. Tanpa menjawab sama sekali, wanita itu hanya diam dan dia pun mulai membangkitkan badannya.
Tepat di dalam sebuah kuil, yang terletak di tengah hutan.
Kepergian wanita itu dari dalam sebuah kuil membuat aku penasaran, dia berjalan menuju sebuah ruangan yang telah memiliki dimar ublik.
Aku pun membangkitkan badan secara langaung dan berjalan menemuinya.
Perlahan-lahan dengan langkah kaki yang sangat gontai, kemudian tibalah aku di sebuah ruangan berada tak jauh darinya.
Wanita pedalaman itu memasuki ruang kecil bernuansa sangat gelap, aku memandangnya dari ambang pintu.
Dia seperti sedang melalukan ganti baju atau apa.
Dengan mata tercengang, aku pun mengembuskan napas panjang.
Apa yang tadinya aku pikirkan ternyata benar, dia sedang membuka semua yang telah dia pakai dan sekarang terlihat lekuk badan badan begitu memesona.
Dengan menelan ludah beberapa kali, aku pun mengembuskan napas panjang.
Lalu, tatapan pun aku buang menuju sejurus ke depan tembok.
Jiwa ini meronta-ronta, karena aku menelam ludah beberapa kali.
'Astaga ... Vanes begitu membuat aku menyala, kenapa g4ir4h itu datang secara tiba-tiba?' tanyaku dalam hati.
Memggunakan tangan kanan, aku memegang asetku yang telah bangun lebih awal.
Kemudian dari ujung kepala, aku mengelusnya beberapa kali sampai pangkal batang, ini adalah penglihatan yang tak biasa karena aku baru pertama kali melihat sebuah sawah dari seorang lawan jenis.
Saking merasa penasarannya, kemudian diri ini pun menatap lagi apa yanh dia lakukan.
Tak berapa lama, kemudian Vanes pun menatap ke arahku.
Seketika diri ini mengeluarkan keringat yang sangat deras, dan ketakutan pun datang menyergap.
Ternyata dia tahu kalau aku sedang memerhatikan dia sejak tadi.
Lalu, wanita itu pun berjalan mendekati.
Aku menelan ludah dan memegang pipi kanan.
'Ku kira ini hanya mimpi, ternyata benar-benar terjadi.
Ak-aku ... aku gak lagi mimpi dan semuanya bener-benar terjadi sekarang,' kataku dalam hati.
Vanes yang berada di ambang pintu pun mulai menatap sejurus ke arahku.
Padangannya sangat membuat aku gemetar, dia menarik kaos baju ini dengan sangat perlahan.
Mau tak mau aku pun ikut, lalu kami memasuki ruangan tersebut.
Dimar ublik yang ada di dinding kuil telah tertiup angin, seperti akan terjadi hujan.
Kemudian Vanes pun mulai merebahkan kedua sayap, aku berada di atasnya dan menatap sejurus sambil menelan ludah.
Wanita itu menggerakkan dagunya seperti memberikan kode agar aku menatap sebuah kekayaan nusantara yang dia miliki, segitiga yang sangat mulus itu dan penuh dengan vitamin untuk para lelaki perkasa.
Lalu aku pun mulai menatapnya, dan akhirnya aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dengan sangat cepat, kali ini aku melakukan apa yang dia pinta lewat bahasa tubuh.
Ujung lidah mulai bergeriliya, mendarat sempurna dan siap tempur bagai sebuah pasukan tentara yang sangat ganas-ganasanya.
Aku pun membuka si pusaka yang telah lama tidak di gunakan, mengambil ludah dan kemudian memberikannya di ujung kepala tumpul tersebut.
Namun, aku masih tidak berani memasukkannya, terlebih lagi kalau malam ini akan pecah per4-w4n yang dia miliki sekarang.
Kemudian dia mengangguk ringan, dan aku pun menelam ludah, lamat-lamat ujung benda tumpul masuk ke dalam sana.
Ukuran hampir dua puluh tiga senti meter, dengan diameter yang sangat mengembang, sangat susah menerobos masuk.
Namun, aku masih mencoba.
Dengan bantuan dari beberapa benda-benda pelembut dari mulut, aku kerja keras untuk itu.
Perlahan, ujung pun mulai tak kelihatan sama sekali.
Kemudian masuk perlahan, sampai memungkas sang kepala untuk berapa di dalam taktha tertinggi dari kehebatan seorang pejantan tangguh.
"Emm ... sakit ... Arjun, aku gak kuat," katanya sangat merengek, kemudian dengan cepat aku kembali menariknya ke luar.
"Aku akan lebih perlahan, kamu tahan ya Vanes ...," jawabku sangat lembut sambil mencoba membuat napas menjadi netra.
Sumber:Internet