah mereka berdua di sana.
Sekarang barulah sadar itu datang, ternyata komandan Satria bukan sekadar bersemangat untuk membuat menaikkan karir Arjuna.
Akan tetapi dia pun merasa dekat pada Arjuna karena di sampingnya ada seorang lelaki membawa senapan yang sama persis dengan penampilan Arjuna.
Namun, orang itu sudah sedikit berusia.
Aku penasaran dengan orang itu, sedang membawa anak kecil dan di tangannya ada seorang bayi imut.
Kemudian aku berhenti di foto itu, di dalam sebuah foto terelam jelas seorang wanita.
Siapa lagi kalau bukan persit memakai seragam hijau layaknya seorang istri dari prajurit tentara.
Sejenak aku berkata-kata dalam hati, karena kalau di lihat-lihat lelaki berseragam loreng itu adalah komandan Satria.
Dia menggendong seorang bayi laki-laki, akan tetapi bayinya entah ke mana.
Bahkan istrinya juga tak tahu ada di mana, karena yang aku tahu kalau dia masih seorang lajang dan belum menikah sampai saat ini.
Banyak yang mengatakan kalau dia adalah lajang dan sudah berpangkat mayor, akan tetapi aku tidak percaya kalau Satria adalah laki-laki lajang.
Dari bahasa tubuhnya dan perawakannya dia sangat dewasa, bagai seorang sosok ayah dan pas dengan ayahku di rumah.
Selalu mengayomi siapa pun, dan mampu membuat nyaman semua prajurit muda.
Komandan paling netral di antara siapa pun, aku pun menarik napas kali ini, kemudian beralih ke foto yang lainnya.
Tepat di paling ujung sebuah bangunan itu, aku pun berhenti.
Itu adalah foto komandan Satria ketika dia masih baru lulus AKMIL di sini.
Ternyata dia besar bersama batalyon 3.
Menetap sebagai seorang mayor, yang memberikan pengarahan di batalyon 3.
Akan tetapi aku tak peduli dia berasal dari mana.
Yang aku mau malam ini dia memberikan aku izin untuk pergi.
Karena para senior sudah hendak meninggalkan kompi dan semuanya juga sudah bersiap di luar sana.
Tak berapa lama Komandan Satria datang dari sebuah kamar mandi, dia menemui aku yang sengaja menatap mantap semua foto.
Dia pun tercengang melihat aku yang memegang sebuah foto di dinding itu, lalu dia pun berdiri dengan mengernyit.
Aku pun secara spontan merubah posisi badan dan langsung tegap ketika menatap wajahnya.
Kali ini kami berbincang lagi, akan tetapi aku lebih kepo pada foto-foto itu.
Karena hampir semua alumni ada di sana hanya aku yang tak dia foto untuk di abadikan dalam momen kesukaan baginya.
Dalam hati berkata, mungkin komandan hanya mau membawa prajurit yang terlahir yatim atau piatu saja.

Sumber:Internet