Gelap

Gairah Sersan Ku 29

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Gairah Sersan Ku 29

. Pahi telah tiba ...Udara yang semakin dingin di timpali dengan suara-suara yang datang tanpa henti, aku membuka mata secara perlahan, menatap atap sebuah gubung kecil yang menjadi rumah singgah sementara di tengah hutan belantara.
Sehabis hujan, semua hewan kecil datang menghampiri.
Tidak ada yang terkecuali, kemudian aku membngkitkan badan.
Dengan mendudukkan badan di sebuah gubuk itu, aku pun bergerak di waktu matahari belum terlihat.
Kali ini langkah kaki membawa diri untuk menuju ke sungai, mandi di waktu subuh adalah rutinitasku sebagai seorang prajurit.
Aku berjalan laju menuju sungau tadi dan sekalian mengangkap ikan yang ada di sini.
Dengan sangat kencang, tibalah aku di tepi sungai.
Ada pemandangan yang indah di dalam sana.
Pasalnya, semua ikan-ikan pun tengah berenang indah, ke sana dan ke mari bagai tak takut kalau aku datang hendak menangkap.
Dengan menggunakan tombak, kemudian diri ini menancapkan sebuah ujung bambu dengan sangat cepat ke arah hewan itu.
Crut!"Kena kau!" kataku seraya mengambil ikan itu dan langsung membuangnya ke permukaan tanah.
Kali ini aku membuka baju kaos loreng dan celana panjang, dan aku langsung melompat dari atas batu besar ke dalam sungai untuk mandi.
Sungai ini sudah menjadi bagian dalam diriku, karena sudah empat hari aku ada di sini, sudah bisa menjejakkan kaki di dasar sungainya.
Entah kenapa, arus yang ada di sungai tidaklah seganas yang kemarin-kemarin.
Mungkin ketika itu tengah badai, sampai menyapu segalanya yang ada di hadapanku.
Kemudian aku pun merasa bahagia, menyenangkan, karena masih bisa hidup di tengah-tengah dari keterbatasan ini.
Alam yang segar, serta cara hidup yang jauh dari kata-kata modern.
Ini adalah hal yang tak pernah aku rasakan di zaman sekarang.
Dulu pernah seperti ini, sewaktu aku masih kecil bersama para sahabat di kampung.
Mencari ikan selepas pulang sekolah, demi mencari lauk untuk malam.
Namun, paman dan bibiku tetap saja tidak bersykur kalau aku pulang membawa ikan hasil tangkapan.
Mereka pun tidak mau makan karena menjualnya.
Keterbatasan ekonomi itu membuat aku sangat tersiksa, tak bisa makan enak walau cuma ikan saja.
Ketika tinggal bersama Paman dan bibi, akh lebih banyak makan makanan seperti kerak nasi diberikan air dengan campuran garam.
Kadang pakai minyak goreng bekas yang sisa menggoreng ikan asin, itu adalah cara aku makan dan bertahan hidup.
Hidup dalam kemewahan, tetapi pelit kepada aku yang anak tidak tahu datang dari mana.
Namun, aku bersyukur mereka masih mau menyekolahkan aku, walau pun dengan syarat setelah pulang pendidikan aku harus kerja jadi kuli panggul di pasar, ikut ke sana dan ke mari mobil pengangkut semen dan batu bata, serta mencari tambahan lainnya.
Itu sudah aku rasakan sejak kecil.
Bahkan sampai saat ini aku tak pernah lupa.
Bagai hidup di zaman penjajahan, sekali pun Belanda sudah mati dalam peperangan.
Aku tetap bisa bernapas, dan menyambung hidup dengan hal-hal demikian.
Membutuhkan waktu lama aku menabung, dan dengan sangat nekat aku pun membawa uang yang aku tabung itu puluhan tahun untuk masuk AKMIL.
Ternyata semua berbuah manis, aku pun di terima sebagai kandidat lulusan terbaik di sini.
Sekarang hidupku tak berhenti di uji lagi, dan aku di hadapkan dengan sebuah kehilangan apa yang aku cita-citakan.
Tak dapat bertugas, dan malah terjebak dalam gelapnya sebuah lembah.
Kali ini aku akan berusaha semaksimal mungkin, agar bisa ke luar dan bergabung lagi bersama sahabat dan rekan yang lainnya di batalyon 3.
Karena aku adalah abdi negara, yang sedang menjalanlan misi.
Baru satu kali di tugaskan, aku sudah tak mampu membawa diriku untuk meraih sebuah kemenangan.
Dan demi anggotaku, akhirnya akh pun merelakan jatuh di arus sungai yang dahsyat sampai menyeret aku ke ujung dari sungai ini berhari-hari.
Tapi syukur aku masih hidup, dan kali ini aku telah berada di sini.
Tak berapa lama, aku pun menaiki sebuah bebatuan dan duduk sejenak.

Sumber:Internet