. "Sudah, Jendral.
Ini, aku membawakan baju yang sudah aku temukan di lokasi dekat sungai.
Kemungkinan kalau ini adalah seragam Arjuna, dan orangnya sudah di makan oleh hewan buas, Buaya!" ucapku secara spontan.
Satu ruangan pun terdiam, suara menjadi sangat riuh dan mereka tak sabar melihat baju yang aku dapatkan itu.
Berlumur dengan benda cair warna merah, dan sudah sangat bau amis.
Kemudian satu persatu dari jendral pun melihat dan mencium, mereka mengangguk serta tak dapat berkata apa pun.
Sementata Komandan Satria seperti sangat kehilangan dan dia tidak mengakui kalau ternyata Arjunaโanak didiknya telah tidak ada.
Kali ini aku berhasil mengecoh suasana, dan ini adalah kali pertama aku melihat wajah komandan Satria bersedih sampai meneteskan air mata.
Sampai seperti itu dia bersikap, padahal Arjuna adalah bukan orang terdekatnya atau anak kandungnya.
Namun, ini adalah fakta yang sebenarnya.
Aku tak tahu kedekatan mereka seperti apa, yang pasti ketika melihat segaram itu di tanganku, dia menganggap seperti kamuflase saja.
Ini adalah seragam yang aku dapatkan di sebuah pepohonan tumbang, dekat dengan sebuah markas ketika terjadinya bentrok pertarungan sengit.
Mungkin saat itu Arjuna yang sedang bertarung habis-habisan, aku pun tak tahu kronologinya.
Entah apa alasan dia membuka bajunya, karena sampai saat ini Arjuna belum di temukan.
Namun, dalam hatiku berkata kalau dia telah tidak ada di sana dan meninggal melawan semua pemberontak.
Wajah-wajah yang saat itu tidak bisa menerima kenyataan pun tampak jelas.
Termasuk dari komandan Satria, dan beberapa sahabatnya.
Mereka semua menangisi hal ini, tepat di tengah malam.
Ada Reza dan Dika yang sejak tadi tak tahu kenapa aku bisa mendapatkan baju yang di pakai Arjuna dalam berperang itu.
Sekarang sudah jelas dan fix, orang yang mereka kagumi selama ini telah tiada.
Aku tersenyum dalam penemuan ini, mungkin sudah saatnya mereka memanggil namaku sebagai pahlawan dalam kesatuan.
Yang benar-benar kesatria tangguh penyelamat, kali ini mereka berbondong-bondong memegang baju itu.
Yang tadinya tak percaya, sekarang malah sangat percaya seratus persen kalau Arjuna telah tidak ada di dunia ini lagi.
Lalu, Komandan Satria pun pergi dari ruangan ini dan entah ke mana.
Lelaki berwajah sangar itu meninggalkan ruangan, aku tidak peduli dia hendak pergi atau tidak.
Beberapa menit setelahnya, aku pun membangkitkan badan di bantu oleh para rekan yang lainnya.
Kami akan melaksanakan yang namanya pemakaman sebuah seragam yang aku dapatkan dini hari.
Pasalnya, tepat di tengah malam menjelang subuh, acara ucapacara itu pun harus di langsungkan.
Dengan menggunakan sarung tangan lengkap, dan semua prajurit berganti baju untuk melakukan pemakaman.
Aku di ajak kembali ke ruang asrama, dan kami pun berjalan bersama-sama.
Kali ini aku mendapat kawalan dari beberapa senior yang di utus oleh Jendral untuk berganti baju.
Karena sekarang seragamku sudah sangat bau dan basah, kemudian aku pun menuju ruangan dan sangat merasa senang akan kemenangan mutlak ini.
Tak berapa lama, tibalah aku di dalam kamar dan segera mengambil seragam hijau.
Serta topi lengkap dengan sepatu.
Acara yang paling aku tunggu-tunggu adalah pemakanan baju atau seragam Arjuna di laksanakan apel untuk mengiringi kepergiannya, dan dari TNI wanita bersiap mengambil bunga-bunga serta banyaknya papan bunga yang sudah di pesan oleh mereka.
Berbagai cabang dari batalyon, kodim terdekat, mereka turut hadir.
Walau sedikit gerimis, akan tetapi ini adalah acara akan tetap berjalan.
Satu persatu para prajurit menggerompok memadati lokasi pemakaman.
Tepat di kuburan pahlawan, Arjuna yang gugur di Medan perang akan di sematkan sebuah lencana terakhir karena sudah berjuang sampai titik terakhir.
Walau pun yang di makamkan adalah seragamnya saja, akan tetapi ini adalah simbolis agar penghormatan itu berjalan merata seluruh anggota tentara di mana pun mereka berada.
Tanpa jasad yang nyata di hadapan kami, kemudian semuanya bersedih telah kehilangan sosok paling berpengaruh beberapa minggu di batalyon ini.
Ya, dia adalah Arjuna Kusumanegara.
Aku pun tidak pernah menyangka kalau perbuatanku ini membuat semua orang kehilangan termasuk yang terdalam, padahal aku hanya melakukan kamuflase saja sebagai bahan kalau ternyaya orang yang mereka puja sangat cerdas itu telah pergi.
Sumber:Internet