Gelap

Gairah Sersan Ku 48

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Gairah Sersan Ku 48

. Memberikan sebuah kasih sayang pada seorang anak adalah impian dariku sejak lama.
Di pagi yang cerah ini, aku akan senantiasa selalu memberikan apa menjadi kebutuhan.
Cukup bagiku kehilangan satu orang yang sangat memmiliki dampak besar terhadap diri.
Kali ini di bangku dengan menatap mantap kedua bola mata sang prajurit di dalam sebuab dekapan, kami sarapan sebagaimana sudah aku lakukan sekarang.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter yang baru saja memberikan donor darah itu untuk Ajuna datang lagi.
Dia pun menemui aku dan segera berjalan di samping kanan, kali ini dia menatap dengan wajah yang sangat semringah.
Menoleh, dan aku juga membalas cari tatapannya.
Dokter dengan stetoskop di lehernya itu telah paham akan apa yang sudah dia lihat, karena aku yang mengajak dia untuk dapat membuktikan.
Sementara itu, si dokter langsung memperbaiki sebuah infus yang dia pasang.
Dan menambahkan suntikkan obat di dalamnya.
Sambil sarapan pagi, Arjuna tampak santai saja karena yang aku tahu kalau prnambahan obat di dalam infus itu sangat sakit.
Ya, bagaimana pun juga aku pernah merasakan juga.
Di samping kanan, Ferdi menatap kami juga yang sangat berdominan seperti keluarga.
Arjuna pun mengambil sebuah minuman, dan dia menarik kerah baju kaos khas dengan pasien di dalam rumah sakit ini.
Lalu, aku menatap Arjuna yang hendak melepaskan bajunya.
Kemungkinan terlalu gerah, di ruangan yang sangat ada AC, sudah pasti akan membuat pasien gerah juga akibat obat itu.
Kemudian aku membantu Arjuna, melepas kaos yang dia pakai sekarang ini.
Lalu, terlihat pula sebuah kalung seperti yang aku punya.
Liontin dengan bentuk yang sama, dan sangat khas tengah di pakai oleh Arjuna.
Melihat akan benda itu, Ferdi tercengang dan merubah posisi berdirinya.
Dengan spontan, secara saksama aku pun menoleh ke belakang.
Ferdi menatap aku juga, dia seperti merasa gerogi karena beberapa hari lalu aku menemukkan liontin ini lagi di dalak cover milikku.
Seperti yang ada dalam sebuah mimpi, kalau pemilik dari liontin tersebut adalah anak kandungku.
Pasalnya, aku memberikan sepasang liontin itu untuk mantan istri, dan kami memakainya bersama-sama.
Tepat dua puluh tahuh lalu, kurang lebih.
Apa yang terjadi padaku, Ferdi tahu sampai-sampai dia pun memelan ludah dan kali ini aku sangat kepo pada apa yang terlihat jelas oleh mata.
Pasalnya, Arjuna memerlihatkan sebuah benda yang pernah aku berikan oleh seseorang di masa lalu.
"Arjuna," panggilku sangat singkat, nada suara ini sabgat tertahan.
"I-iya, Dan, ada apa ya?" tanyanya, memasang wajah sangat serius.
"Saya mau tanya sama kamu, itu yang kamu pakai liontin siapa kalau boleh tahu?" tanyaku sangat penasaran.
Lalu, Arjuna memegang liontin itu dan membolak-balikkannya, dia tersenyum setelahnya dan langsung menatap mantap wajahku.
"Oh, ini adalah liontin pemberian mama.
Katanya, ini adalah peninggalan ayah dari aku ketika hidup, Dan," jelasnya, kemudian aku menoleh lagi ke belakang.
"Ma-maksud kamu, sejak ayah kamu hidup? Emangnya ... ayah kamu sudah meninggal dunia?" tanyaku lagi secara bertubi-tubi.
Arjuna menggelengkan kepala, lalu dia menelan ludah beberapa kali.
"Aku gak tahu, Dan, entah dia meninggal atau masih ada.
Karena kata mama, kalau beliau sudah meninggal kerena perceraian, dan ada yang bilang kalau ayah saya itu masih ada.
""Hmm ... kalau boleh tahu, kamu sudah pernah lihat wajah mama kamu?" tanyaku lagi.
"Karena menurut pengakuan kamu dulu, kalau kamu sedikit lupa dengan wajah mama kamu, kan?"Lalu lawan bicara mengangguk, dia pun menjawab, "aku pernah lihat wajahnya, bahkan aku juga pernah lihat foto mama sedang berdua dengan lelaki TNI.
Tapi, kata paman kalau TNI itu adalah sahabat mama.
"Deg!Mendengar pengakuan itu, aku terdiam.
Ini adalah pengakuan yang sudah sangat jelas, karena aku pernah berfoto pada Sekar sebelum dia memilih untuk bercerai dan menikah lagi pada lain lelaki.
Saat itu, aku masih sayang padanya dan kami melakukan pemotretan di salah satu studio lama di kota ini.
Kemungkinan kalau foto itu ada, aku akan kenali siapa yang ada di dalam foto tersebut.
