Gelap

Gairah Sersan Ku 44

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Gairah Sersan Ku 44

. Malam dengan udara yang sangat dingin, kali ini aku membaringkan badan di atas sebuah kursi tunggu yang ada di depan ruangan perawatan Arjuna.
Tidak mengapa, semua ini aku lakukan sebagai tanda bersyukurnya kalau orang yang selama ini telah ada dalam diriku, kembali dengan wajah yang tanpa cacat dan luka.
Seraya merebahkan kedua sayap, perlahan badan ini meringkuk dan sejurus menatap arloji.
Di dinding ruangan ini, telah ada sebuah arloji yang tergantung menunjukkan tengah malam.
Maka, orang-orang di sekitar ini telah sunyi dan tak ada lagi berjalan mondar-mandi.
Kali ini, Ferdi pun pergi entah ke mana.
Sejak kami ke luar dari ruangan, sahabat meninggalkan aku sendirian dalam ruangan ini.
Kebetulan prajurit yang ada di rumah sakit ini berjumlah sedikit, dan tepat di lorong ini juga cuma Arjuna.
Sehingga tidak ada yang melintas, aku hanya berkhayal seraya merenung dalam sebuah mata terbuka.
Walau pun aku sudah tidak layak berpikir yang macam-macam, karena akan fokus pada sebuah anak di dalam sana tengah membutuhkan donor darah dariku.
Dengan suka rela, aku akan memberikan dia apa pun yang hendak di butuhkan.
Tak pernah sebelumnya aku merasa selemah ini, sekarang terbongkar kalau aku lemah jika tidak menyelamatkan nyawa Arjuna.
Dengan sangat penuh dosa, aku telah percaya berita yang datang dari prajurit tanpa tahu kebenarannya seperti apa.
Sekarang telah nyata, kalau isu tersebut terjawab dengan sebuah doa.
Mungkin esok atau lusa, aku akan memberikan sebuab penguatan mental pada prajurit yang lainnya agar tidak mudah mengatakan kalau seseorang tiada dengan hanya sebuah seragam yang hilang.
Dalam hal ini, aku tak menyalahkan siapa pun.
Hanya saja, sebagai pimpinan dan komandan, aku merasa malu kalau sampai sekarang ada orang yang lebih hebat dari pada aku.
Bertahan hidup satu minggu penuh di dalam hutan, biasanya tak pernah ada.
Dulu sempat ada yang mengalami itu, akan tetapi hanya tiga hari dan berhasil di selamatnya.
Namun, Arjuna membuktikan kalau dia bertahan dalam hal ini dan tetap konsisten pada kesehatan serta pulang sendiri ke batalyon 3 tanpa bantuan dari pihak mana pun.
Aku sangat bangga dan salut, perjuangannya dalam hal ini membuat aku tak dapat berkata apa pun.
Seraya menutup kedua mata, kemudian aku memandang sebuah depan yang di penuhi kegelapan.
Hitam, gelap, dan pekat.
Kemudian aku pun mencoba mencari sebuah jalan untuk menapak, seketika sebuah cahaya datang menyapa.
Kemudian aku berjalan menuju arah cahaya itu yang sepertinya menunjukkan jalan menuju ke suatu tempat.
Perlahan, langkah kaki ini menapak.
Lama-kelamaan akan semakin maju, dan tibalah di sebuah taman.
Aku berhenti dan melihat banyaknya anak kecil di sana, ada laki-laki dan ada perempuan.
Namun, semuanya memiliki orang tua.
Hanya ada satu lelaki yang tak mengajak orangtuanya, dia tampak diam dan memperhatikan yang lain.
Seketika hati ini tersentak, dan aku pun mulai menitihkan air mata.
Karena jujur saja, kami memiliki nasib yang sama.
Karena aku juga tidak punya anak,Tak berapa lama, aku berjalan menemui anak itu yang sedang duduk sendirian di atas kursi.
Dengan memasang wajah semringah, kemudian aku duduk di samping anak tersebut dan memerhatikan dia secara saksama.
Namun, anak tersebut tak melihat aku datang, dia hanya sekadar fokus ke arah depan saja.
Sampai pada akhirnya, aku mencoba menyentuh punggung tangannya.
"Hai," ucapku mengawali percakapan ini.
Lalu anak itu menoleh, dia pun menjawab, "kamu siapa, Om?" tanyanya, kemudian menoleh lagi menatap depan.
"Kamu sama siapa datang ke sini? Kok, om perhatikan kalau kamu dari tadi melamun aja melihat orang itu?" tanyaku bertubi-tubi.
"Hmm ... kapan, ya, Om, aku punya ayah dan ibu.
Udah lama aku tinggal sama nenek, gak pernah jalan-jalan kaya mereka," titahnya menjelaskan.
"Kamu tinggal sama nenek?" tanyaku lagi.
Anak kecil itu mengangguk, lalu dia pun menarik napas panjang.
Ini adalah kali pertama aku melihat anak bermata sipit dengan sangat tampan sepertinya.
