. Tarian dan upacara sebuah penyambutan pun di lakukan oleh orang-orang suku pedalaman, di tengah telah ada hewan-hewan yang akan di sembelih dan di bakar.
Kemungkinan akan menjadi santapam mereka setiap hari, sekitar wilayah ini banyak sekali sisa-sisa tulang dari hewan yang bertaburan.
Aku juga melihat ada tengkorak manusia, memungkinan kalau telah terjadi hal-hal yang sangat aneh.
Dalam hati ini berkata kalau telah terjadi sebuah pemotongan dan mereka juga makan daging manusia.
Aku pun menelan ludah, karena di sini banyak sekali tulang manusia dan kepala manusia.
Seraya menarik napas panjang, kemudian aku pun tidak bisa melakukan apa pun.
Badan terasa sangat lemas, kemungkinan setelah hewan tersebut aku lah selanjutnya.
Sambil menunggu giliran, dalam hati ini terus bertanya-tanya sampai kapan aku bertahan di sini.
Atau bahkan bisa ke luar, siang pun berlalu menjadi malam.
Kerangkeng yang biasanya di jadikan tempat untuk sebuah alat penangkapan, mereka pakai sebagai bahan menahan aku yang jelas-jelas manusia.
Untuk berkata aku tak mampu, karena ini adalah pertama kalinya aku ada di wilayah ini.
Sepertinya aku sudah terlalu jauh dari para dunia manusia normal, sampai-sampai bertemu dengan suku hutan pedalaman.
Kali ini yang dapat aku lakukan adalah diam, dan memerhatikan setiap pergerakan para manusia yang simpang siur.
Mencari celah kapan bisa pergi, karena aku tak tahu bagaimana caranya.
Kemudian aku pun menutup mata, pasrah kalau pun akan mengembuskan napas terakhir.
Bagaimana tidak, suku hutan pedalaman sangat terobsesi pada keinginan mereka.
Tak berapa lama, aku mulai merasakan dingin yang luar biasa.
Karena embun sudah datang menyapa kulit dan begitu membuat aku sangat meringkuk.
Dalam posisi membulat, kali ini tak ada yang bisa di lakukan.
Beberapa menit setelahnya, aku pun mendengar banyak suara-suara yang datang.
Dari balik dinding rumah yang terbuat dari kayu, suara orang sedang melakukan sebuah aktivitas malam pun terdengar ke telingaku.
Dengan sangat penasaran, kemudian diri ini membuka mata.
Pasalnya, para wanita yang tadinya ada di sekitar wilayah masuk ke dalam satu tempat paling besar.
Kemungkinan kalau di dalam sana ada raja atau ketua dari suku tersebut.
Wanita itu sepertinya suka rela memberikan kenikm4t4n seorang kepala suku dengan tidur bersama.
Karena aku tidak tahu bagaimana cara mereka menikah di hutan ini.
Suara jeritan wanita itu sudah dua kali aku dengar, dan kemungkinan wanita yang berbeda-beda.
Tampak dari bayangannya, kalau di dalam sana sedang ada aktivitas malam antara dua orang pasangan.
"Em .. sakit, Tuan ...," ucap suara seorang wanita.
"Aku suka ... kau benar-benar masih per4w4n cantik ...," kata seorang lelaki yang menjawab.
Aku menelan ludah, dan ternyata si kewajiban seorang wanita kepala suku adalah memecahkan per4-w4n para gadis-gadis di hutan ini.
Entah apa tujuannya, aku tidak tahu.
Mungkin tradisi mereka seperti itu.
Tak berapa lama, seorang wanita pun menemui aku yang ada di sekitar rumah.
Wanita berambut panjang dengan kulit sawo matang, dia menatap mantap ke arahku.
Kali ini aku terbangun karena sangat terkejut.
Pasalnya, aku tidak tahu kalau dia datang menemui aku.
Dengan tatapan sangat tajam, kali ini aku pun memandangnya.
Dia adalah wanita pertama yang aku lihat di sini.
Warna kulit yang sama seperti lainnya, dengan baju sangat berantakan.
Kali ini kami berdua saling tukar tatap.
Dengan merubah posisi badan, aku pun tidak tertidur lagi.
"Kau-kau ngapain di sini?" tanyaku sangat berbisik, kami mendekatkan wajah.
"Apakah kau hendak ke luar dari sini?" tanyanya memberikan tawaran.
"Hmm ... i-iya, aku mau ke luar dari sini.
Tapi kau harus bantu aku, bagaimana?" tanyaku lagi.
"Boleh, aku akan menyelamatkan kamu.
Tapi kamu harus ikut dengan aku pergi.
Bagaimana?" tanyanya lagi, memberikan tawaran.
Sumber:Internet