. "Apakah kau sudah kenyang makan?" tanya perempuan itu, lalu aku menoleh sebentar.
Dengan sedikit anggukan, lalu aku menjawab, "i-iya, aku udah kenyang.
Terima kasih, ya, udah memberikan aku makanan yang enak-enak seperti ini," jawabku.
"Sekarang udah malam, waktunya kamu tidur.
Karena di luar sangat berbahaya kalau kamu ke luar dalam waktu seperti ini," katanya, aku pun kembali mengangguk.
Seraya merebahkan kedua sayap, kali ini aku menatap tiap langit-langit goa yang sangat samar.
Udara dingin dapat di imbangi oleh api unggun kecil di dalam goa, dan udaranya berubah menjadi sangat hangat.
Wanita yang aku tak tahu namanya itu, sekarang sedang merebahkan kedua sayap.
Mataku memerhatikan tiap bentuk pahatan yang sangat sempurna di bagian-bagian tertentu wanita itu.
Kali ini ada yang mulai naik dan perlahan mengeras.
Lamat-lamat, aku tak bisa mengendalikan apa yang sudah menjadi kewajiban seorang lelaki ketika bertemu dengan lawan jenis.
Ini sangat normal, tidak ada masalahnya.
Aku pun menarik napas dan beralih ke atas langit goa lagi, seraya menetralisir jantung yang berdecak sangat kencang bagai kendaraan yang akan berperang.
Lalu, mataku menoleh lagi wanita suku pedalaman itu.
Ini adalah pertama kalinya aku tidur dengan lawan jenis, apalagi sekarang kami udah sama-sama dewasa.
Seraya bergeser sedikit demi sedikit, kemudian diri ini pun mulai dekat di sampingnya.
Aku memerhatikan bagian yang sangat di sukai pria, ada di beberapa titik wilayah.
Sembari menelan ludah, kali ini aku merubah posisi tidur agar lebih dekat dengan perempuan cantik itu.
Dengan tangan kanan, jemari pun bergerilya sangat liar ke sana dan ke mari.
Ada yang mulus di sana, tanpa noda dan tersentuh sudah.
Namun, wanita itu pun tidak merespons sama sekali.
Dengan mengenakan celana terbuat dari daun pisang, akhirnya aku pun sangat mudah mengeluarkan si rajawali yang sudah berontak sejak tadi.
Akhirnya diri ini mulai mer4b4 dan tersentuh pula sebuah hutan rimba yang sangat membuat aku tertarik.
Adrenalin di antara kami pun semakin memuncak, tak lama setelahnya si wanita paham apa yang aku mau.
Dia gelisah dan sangat merasakan sentuhan lewat jemariku, ada dua awalnya yang menerobos, kemudian menjadi tiga dan dia mulai menarik bibirnya.
Aku merasa kalau wanita ini paham, apa yang ingin aku lakukan.
Benda tumpul berkepala botak pun akhirnya aku masukkan perlahan, dan lambat-lambat mulai bergelayuh indah di sana.
Dangan ujung hidung mulai meraba, dan ini adalah kenikm4t4n yang tiada tara.
Merasakan surga dunia lewat sentuhan kulit ke kulit, kemudian aku merasa ngos-ngosan.
"Emm ... sakit, emm ...," rintihnya.
"Aku akan lebih pelan, Baby, tenang dan rasakan sensasinya," jawabku seraya merayunya.
Tepat di tengah hujan yang sangat lebat, petir menyambar-nyambar.
Kami melakukan aktivitas itu di dalak goa yang perlahan semakin meredup, gelap, dan pekat.
Tak lama setelahnya, tembakan pun sudah memehuni apa yang menjadi bagian dari ini semua.
Aku merasa lega, dan lambat-lambat api kembali menyala dengan sendirinya.
Kemudian wanita itu pun bangun dengan mata yang sangat lebar, dia pun menatap ke wajah ini seraya tersenyum manis.
Kedua tangannya pun memegang pipiku, memberikan sebuah servis terbaik wanita pedalaman.
Aku pun membalas tangannya, dan kemudian kedua bibir ini bertemu pula.
"Terima kasih, Mas, aku sayang suka apa yang kau lakukan," katanya.
"Aku pun sangat suka dengan hal ini, kau hebat sekali membuat aku merasa melayang.
Gadisku, apakah kau adalah wanita yang sengaja datang dari surga untukku?" tanyaku sangat bersemangat.
"Coba lihat aku, Mas, aku ingin kau tetap ingat dalam pandangan.
Selamanya, aku akan menjaga benih yang telah kau berikan padaku hari ini," katanya lagi, aku pun menelan ludah.
Sumber:Internet