. "Kita harus segera pergi dari sini, aku gak mau kalau kita sampai tertangkap oleh mereka!" pekik Vanes, membuat aku merasa sangat tergesah-gesah.
"Ta-tapi ... kalau kita pergi dari sini, aku takut kitanya akan di tangkap.
Apakah gak sebaiknya kita kembali ke kuil aja, Baby? Takutnya, kalau kita ke luar mereka semakin menangkap kita!" pekikku, dengan nada suara sangat ngegas.
"Arjuna, percaya sama aku.
Kita harus segera pergi dari sini, kamu enggak tahu gimana taktik kepala suku kalau dia sudah menginginkan kehendaknya," jawab Vanes, lalu aku pun tak tahu hendak berkata apa.
Tanpa berlikir panjang, kemudian aku menarik lengan Vanes dan kami ke luar dari dalam sungai ini.
Dengan menaiki permukaan, kami pun bergegas menuju ke sebuah hutan dan ingin segera pergi.
Pakaian kami yang basah ini sudah sangat berat, sampai-sampai untuk beralih pun sangat susah.
Aku tak dapat berkata apa pun selain pergi berdua dengan wanita ini, kami sekencang-kencangnya meninggalkan lokasi dan memasuki hutan kembali.
Dengan sangat terengah-engah, kemudian Vanes yang memimpin jalan karena dia yang tahu dan hafal kami hendak ke mana.
Awalnya aku tidak tahu siapa yang mengejar, dan siapa yang tengah mencari kami.
Namun, setelah suara seruan dari suku hutan pedalaman itu bersuara barulah aku percaya kalau kami sedang di kepung oleh mereka.
Ternyata hutan ini benar-benar tak aman bagi manusia sepertiku, dan kali ini aku mengikuti wanita di depan dengan sangat cepat.
Menuju ke berbagai jalan, berbelok ke sana dan ke mari.
Ternyata Vanes hafal jalan di hutan ini, dia pun sangat lihay memilih tanpa berpikir panjang.
Aku yang mengikuti dari belakang, tak sanggup lagi memerhatikan mereka yang datang dengan membawa sebuah anak panah lengkap dengan busurnya.
Berkali-kali mereka memberikan sebuah perlawanan, agar kami berhenti.
Namun, kami tak mau menyerah dan tetap saja berlari meninggalkan mereka sejauh mungkin.
Melintasi berbagai lembah, dan tak peduli sudah melintasi tempat-tempat hewan buas sedang beristirahat.
Aku dan Vanes menjadi pusat perhatian para hewan buas, karena kami mampu melintasi mereka tanpa berpikir panjang.
Kemudian aku pun merasa kelelahan, ini adalah pertama kalinya aku mengalami lari jarak jauh berkilo meter.
Dalam kesatuan, kami tak pernah seperti ini sebelumnya.
Bahkan melintasi sungai dan mengarungi air dengan arus yang lumayan deras, kini aku baru sadar kalau ternyata Vanes adalah perempuan yang sangat hebat.
Dia tidaj merasa lelah, dan larinya juga tak berhenti sama sekali.
Perasaan di dalam diri sudah merasa tak kuat lagi, kemuduan aku pun perlahan memberhentikan langkah.
Tepat di bawah pohon dewandaru, kami mulai melambatkan laju lari.
Aku sudah percaya kalau mereka tak memgikuti lagi.
Sebab kami tak mendengar suara seruan itu lagi, di depan sana sudah ada jalan yang sangat mulus.
Kemudian Vanes menemui aku, dia menatap sangat penuh cinta.
Begitu pun dengan aku, dalam waktu singkat sudah merasa sangat nyaman padanya.
Wanita itu mengelus lengan ini, dan otot-otot tangaku mengeluarkan urat di tambah lagi aroma yang kian membuat wanita itu merasa sangat nyaman.
Kemudian kami bersembunyi di bawah pohon dewandaru, aku pun mulai meletakkan badan di sana.
Vanes memeluk badanku, dia pun bernapas sangat terengah-engah.
Suara seruan tak terdengar lagi, bahkan tapak kaki pun tak terdengar bagiku.
Biasanya Vanes tahu kalau posisi kami tak aman, karena dia memiliki pendengaran yang sangat tajam, kali ini aku menyibak rambut panjangnya yang sangat menjuntai.
Ya, kecantikan alami yang dimiliki oleh Vanes mampu membuat aku semakin cinta.
Kami berada di hutan yang sama, dengan kehidupan duniawi yang berbeda.
Akan tetapi tidak masalah bagiku, karena dia telah mengajarkan aku tentang bertahan hidup di sini.
Tak takut berjuang sendirian, dan paham akan artinya cinta.
Ini adalah pertama kalinya aku berada di hutan terlalu lama, tak tahu arah pulang.
Sumber:Internet