Gelap

Gairah Sersan Ku 47

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Gairah Sersan Ku 47

. "Arjuna ... kamu dulu punya ibu namanya siapa kalau boleh tahu?" tanyaku dengan nada suara parau.
"Kenapa, Dan, tanya seperti itu?" Kali ini Arjuna yang bertanya balik padaku.
Kemungkinan di waktu sakit seperti ini, hati seseorang akan lebih mudah terluka.
Sehingga aku tak mau terlalu bertanya padanya akan siapa dia dan ibunya, karena akan membuat semua ini akan menjadi tak baik.
"Lupakan aja, saya hanya sekadar ingin tahu aja tadi.
Kalau kamu gak mau jawab juga gak masalah, kok, karena ini adalah hal yang tak perlu kamu jawab," paparku menjelaskan.
Tepat di dalam ruangan ini, aku pun menatap kembali Arjuna yang sekarang tengah menutup kedua bola matanya.
Tak berapa lama, datang seorang perawat yang biasa merawat pasien TNI AD di dalam rumah sakit ini.
Kehadiran wanita itu membuat aku berubah posisi, karena dia sepertinya akan menyuruh aku pergi dari sini.
"Selamat pagi, Pak, apakah benar kalau Bapak adalah orang yang bersedia donor darah?" tanyanya sangat lembut.
"I-iya benar, apakah sudah bisa, Sus?" Tanyaku balik dengan nada suara sedikit lembut.
"Sudah bisa, kok, Pak, silakan Bapak ke ruangan bawah.
Nanti akan ada yang menunggu di depan pintu, untuk sementara ini saya akan merawat pasien lagi dan mengecek segala sesuatunya.
"Dengan mengangguk ringan, aku pun pergi meninggalkan Arjuna di dalam ruangan ini.
Walau pun sedikit tidak terima kalau aku harus pergi dari sini, karena masih banyak pertanyaan yang akan aku katakan pada Arjuna.
Seraya berjalan sangat laju, kali ini aku menuruni anak tangga lantai dua.
Ya, tujuannya adalah lantai satu karena akan segera mendonorkan darah untuk kesembuhan Arjuna.
Ke kanan dan ke samping kiri aku menoleh, ternyata tiba juga di depan ruangan tersebut yang tak lain adalah tempat berkumpulnya para pendonor.
Seorang dokter telah menghampiri, menggunakan stetoskop di lehernya.
"Selamat pagi, Pak, apakah bersedia mendonorkan darah?" tanyanya padaku.
"I-iya, Dok, saya mau donorkan darah yang akan di pakai oleh pasien atas nama Arjuna hari ini," paparku menjelaskan.
"Baik, kami akan cek tensi dulu ya Pak, silakan duduk sebentar di sini," katanya panjang kali lebar.
Aku mengangguk dan mengikuti apa yang di katakan olehnya.
Kemudian datang seorang wanita sebagai perawat di rumah sakit, dia pun mengajak aku untuk ke ruangan.
Dan akhirnya kali ini aku berhadapan dengan yang namanya jarum suntik, setiap satu tahun sekali aku akan mendonorkan darah.
Akan tetapi, sekarang demi Arjuna dan kesembuhannya aku rela berapa kantong pun yang akan di ambil olehnya.
"Silakan tidur di sini, Pak, saya akan mulai ambil darahnya, ya," katanya menjelaskan.
Lalu aku pun mengangguk dan segera merebahkan kedua sayap.
"Oke, Sus," jawabku secara spontan.
Pengambilan darah pun berlangsung, aku hanya menikmati apa yang terjadi hari ini.
Karena selama ini rutinitas tersebut hanya sekadar untuk kesehatan dan wajib setahun sekali, sekarang demi Arjuna.
Mau berapa pun akan aku kelurahan hanya untuk dia.
Dari arah samping, kemudian aku pun melihat seorang lelaki yang memiliki kemampuan dalam tes darah.
Ruangan ini telah tersedia banyak golongan dan salah satunya adalah aku, memiliki golongan AB dan kemungkinan akan di cocokkan pada Arjuna.
Aku berinisiatif kalau akan mencocokkan antara darahku dan miliknya.
Saking penasarannya, membuat diri ini sangat tak henti-hentinya berharap.
Setelah selesai melakukan hal tersebut, aku pun langsung bangkit dari pembaringan dan langsung menuju ke arah cermin hias.
Walau jalan sedikit sempoyongan, karena di sini tak banyak puding seperti yang aku dapatkan.
Dokter yang membawa kantong putih itu segera menuju ke ruang lab, dan dia menjaga kerahasiaan akan apa yang sudah di ambil olehnya.
Beberapa menit setelahnya, aku pun menujunya dan duduk di tepi ruangan.
