. Dalam dunia militer, aku adalah lelaki paling tinggi dalam angkatan yang sekarang.
Karena kami memikiki postur tubub yang standar untuk ukuran remaja.
Namun, tidak berlaku dengan aku sekarang.
Bahkan tinggi ini sudah melebihi seorang komandan di sini, namanya Satria dan Ferdi.
Keduanya adalah pelatih dalam menembak dan bergeriliya.
Aku sudah menganggap kalau mereka adalah paman aku sendiri, karena sangat baik hati akan tetapi jarang berkata.
Di dalam sebuah ruangan yang sangat sunyi, aku hanya terdiam sepi.
Beginilah anak yang terlahir yatim piatu, tidak dalam kehidupan bermasyarakat, atau pun dalam sebuah dunia militer selalu saja tidak mejadi prioritas.
Tapi aku tak pernah putus asa, karena ini sudah menjadi makanan sehari-hari diriku yang terbiasa seperti sekarang.
Malam yang dingin tanpa ada satu orang pun datang, aku kembali membangkitkan badan dan bergerak menuju ke sebuah teras ruangan.
Di sana ada tempat duduk, dan aku pun terdiam menatap beberapa senior yang sedang menjaga.
Mereka yang sudah punya pangkat tinggi di sini, memiliki kehidupan yang baik.
Bahkan aku sampai ingin menjadi seperti salah satu petinggi di batalyon 3, karena tempat ini adalah pusat pelatihan infantri paling di takuti oleh siapa pun.
Bahkan aku sempat tak percaya diri, bisa lulus dengan hasil yang baik dan tidak ada orang yang ku kenal.
Dengan menelan ludah beberapa kali, aku pun menoleh ke kanan.
Pasalnya, di sana datang seseorang yang berjalan sangat laju.
Dia adalah komandan, menemuiku dan wajahnya tak asing lagi.
Diri ini pun mengembuskan napas panjang, kemudian kembali menatap sejurus ke sebuah lapangan.
Setibanya di samping kanan, komnadan Satria pun mendudukkan badan.
Dia mengelus pundakku, dan tersenyum sangat manis.
Kali ini aku membalasnya, dia adalah satu-satunya yang menuntun aku sampai sejauh ini.
Membekali dengan ilmu bela diri, serta mengajarkan aku untuk menembak.
"Apakah kau baik-baik saja Juna? Aku lihat kau terlalu lelah, lebih baik istirahat di dalam," ucapnya.
"Aku baik-baik saja, Dan.
Ini bukan masalah bagiku, dan tak mungkin seorang ksatria menyerah hanya karena hal ini," jawabku.
"Kstaria adalah manusia juga, Juna.
Kau jangan paksakan kesehatanmu.
Tapi aku yakin, kau adalah orang yang kuat dan tangguh.
Apa yang kau pikirkan sekarang, seperti orang yang lagi banyak beban," pekiknya sembari menarik napas panjang.
"Dan, apakah aku benar-benar berbeda dari yang lain? Sepertinya mereka mengasingkan aku di sini," ucapku sangat membuat Komandan Satria pun bernapas panjang.
"Karena kau adalah blasteran Portugis?" tanyanya.
"Ya, bisa jadi.
Karena bagaimana pun, aku adalah mantan penjajah di negara ini dulu.
Sedang ayah dan ibuku sudah tak ada, kenapa aku bisa lulus di sini kalau memang aku tidak layak?" tanyaku lagi.
"Ini yang namanya rezeki tidak dapat tertukar.
Tapi, aku sengaja melatih fisikmu agar tangguh dan kuat.
Terlebih lagi, kalau kau dapat memimpin batalyon ini ke masa depan.
Kau punya semuanya yang kami butuhkan.
Semangat, kerja keras, dan kau juga berbadan sangat sempurna," pujinya.
"Ah, kamu bisa aja, Dan.
Apa hubungannya badan dengan sebuah angkatan.
Sepertinya banyak yang berbadan biasa saja lulus di sini," kataku meledek.
"Banyak, tapi ada satu yang mereka gak punya seperti apa yang kau punya.
""Apa itu, Dan?" tanyaku sangat serius.
"Jonimu besar, Jun.
Itu adalah kejantanan yang kau miliki.
Ngeri, ukurannya bikin gagal fokus.
Punya saya saja gak sebesar itu," kata Komandan Satria seraya meringis geli.
