. "Ini, Pak, es krimnya," ucap seorang penjual dari es tersebut.
"Baik, Pak, ini uangnya.
Kembaliannya Bapak ambil aja, saya ikhlas anggap aja sedekah," kataku sambil tersenyum semringah.
"Terima kasih, ya, Pak semoga bisa menemukan anak yang sangat baik buat Bapak dan bisa di jadikan seorang anak angkat," katanya berdoa.
"Amin ...."Kemudian aku berjalan meninggalkan seorang penjual dari tepi trotoar.
Karena aku hendak menemui anak laki-laki yang baru saja mengajak aku bermain di dalam taman.
Namun, sejak aku kembali tak terlihat lagi dia ada di mana.
Namun, terkadang berlari ke sana dan ke mari.
Setibanya di dalam sebuah ayunan, kedua mata ini tercengang karena sosok orang-orang di dalam sini tak ada.
Semuanya kosong, bahkan tidak ada satu pun anak kecil yang bermain.
Hanya embusan angin dan udara yang menyapaku, bagai sebuah pemandangan di tanah datar.
Semua seolah musnah dan pergi, meninggalkan aku sendirian tanpa ada sebab.
Anak kecil yang tadi sangat baik mengajak aku bermain pun hilang, secara spontan air mata jatuh.
Ternyata aku hanya berkhayal semata dan tak memiliki kuota hendak bahagia dengan seorang anak kecil.
Seraya mendudukkan badan di atas ayunan, kemudian aku menarik napas panjang dan menoleh kanan serta kiri.
Air mata masih mengalir deras, membuat sekujur tubuh ini sangat lemah.
Es krim yang ada di tangan kanan dan tangan kiriku pun akhirnya terjatuh di tanah.
Bagai tak ada keinginan lain selain menemui anak tersebut.
Sosok wajahnya yang hilang, tak terkenang selama aku menemuinya beberapa menit lalu.
Tepat di sini, dan taman adalah tempat yang sering aku temui ketika mimpi.
Lalu, aku menoleh dan memutar ke belakang.
Penjual es krim pun tak ada di sana, bagai berkata dengan seorang hantu saja di siang bolong.
Inilah kenyataan pahit yang harus aku terima, tidak ada satu pun orang dapat membuat diri ini nyaman.
Tak berapa lama, aku menoleh ke tanah.
Di tanah bekas tempat berpijak anak itu telah hadir sebuh kalung dengan liontin yang sepertinya aku pernah lihat.
Liontin sangat cantik itu pernah aku miliki ketika awal menikah dengan istri dulu.
Namun, karena asyik berpindah tugas saja aku tak pernah menemui liontin itu ada di mana lagi sekarang.
Dengan menggunakan tangan kanan, kemudian aku mengambil liontin tersebut dan memeluknya.
Ciuman terhadap benda tersebut seorang mengajak aku untuk tidak bersedih lagi.
Aku yakin, kalau liontin itu adalah milik anak laki-laki yang tadi ada di sini bersamaku.
Dengan segenap hati dan kepercayaan ini, aku pun semakin berubah pemikiran kalau anak yang hadir tersebut di dalam mimpi adalah yang punya liontin tersebut.
Seraya mengantongi liontin itu, kemudian dari samping kanan ada embusan sebuah bayangan yang indah.
Lalu, aku menoleh dan menatap lagi kalau anak itu datang dan berdiri di tepi jalan.
Dia seolah tersenyum dan mengajak aku pergi, dengan sangat cepat diri ini melompat dari ayunan dan langsung menuju ke tepi jalan.
"Sayang, kamu dari mana aja?" tanyaku dengan sangat lembut.
"Aku tadi lagi ke sana, om ngapain masih ada di sini?" tanyanya balik.
"Ya ... om dari tadi nungguin kamu datang.
Entah ke mana pergi, sekarang malah balik lagi.
Kamu mau gak, panggil om dengan sebutan ayah.
Soalnya ... kamu akan jadi anak om nanti," jelasku merayu anak tersebut.
Lalu dia pun mengangguk.
Perasaan ini merasa sangat terobati, dan kemudian aku memeluk badannya seraya meneteskan air mata.
Dengan sangat lembut, aku langsung mengelus rambutnya itu.
"Ayah sayang sama kamu, semoga kamu sayang juga sama ayah," jelasku.
Tanpa menjawab sama sekali, lalu anak di dalam dekapan pun menghilang dari pelukan.
Aku tercengang, ternyata sosok tersebut hanyalah bayangan semu semata.
Dengan sangat menangis histeris, aku tak sanggup berkata-kata.
Sumber:Internet