Kemudian, aku pun merasa sangat iba dan sangat ingin mengajak dia untuk pergi ke pusat permainan itu.
"Kamu mau enggak, main sama Om? Kita ke sana, naik prosotan dan yang lainnya.
Kalau nanti kamu mau naik ayuna, om yang akan menemani kamu," jelasku lagi mengajaknya.
"Apakah Om bener mau menemani aku? Entar, anak om gimana kalau sampai tahu ayahnya sama aku?" tanyanya seraya mengernyit.
"Om gak punya anak, kalau enggak hari ini yang jadi anak om adalah kamu.
Soalnya, om juga sendirian aja datang ke sini," paparku menjelaskan.
"Oke, siapa takut.
Kalau begitu, kita jalan ke sana, yuk, Om.
Aku gak mau lama-lama di sini," jelasnya sambil menatap serius.
"Ayok ...!" jawanku, kami pun turun dari kursi dan berlari menuju perosotan di depan sana.
Awalnya anak-anak di sini tidak memerhatikan anak tersebut.
Akan tetapi, sejak aku ajak main meraka pun menatap kami secara saksama.
Kebahagiaan aku tertutupi oleh anak ini, dan sepertinya aku suka akan sikapnya yang begitu ramah.
Sehingga kami dapat bermain dengan sangat gembira.
Beberapa waktu telah berlalu, aku pun memberhentikan sebuah ayunan dan menatap sebuah es yang ada di pinggir jalan.
Anak tersebut menatap aku, dia sangat heran dan seperti menginginkan as krim yang berhenti di pinggir jalan itu.
Aku yakin kalau dia juga mau makan es tersebut, karena anak-anak di sini hampir semuanya membeli.
Lalu, aku pun menarik lengan anak tersebut dan hendak mengajak nya membeli es tersebut.
"Kamu mau beli es sama om, gak?" tanyaku lagi.
"Hmm ... om, aku di sini aja deh, lagi seru main ayunan.
Om aja yang beliin, ya, habisnya aku udah gak mau lagi ke sana," jelasnya lantang.
"Oke, om akan ke sana membeli es krim, kamu tunggu di sini jangan ke mana-mana, ya.
Oh, ya, kamu mau rasa apa sayang?" tanyaku padanya, sambil bersimpuh di hadapannya.
"Aku mau rasa anggur aja, Om," katanya.
Dengan mengangguk, kemudian aku mengelus rambutnya dan tersenyum.
Ini adalah hal yang paling membuat aku bahagia, karena seumur hidup baru kali ini ada anak kecil yang sangat senang bermain dengan aku.
Dia adalah bocah laki-laki yang seperti biasanya hadir dalam kehidupan, sudah sering aku melihatnya.
Namun, sampai saat ini aku tak tahu dia tinggal di mana.
Mungkin setelah membeli es krim ini, aku akan bertanya di mana anak itu tinggal.
Agar tidak kehilangan lagi jejaknya, karena selama ini aku tak bertanya siapa dia dan dari mana datangnya.
Dengan berjalan sangat laju, aku menyeberangi jalan raya dan berhenti di tepi trotoar.
Penjual es tersebut berada di sana dan melayani banyak pembeli.
Ketika aku datang, dia menatap serius dan kali ini tersenyum semringah padaku.
"Mau pesan apa, Pak?" tanyanya, lalu dia sangat heran karena memang sekarang aku masih memakai seragam loreng TNI-AD.
"Saya lagi ajak anak main di taman, Pak," jelasku sambil menatap si anak yang masih naik ayunan.
"Anaknya yang mana, ya, Pak?" tanya penjual es krim itu.
Dengan tangan kanan, aku menunjuk anak tersebut yang masih asyik bermain di ayunan.
Lalu penjual pun langsung tersenyum, sepertinya dia mengenali anak itu.
Karena setelah tahu kalau aku bersamanya, dia langsung tersenyum semringah.
"Bapak kenal sama anak itu?" tanyaku spontan, lalu penjual pun berhenti beraktivitas mengambil es dari dalam viber.
"Ya ... tahu banget, lah, Pak.
Anak itu ada di sekitar ini rumahnya, sekarang dia tinggal sama neneknya berdua.
Tapi ... neneknya bekerja, jadi kalau dia sudah pulang dari TK main di sini sendirian," jelasnya.
"Oh, ya, berarti anak itu yatim piatu kalau begitu, Pak?" tanyaku sangat heran.
"Dia sebenarnya punya ayah dan ibu, tapi keduanya berpisah.
Ya, sejak saat itu dia di asuh oleh neneknya.
Maklumlah, karena si nenek juga gak ada yang nyarikan nafkah jadi harus kerjalah, untuk belanja sehari-hari," jelasnya.
"Oh, jadi anak itu masih punya ayah.
Aku kira yatim, soalnya kalau melihat yang lain lagi main, dia sepertinya sedih begitu.
""Tapi anaknya gak cengeng, kok, Pak.
Suka berteman, walau pun gak ada yang mau berteman sama dia di sini," papar penjual es krim itu.
Bersambung ...
Sumber:Internet