Aku pun tertawa lepas, mendengar ucapan sang komandan yang sudah di luar jalur ketik berkata.
Kali ini kami berkata tentang kejantanan, dan aku juga baru sadar kalau Joni yang aku miliki berukuran besar berbeda dengan orang pribumi.
Karena jujur saja, sampai saat ini aku tak pernah tahu ukuran standar milik warga negara +62 seperti apa.
Mungkin karena aku adalah blasteran, sampai-sampai senjata yang aku miliki juga sangat perkasa dan berukuran sangat besar.
Sejak seleksi yang di lakukan beberapa bulan lalu tentang keperkasaan, aku pun baru tahu ukuran-ukuran yang kami miliki dalam satu angkatan ini.
Seleksi wajib ruang gelap, memerlihatkan aku pada sebuah kenyataan dan kesadaran kalau ini benar-benar di luar nalar.
"Juna, aku mau tanya sama kamu," ucap Komandan.
"Mau tanya apa, Dan?" tanyaku balik.
"Kamu udah pernah belum, mencoba si Joni sama pacar kamu?" tanyanya, kali ini pertanyaan itu juga aneh.
"Be-belum, Dan.
Kan, aku belum menikah, bagaimana bisa aku mencobanya.
Gak baik, Dan, entar marah Tuhan," jawabku polos.
"Ha-ha-ha ... polos sekali kamu.
" Komandan mengelus rambutku beberapa kali.
"Pasti cewek yang lihat barangmu akan ketakutan, Jun.
Ngeri banget, aku pun sampai gak tahu mau berkata apa.
""He he he ...." Kami pun tertawa seraya menatap indahnya pemandangan di atas langit.
Ini adalah sebuah pemandangan indah yang tampak jelas, kalau kami sedang melihat sebuah bumi semesta begitu memesona.
Sebagai seorang laki-laki, ini adalah pembahasan yang wajar bagi kami.
Apalagi kalau sudah berkata perihal perkasa, sudah hal lumrah bagi seorang laki-laki.
Di mana pun tempatnya, karena aset besar adalah idalam seorang pria.
Mencangkup masa depan, dan kesempurnaan dalam dunia percintaan.
Sampai saat ini, aku tidak tahu dan tak sadar kalau apa yang aku punya berukuran sangat panjang, mencapai 20 cm lebib dan membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa takut.
Namun, itu hal biasa saja bagiku.
Sebagai seorang blateran, itu merupakan hal wajar dan hampir semua warga Portugis memiliki hal tersebut.
Percakapan berlangsung sampai subuh, aku tidak bisa tidur kembali ketika bersama sang komandan yang sangat baik hati.
Dia memiliki hati yang sangat mengayomi, padahal aku belum pernah melihat bagaimana wajah ayahku, akan tetapi kalau melihat sang Komandan aku merasa sangat nyaman.
Bahkan aku sempat berkata dan berharap, kalau Komandan Satria mau menjadi ayah angkatku.
Sejak lahir di dunia ini, aku tak tahu siapa ayahku dan ibuku.
Mereka telah tiada, dan kabarnya telah pergi saat aku di lahirkan.
Besar dengan asuhan dari paman, dan bibi sampai aku menjadi seperti saat ini.
Bekerja banting tulang agar bisa hidup, bersekolah, dan menjadi angkatan pun mereka tak tahu.
Karena waktu itu aku pergi dari rumah, mereka tidak pernah membiarkan kalau aku berhenti kerja.
Sampai saat ini, aku juga tidak tahu silsilah pasti keluarga.
Yang aku tahu dari beberapa dokumen, kalau aku lahir dari seorang ayah bernamaโDaniel Susanto dan seorang wanita bernama Ketrin Monica Domani.
Ini adalah aku, anak yang lahir dengan banyak kekurangan.
"Juna, aku akan pergi ke sana, kamu enggak kembali ke asrama?" tanya Komandan Satria.
"I-iya, Dan, aku akan kembali ke asrama," jawabku.
"Kalau begitu, kita barengan aja.
Nanti takutnya kamu akan terjatuh lagi dan pingsan di jalan," ledeknya sambil tersenyum.
"Ha ha ha ... gak lagi, Dan, aku sudah kuat sekarang.
Gak mungkin akan terjatuh lagi," jawabku.
Bersambung ...
Sumber:Internet