Dalam hal ini, aku tak mau membuat Arjuna semakin berpikir banyak karena dia seperti orang yang masih butuh waktu dalam mendengarkan permasalahan kami sebagai orangtua.
Aku takut kalau dia sampai tahu, kami akan semakin menjauh dan dia marah sama aku.
"Kamu kangen enggak, Jun, sama ayah kamu?" tanyaku sangat serius.
"Kangen, sih, Dan.
Kalau dia ada di sini, pasti udah aku peluk sekuat tenaga.
Karena apa, aku gak pernah lihat ayah kandungku seperti apa.
Hidup dalam kesendirian gak enak, teman dan orang di kampung bilang kalau aku adalah hasil anak haram," jelasnya.
Mendengar penjelasan itu, air mataku menetes deras.
Secara spontan karena ini adalah kesalahan yang aku terima dari sebuah perpisahan.
Walau pun perpisahan ini bukan yang aku mau, tetap saja anak adalah imbas dari ini semua.
Sekarang aku memeluk Arjuna, mendekapnya dan dia tampak sangat aneh.
Bagaimana tidak, perlakukan yang aku berikan sama seoperti ayahnya, walau pun hasil DNA itu belum ada, hati ini sudah menganggap kalau dia adalah anak dari darah dan dagingku sendiri.
Balasan dari pelukan Arjuna terasa sampai saat ini, membuat aku merasa nyaman berada di dekapanannya.
Lalu, remaja lelaki itu mengelus pundak ini.
Perlahan aku melepas sentuhan dan pelukan terhadapnya, kemudian dia menatap wajahku dan menyibak air mata ini sangat deras membasahi pipi.
Mendapatkan perlakukan ini aku merasa sangat senang, karena Arjuna tidak menolak akan kehangatan dari ayah kandungnya.
'Nak, ini aku.
Ayah kamu, Nak.
Aku adalah Satria, yang sudah menunggu akan kehadiran kamu.
Akhirnya kita bertemu di sini setelah dua puluh tahun, ayah bangga kamu bisa jadi abdi negara seperti ayah sekarang,' kataku dalam hati.
Tak berapa lama, Arjuna menyibak air mataku yang mengalir deras dari pipi ini.
Dia pun mengeringkan dengan telapak tangannya yang sangat lembut itu, aku tersenyum melihatnya, lalu memegang lengan remaja yang sudah sama dengan wajah ini.
"Komandan kenapa sedih? Aku gak apa-apa, kalau hanya luka seperti ini dapat aku tahan.
Karena ... dulu aku juga sering seperti ini, sakit banting tulang buat cari makan.
Tapi sekarang ... berbeda, karena aku udah membuktikan pada dunia kalau ternyata seorang kuli bisa sama seperti kalian, Pak," katanya menjelaskan.
"Arjuna, kamu adalah anak yang hebat.
Aku bangga sama kamu, bisa di titik ini tanpa support dari siapa pun.
Kalau kamu gak keberatan, mulai sekarang kamu panggil aku dengan sebutan ayah, mau?" tanyaku lagi.
Seketika Arjuna menelan ludah setelah mendengar ucapan dariku, dia menoleh kanan dan kiri serta menatap Ferdi.
Sahabat dariku itu mengangguk, dia mendukung penuh kalau aku akan menganggap Arjuna sebelum tes DNA itu datang.
Karena kami sama-sama memiliki kesamaan, salah satunya adalah kesamaan dari segi wajah dan pembawaan.
Lalu Arjuna mengangguk, sebagai tanda kalau dia mau menjadi anak yang aku adopsi sembari menunggu tes DNA itu datang.
Si dokter yang mendengarkan kami bicara pun ikut senang, lalu dia mencoba bergerak ke arah kami.
Tepat di sampingku, lelaki berbaju serba putih itu memeriksa lagi keadaan dari Arjuna.
"Dok, apakah aku sudah boleh pulang? Soalnya ... aku sudah sembuh, pengen balik lagi ke kodim, kangen sahabat," jawabnya sangat bersemangat.
"Bentar, ya, Pak Arjuna ... kami akan memberitahukan kalau sudah bisa pulang atau tidak, karena kami masih menunggu hasil yang sudah kami teliti selama ini.
Nikmati aja di sini, apalagi sambil di temani sama komandan.
Jarang-jarang, loh, ada komandan yang mau mengajak prajurit makan, apalagi sampai di suapin," ledek si dokter.
Mendengar ucapan itu, Arjuna tampak malu.
Dia adalah anak yang sangat pemalu dan tidak terlalu agresif, sama seperti aku.
Kami adalah lelaki yang sangat suka memerhatikan, senyum sekadarnya, berkata kalau penting-penting saja.
Setelah si dokter pun beranjak, aku mulai membangkitkan badan.
Belum lama berdiri, kemudian Arjuna memegang lengan ini sangat erat.
Aku terdiam, dan tak jadi beralih darinya di atas pembaringan ini.
Dengan tatapan sangat tajam, dia berikan sejak dari lengan menuju ke wajah ini.
Aku tersenyum, memerhatikan anak remaja dengan berjuta bakat yang dia punya.
"Komandan, terima kasih sudah baik sama Arjuna," ucapnya seraya tersenyum.
Bersambung ...
Sumber:Internet