. SATRIA POV"Hari ini kita akan mengenang kepergian Arjuna untuk ke tujuh hari.
Maka, saya akan menggelar sebuah acara berdoa bersama dan pemberian makanan untuk para prajurit sebagai sedekah, semoga saja apa yang kita bacakan ... nantinya dapat di ijabah oleh Allah SWT Tuhan kita semua," ucapku di tengah keramaian.
"Amin ...."Suara menggema bacaan ayat-ayat suci telah terdengar di penjuru tempat di mana sedang di laksanakannya sebuah acara genap tujuh hari.
Tepat pada hari itu, aku dan rekan-rekan lainnya pun di sibukkan dengan sebuah acara yang sangat membuat air mata ini meleleh.
Bagaimana tidak, hal ini belum pernah kami gelar sebelumnya.
Namun, karena aku sudah menganggap Arjuna adalah anakku sendiri, aku menggelar acara ini.
Tepat di tengah-tengah lapangan hijau selepas salat maghrib, kali ini aku mengumpulkan berbagai prajurit dari berbagai tempat.
Para senior dan kalangan petinggi lainnya, maksud hati adalah, agar arwah Arjuna yang sudah berpulang ke ramhatullah berdamai di sisi-Nya dan segala amal baiknya telah di terima.
Malam ini aku sengaja mengundang seorang ustaz yang sangat populer di daerah sini, membuka mimbar dan semua prajurit dari berbagai kalangan duduk di atas permadani.
Kami pun berdoa terlebih dahulu sebelum melaksanakan yang namanya acara, ini merupakan sebuah syukuran dan sedekah kirim doa.
Dulu sering aku lakukan di kampung, akan tetapi sudah jarang aku temui di sini.
Dan baru sekaranglah dapat kami laksanakan kembali, karena aku butuh waktu lama meminta izin pada jendral untuk hal ini.
Awalnya dia tak setuju karena kalau yang sudah meninggal harus di ikhlaskan, akan tetapi aku semata-mata agar mampu mengenangkan saja apa yang telah terjadi.
Bersama para petinggi TNI-AD, dan di tengah-tengah kami ada seorang ustaz akan mengisi ceramah malam ini.
Para sanak saudara, dan kerabat dari Arjuna duduk paling depan.
Mereka adalah Reza dan Dika.
Aku tahu kalau keduanya sangat akrab pada sosok almarhum, tak pernah terpisah mungkin ini adalah sebuah hal yang wajib di laksanakan kalau ada yang merasakan hal serupa.
Akan tetapi bukan hanya yang beragama muslim saja ada di sini, yang non-muslim juga ikut hadir dan mendengarkan ceramah ustaz dengan khotbahnya di tengah-tengah kami.
Solidaritas dan toleransi pun di tunjukkan oleh mereka, karena semuanya adalah sahabat terbaik dari Arjuna.
Karena yang aku tahu, kalau Lio adalah beragama non-muslim, sahabat Arjuna yang tak pernah terpisahkan itu turut hadit juga di sini.
Sekarang aku tahu, kalau ternyata orang baik banyak sahabatnya.
Dengan membacakan sepaling ayat-ayat suci al-quran dan beberapa doa lainnya, semua menundukkan wajah dan saling menitihkan air mata.
Kali ini aku juga melakukan hal yang sama, dengan menundukkan kepala, maka teringat sampai kapan diri ini akan bisa bertahan hidup.
Saat melihat Arjuna, aku teringat dengan anakku yang sempat memisahkan kami berdua di kampung.
Dulu aku sudah pernah menikah, akan tetapi bercerai karena istriku pergi bersama pria lain.
Namun, aku tidak tahu kala itu dia sudah mengandung atau belum.
Satu hal yang pasti, kalau sosok anak kecil selalu saja datang menemuiku.
Wajahnya mirip Arjuna, makanya aku sampai teriak-teriak saat tidur.
Melihat kehadiran Arjuna di Batalyon 3, aku pun teringat akan sebuah benih yang pernah ada di istriku.
Namun, itu sudah lama sekali.
Hampir dua puluh tahun kami berpisah, dan lebih lagi.
Aku tak tahu kabar Sekarโmantan istriku saat itu, semua ini adalah cobaan hidup.
Sejak saat itu, aku tak pernah menikah lagi dan memilih men-duda.
Bahkan ada yang menyangka kalau aku adalah lajang tua.
Tidak masalah bagiku, karena aku tidak seperti itu.
Dengan memperbaiki diri lebih baik lagi, dan dapat merubah sikap adalah hal yang harus di lakukan semua manusia bukan sekadar individu semata.
Setelah beberapa menit berdoa, kami pun mendengarkan ceramah ustaz kembali.
Dia membahas tentang hukum pernikahan, hukum kematian, yaitu maut dan jodoh.
Sumber:Internet