Menanti sang dokter ke luar dari ruangan privasi yang dia punya, lalu diri ini menatap sebuah lengan bekas donor tersebut.
Tak berapa lama, sang dokter pun datang dan ke luar dari ruangan miliknya.
Melihat aku yang ada di samping ruangan, dia mengernyit dan kali ini kami saling duduk berdua dalam pembicaraan.
Secara saksama aku memerhatikan dokter yang tampak polos itu, karena saking penasarannya kalau Arjuna anak kandungku atau bukan.
Berdasarkan dari apa yang terlihat, kami memiliki banyak kesamaan.
Di antaranya adalah tanda lahir di lehernya, dan ada juga di telapak kakinya.
"Pak, kenapa gak balik ke ruangan?" tanya si dokter seraya mengernyit heran.
"Oh, i-iya, aku mau tanya sama Pak Dokter.
""Perihal apa, ya, Pak kalau boleh tahu?" tanyanya lagi, aku pun segera memutar badan.
"Jadi begini, saya selama ini pernah bermimpi lewat siasat.
Akan seorang anak yang selalu saja hadir dalam mimpi saya.
Nah, sekarang anak yang saya maksud ada di ruangan pasien, saya mau minta tolong sama Pak Dokter, bisakah membantu untuk cek DNA di antara kami?" tanyaku menjelaskan panjang kali lebar.
"Hmm ... tapi ini tidak dapat secara spontan dapat hasilnya, Pak, membutuhkan sekitar satu minggu atau bahkan bulanan.
Karena kami tidak bisa asal memutuskan.
Kalau Bapak mau cari rumah sakit yang peralatannya lebih canggih, kemungkinan bisa," paparnya menjelaskan.
"gak masalah, dok, yang penting berapa pun akan aku bayar untuk hal ini.
Asal, pihak rumah sakit bisa memberikan tes DNA itu pada saya, tolong dokter.
Ini sangat penting bagi saya," kataku lagi.
"Kami akan berusaha dengan sekuat tenaga kami, Pak, tenang saja ya kami akan membantu dengan senang hati," jelas si dokter.
"Kalau boleh tahu, kenapa anda begitu yakin dengan mimpi.
Kan, bisa aja kalau orang yang di maksud adalah orang lain?""Karena ... saya dulu pernah menikah, hampir dua puluh tahun yang lalu.
Sejak kami di pisahkan karena istri saya menikah lagi, kami sempat berhubungan.
Dan sekarang saya yakin, setelah melihat Arjuna.
Ada yang berbeda di antara kami, profilnya juga hampir sama," paparku lagi panjang kali lebar.
Kemudian si dokter pun mengangguk.
"Baiklah, kalau misalnya pendapat kami tidak sesuai dengan apa yang Bapak harapkan, mohon kiranya di maafkan, Pak!" "Itu sudah aku pikirkan sejak lama, dok, sebelumnya terima kasih sudah membantu aku dalam masalah ini," paparku.
"Baik, Pak, kalau begitu saya permisi pergi.
Akan ada yang mau saya lakukan lagi," ucap si dokter yang langsung meninggalkan aku pergi.
Dalam hati ini sangat merasa senang.
Bagaimana tidak, aku yang sudah berharap kalau Arjuna akan mengetahui siapa aku dan ini adalah rencana yang telah kami lakukan.
Aku yakin dan benar-benar yakin, kalau Arjuna adalah anak dariku.
Di sepanjang perjalanan menuju ruang Arjuna, tak henti-hentinya aku berkata dalam hati.
Hingga pada suatu ketika, Ferdi pun hadir di depan ambang pintu ruang pasien.
Dia menatap aku dengan wajah yang sangat semringah, kali ini aku menemuinya dan tersenyum.
"Eh, ada yang lagi bahagia banget ini, kenapa ya kira-kira?" tanya Ferdi tertahan.
"I-iya, aku akan beritahu kalau sudah tepat.
Kamu sejak kapan ada di sini, fer?" Kali ini aku bertanya gantian.
"Udah dari tadi.
Aku lihat, Arjuna sudah bisa bergerak.
Apakah dia udah siuman?" "Alhamdulillah ... aku gak nyangka kalau dia sudah secepat itu baikan, dan sekarang aku mau masuk.
Mari, kita ke dalam saja," ajakku dengan sahabat dekat.
Kami memasuki ruangan, di atas meja telah ada sebuah makanan untuk sarapan pagi.
Namun, sepertinya Arjuna belum makan juga pagi ini.
Dengan sangat lembut, aku mengambil nasi tersebut dan langsung menatap orang yang sekarang sedang terbaring.
Sentuhan lembut pun aku berikan padanya, tepat di lengannya.
"Arjuna ... bangun dulu, sarapan pagi," kataku mengajaknya.
Bersambung ...
Sumber:Internet