. Setibanya di depan asrama, para sahabat yang kala itu bercakap-cakap pun dia.
Mereka menatap ke arahku yang datang secara tiba-tiba, dari sakitnya badan tadi dan secepat itu aku sudah kembali.
Namun, bagiku semua inj tak ada apa-apanya dan hanya sedikit pusing saja.
Di bagian tengkuk kepala, sekarang sudah lebib baik.
Dengan berjalan sangat cepat, aku pun menuju ke tengah percakapan ketiga sahabat di dalam ruangan.
Mereka adalah Dika, dan Reza.
Keduanya adalah sahabat terbaikku, bahkan sampai saat ini tak ada yang tergantikan.
Dalam hitungan hari, persahabatan kami masih berusia seperti umur jagung.
Namun, karena nasib kami hampir sama, kami pun satu server dalan hidup ini.
Di suasana subuh mejelang pagi, kami sudah wajib bangun karena pada masa kami ini masih menjadi bahan bulan-bulanan para senior kalau terlambat sedikit pun.
Beginilah kerasnya mental di uji dalam sebuah asrama batalyon 3, yang sangat terkenal dengan disiplin luar biasa.
Tanpa bergabung pada kedua sahabat di dalam ruangan tengah, aku berjalan menuju ke kamar mandi.
Dengan membasuh diri menggunakan air yang terdapat du dalam bak mandi, sangat sedikit dan ini adalah sisa terakhir.
Biasanya kami mandi secara bergilir di salah satu kamar mandi yang ada di belakang bangunan, sampais aat ini aku belum pernah ke sana.
Karena di sana akan ada yang namanya uji mental seorang prajurit.
Kalau tidak tahan banting, maka akan tergilas oleh mereka yang lebih lama di sini.
Tujuannya adalah ingin membangkitkan mental para pemula, akan tetapi aku belum pernah merasakan itu.
Seketika air keran mati, dan tak dapat mengeluarkan sedikit pun air.
Semetara badan masih berlumur busa sabun, termasuk kepala.
Ini bukan yang pertama kalinya, dan aku menatap arloji.
Ternyata benar, setiap jam 05.
00 WIB, air dipadamkan di dalam asrama dan kami harus bergerak ke belakang untuk mandi secara berjamaah.
Karena aku sudah terlanjur mandi, diri ini pun mengambil handuk di samping tembok dan langsung meletakkannya di bahu.
Kemudian aku melipatnya untuk menutup ke bagian perut sampai bawah.
Semua sudah basah, dan akhirnya aku ke luar tanpa baju dari asrama.
Bahkan celana pun tak terpakai, dan Dika serta Reza menatap mantap ke arahku yang sekarang bergeming di tengah ruangan.
Mereke tercengang, karena badanku memang sangat sixpack.
"Apakah itu aku, Juna?" tanya mereka.
"Hmm ... ini aku.
Kenapa dengan kalian, seperti lagi lihat gadis saja.
Aku mau mandi, apakah kalian akan di sini terus?" tanyaku pada kedua sahabat.
"Lah, apakah air sudah padam? Ini masih jam berapa, kenapa kita harus mandi di belakang?" tanya Dika sangat kesal.
"Kalau malam itu, kalian stok air biar kita gak mandi di luar.
Kalau udah gini, jadinya repot.
Gih, kita ke sana sebelum ramai orang entar makin tambah lama mandi," ajakku dengan berjalan meninggalkan kedua sahabat.
Kemudian Dika dan Reza pun berlari dari belakang, mereka membawa sarung dan handuk yang di letakkan di atas bahu.
Kami bertiga berjalan menuju ke sebuah tempat untuk mandi, dan ternyata di sana sudah ada para senior yang lebih dulu datang.
Namun, belum banyak dan masih tersisa beberapa sekat ruangan.
Aku berjalan sejurus ke depan, kemudian seorang senior menghentikan langkahku di depan teras.
"Stop!" katanya.
"Siap, kenapa Bang?" tanyaku dengan sangat heran.
"Kalian baru datang, kenapa mau masuk saja.
Ngantre, kami belum siap mandi," katanya dalam berkata, kali ini ucapannya memekik.
"Tapi di sana masih ada tiga sekat yang belum terpakai, agar lebih kondusif harusnya semua masuk dan bisa gantian," kataku memberikan nasihat.
"Anak baru mau mengatur kami, jangan sok hebat kamu di sini.
" Kemudian senior pun datang dan mendekati aku, dia berjalan pententengan dan mendongak sombong.
