. Kami yang sekarang ada di luar ruangan pun merasa sangat senang akan kehadiran Arjuna yang kembali dari masa reinkarnasi.
Sebuah anugerah terindah, penyemanagat dalam dirimu telah mempertemukan aku kembali saat ini.
Pada saat yang tepat, dan ini adalah merupakan tempatnya kami sedang menunggu kabar dari tenaga medis yang sedang fokus untuk menangani keadaannya di dalam sana.
Di sini, di rumah sakit khusus perawatan para prajurit yang terkenal.
Aku, Ferdi, dan Ustaz pun menunggu bersama-sama.
Sang waktu terus bergulir, membuat diri ini tak sabar akan kehadirannya.
Dari sekian lama kami menunggu akan hal teraebut, untuk sebuah kabar yang menyatakan kalau dia meninggal dunia.
Barulah aku paham, kalau ternyata doaku dan hati kecil ini benar, dia tidak meninggal dan tak benar-benar meninggal dunia.
Parasaan semang itu tak dapat aku gambarkan sekarang, kemudian aku membangkitkan badan dan segera berjalan menuju ke ambang pintu.
Dari balik pintu kedua mata ini menatap menuju ruangan, tempat di mana Arjuna sedang di rawat.
Orang yang terlihat sangat gagah itu telah terbaring di atas dipan, lalu aku pun tersenyum walau pun hati ini menangis.
Berita tak sedap menyapa anak itu, sungguh malang nasib dia yang sangat miris.
Sudah tak punya orang tua, malah ada satu rekan yang sepertinya tidak suka dengan kehadirannya di batalyon 3.
Aku dapat mencium aroma-aroma yang tak baik di antara Arjuna dan Farel, karena mereka sepertinya akan bersaing secara tak sehat dalam hal ini.
Mungkin kalau dia sudah sembuh, aku akan bertanya langsung bagaimana krolonogi kejadian di hutan sampai menahannya selama tujuh hari.
Aku adalah orang yang sangat tidak suka kalau di bohongi, karena tipe orang sepertiku tidak begitu suka dengan sebuah posisi dengan menjautuhkan orang lain.
Aku adalah tipe orang yang bersaing secara sehat, tidak mau menjatuhkan siapa pun.
Tetapi sekarang aku senang, Tuhan ternyata menyayangi hambanya yang sedang berjuang.
Aku pun tersenyum menatap ke arah sejurus, malam ini akan aku tunggu sampai dia benar-benar sadar dari masa perawatan oleh tenaga medis di dalam sana.
Aku tetap saja tak tenang kalau dia belum membuka mata.
Tak berapa lama, sebuah sentuhan mendarat di pundakku paling belakang.
Secara saksama, aku menoleh orang tersebut yang merupakan seorang ustaz.
Dia ternyata ber pamitan hendak pulang, kali ini aku pun memberikan dia pulang karena sudah menemani malam ini.
Mencairkan suasana, dan selalu menjadi gardam terdepan ketika aku sedang kehilangan arah.
Kami berpisah di rumah sakit ini, untuk masalah biaya pembayaran aku telah lakukan ketika belun memboyongnya ke dalam batalyon 3..Yang ada di sini tinggal Ferdi saja, karena aku menerintahkan mereka untuk tidak datang malam ini.
Karena di Batalyon 3 sangat membutuhkan mereka, sehingga aku tak bisa begitu saja meninggalkan tempat yang sedang tidak aman dan baik-baik saja.
Seraya mondar-mandir tanpa henti, lalu Ferdi pun bangkit dari atas kursi.
Dia menemui aku juga dan kali ini kami saling bertukar tatap.
Lelaki yang menjadi sahabat lamaku, menemani karir ini dari nol sampai saat ini.
Semua rahasia hidupku ada padanya.
Dan kali ini mau menghibur aku walau sekadar singgah di rumah sakit, aku bangga punya sahabat seperti dia.
"Satria, sebaiknya kau duduk dan tunggu saja di sini, gak perlu mondar-mandir," ucapnya, kali ini dia membuat aku sedikit malu.
"Ta-tapi, tapi aku gak tenang kalau melihat Arjuna belum sadarkan diri juga malam ini, Ferdi ...," jawabku.
"Aku paham ... tapi kau tak perlu seperti itu, yang penting dia sudah kembali, dan kau harus menjaga kesehatanmu juga, dong," katanya, karena dia ada benarnya kemudian aku kembali duduk.
Tepat duduk bersebelahan, kemudian Ferdi yang sekarang sudah memiliki tiga anak itu menyentuh lengan tangan ini.
Secara saksama aku menolehnya, dan menatap wajahnya.
Dia adalah orang satu-satunya yang membuat aku kuat, menggadapi kehidupan ini.
Lalu aku pun menarik napas panjang seraya menelan ludah.
.
Sumber:Internet