Karena aku merasa masih pemula di sini, tak ada alasan untukku melawan mereka.
Kalau mereka sudah beramai-ramai datang, makan akan keroyokan.
Kemudian aku diam dan datang dari belakang sang sahabat, dia adalah Dika.
"Udah-udah, sekarang kita antre.
Entar terjadi keributan, gak baik," katanya menenangkan.
Aku pun menarik napas panjang, ini adalah pandangan yang tak kondusif bagi sebagian pemula.
Karena ruangan di biarkan tak terpakai padahal masih ada sisa di dalamnya.
Aku pun menunggu dan duduk di tepi tembok, satu persatu dari mereka ke luar dan ternyata yang mandi adalah seorang bos dari kawanan mereka.
Namanya Farel, dia adalah orang paling di takuti di sini.
Bukan karena tinggi jabatan, tetapi ayahnya adalah seorang jendral kepolisian.
Sehingga tak ada yang berani melawannya atau pun berbuat yang tak enak padanya.
Namun, aku tidak peduli sama sekali.
Ini bukan perkara siapa yang lebih tinggi jabatan, melainkan dari sebuah hak dan kewajiban sesama prajurit.
Ketika aku berjalan menuju ke ruanganan mandi, seseorang dari belakang pun menatap wajah ini sangat sini.
Dia pun menghentikan aku, kemudian dia berkata, "kau jangan sok keras, awas aja kalau berani macam-macam sama kami!" ancamnya.
Dika pun menelan ludah, termasuk aku yang sekarang akan mandi.
Namun, ucapan-ucapan itu tidak masuk ke dalam pikiranku.
Yang pasti, di sini aku benar dan tak melakukan hal-hal jahat.
Kami pun masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh diri.
Air di sini memang segar, tidak hangat seperti yang ada di asrama.
Akan tetapi harus melalui beberapa tahap untuk menuju ke sini, aalah satunya adalah senior.
Wajah mereka yang tak memiliki senyum itu mampu membuat siapa pun akan takut, gemetar, sampai mual-mual.
Bersama para sahabat, kami pun segera mandi dan membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, kami pun telah selesai dan ke luar dengan beriringan.
Dika menyiku di samping kanan.
"Sob, aku gak suka banget sama senior yang namanya Farel.
""Hmm ... kenapa, apa yang salah sama dia?" tanyaku sangat pura-pura tak tahu.
"Ya ... kau juga tahu jawabannya kan.
Dia itu sok banget, mentang-mentang anak orang kaya.
Aku gak suka aja, sepertinya dia menang orang dalam," ujar Dika lagi.
"Menurut aku juga gitu, sih, soalnya gaya bicaranya ampun ... kayak film drakor banget.
Penuh dengan drama," sambar Reza dari samping.
"Ye ... kamu sih korban drakor, kami gak tahu siapa yang kau maksud itu!" omel Dika seraya menarik handuk Reza.
Kami pun terkekeh dan sangat merasa terhibur, ini adalah pertama kalinya kami mandi di belakang.
Dan menurut beberapa orang mengakatan, kalau di sana banyak tantangan saat mandi.
Namun, kalau menurutku biasa saja karena menang hanya senior sebagai hambatan.
Di sepanjang jalan banyak prajurit satu letting yang berjalan ke arah kamar mandi, mereka menatap kami bertiga dengan wajah yang sangat aneh.
Aku pun tersenyum malu, karena mereka mengarah ke bagian-bagian yang aku tutupi.
Salah satunya adalah si Joni, memang terlihat lebih menonjol dari balutan handuk.
Di banding milik Reza dan Dikaโsahabatku, akan tetapi dia belum berontak sama sekali.
Masih tidur karena kedinginan, akan tetapi sudah sangat terlihat.
Kemudian Dika pun memberhentikan langkah kami di teras asrama, dia pun menatap serius ke arah orang-orang yang menatap.
"Bentar-bentar, kenapa mereka melihat kita seperti mau menerkam?" tanya Dika.
Reza menaikkan dua pundak bersamaan.
"Gak tahu, barangkali ada yang aneh sama kita," jawabnya.
"Aku rasa anehnya ada di kau, Jun.
Coba lihat apa yang kau rasakan aneh di dirimu?" tanya Dika sambil mengelus dadaku.
Kemudian aku menjawab, "gak ada yang aneh.
Aku biasa aja, emang apa yang aneh?" tanyaku.
Bersambung ...
Sumber:Internet