Gelap

Gairah Sersan Ku 6

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Gairah Sersan Ku 6

. Dika yang kala itu menatap badanku pun tergiur hendak menyentuh bentuk kotak-kotak yang di penuhi dengan air sehabis mandi pagi.
Dia menelan ludah dan menatap secara saksama, begitu juga dengan Reza yang sedari tadi hanya bersimpuh dan membungkukkan badan.
Kekocakan kedua sahabat memang tak ada obat, mereka sudah seperti laki-laki setengah dewa yang terdapat di sebuag grup aplikasi.
Dengan demikian, aku langsung menarik sebuah baju yang ada di bahu sahabat untuk menutup tiap pahatan sempurna dari kerja keras sebagai kuli panggul sebelum menjadi seorang angkatan.
Proses ini murni tanpa gym, hanya mengangkat benda-benda berat setiap hari seperti semen dan sawit saja sudah bisa menjadi sixpack.
Reza yang kala itu memegang bagian perutku pun berkata.
"Gila ... ini ketupat semua, ya?" tanyanya sangat heran.
"Makanya kebawahan dikit, ada lontong juga di situ," jawabku spontan.
Kemudian Reza menoleh, dia mendongak ke wajahku yang tersenyum penuh kemenangan.
"Agak laen si kawan ini, udah aku puji malah minta bantai," katanya mengomel.
"Lah-lah, kan, aku bener.
Di bawah ketupat ada lontong, lihat aja kalau gak percaya," sergahku, dan kedua sahabat pun berhenti memandang.
Kemudian keduanya pun menelan ludah, memasuki ruang kamar.
Negitu pun dengan aku, yang memasuki ruangan dan hendak mengambil seragam yang ada di dalam lemari.
Ternyata kedua sahabatku masih normal, karena sepertinya ada kecurigaan yang terpahat di benakku, keduanya sering terjebak dalam situasi sangat aneh.
Bahkan keduanya juga sering bicara berdua, curhat, dan lain sebagainya.
Ada juga yang makan sepiring berdua, hampir semua kegiatan di lakukan berdua.
Berbeda dengan aku, yang melakukan semuanya serba sendiri.
Bahkan dalam situasi apa pun, semuanya aku lakukan sendiri.
Mau minta tolong pada orang lain, apalah aku yang tidak punya kuota ke sana.
Setelah mengambil seragam, aku pun duduk di atas dipan dan menerhatikan jahitan rapi seragam loreng yang sekarang aku miliki.
Sama dengan yang lainnya, akan tetapi ada ketidak yakinan sampai detik ini menyelimutiku.
Terlebih lahi kalau sudah membahas tentang kehidupan ini, terlahir menjadi yatim piatu dan kabur dari rumah paman demi mengikuti tes tentara yang di laksanakan pemerintah.
Dengan modal yakin, aku membawa tabungan se-adanya tanpa bantuan orang lain.
Menjadi lulusan terbaik pula, itu adalah pencapaian yang luar biasa tak pernah terbayangkan olehku.
Sampai saat ini aku tak tahu, siapa orangtuaku.
Mereka ada di mana, dan apakah sudah meninggal.
Kalau memang mereka telah meninggal, aku tak tahu makamnya ada di mana juga.
Seketika aku menyibak air mata, dan menoleh kanan serta kiri.
Ini adalah kali pertama kami di tugaskan ke luar, bergeriliya dengan bersenjata lengkap dan memakai seragam loreng seperti ini.
Biasanya kami hanya latihan saja pergi ke hutan, dan pulang dengan nasib yang baik.
Sekarang lain cerita, karena aku akan bertarung di sana bersama angkatan yang telah di pilih sebagai perwakilan tiap kompi.
Reza serta Dika juga ikut, mereka menjadi sahabatku yang terbaik untuk kami menghancurkan gerakan yang di buat oleh sekelompok masyarakat pemberontak dengan bantuan senjata dari luar negeri.
Kabarnya sudah merambah dan meresahkan wilayah kilometer nol, dan wilayah itu sudah sangat mengerikan untuk saat ini.
Setelah aku memakai baju, kemudian Dika datang menemui.
Dia menatap wajahku yang sedang melas, bekas meneteskan air mata barusan.
Namun, sudah kering karena aku malu untuk meneteskan air mata.
Seorang tentara di larang sedih, atau pun cengeng.
Karena hidupnya keras, sampai titik darah penghabisan.
"Kau kenapa, Jun?" tanya Dika, dia duduk di sebelah kiriku.
"Ah, eng-enggak.
Aku gak ada apa-apa, kok," jawabku terbata-bata, kemudian aku menoleh sebentar mengedarkan senyum.
"Kau tak perlu bohong pada kami, kalau kau sedang bersedih, kan? Kenapa, kau merindukan ayah dan ibumu di kampung?" tanyanya lagi, kemudian Reza mendekat dan duduk di sebelah kananku.
Secara saksama, aku menoleh kanan dan kiri.
Di sini masih ada dua malaikat baik di bumi, lalu aku menjawab, "bagaimana aku bisa merindukan mereka, karena aku tidak pernah melihat wajah mereka berdua.
"Mendengar ucapan dariku, kedua sahabat pun diam.
Mereka menelan ludah, dan aku menarik napas dan agar terlihat gantle walau sedang patah seribu.
Ini adalah dunia militer, bukan ajang untuk menangis.
Aku mengambil sepatu dan memakainya, sementara Dika dan Reza terdiam tanpa ada kata.
Keduanya pun memerhatikan aku ke sana dan ke mari merapikan diri.
Karena mereka sudah selesai lebih dulu, kemudian aku duduk di depan cermin dan menatap pantulan sosok diri.
"Hmm ... gimana, ya, rasanya punya seseorang yang kota sayangi.
Karena aku enggak pernah merasakan kasih sayang," ucapku spontan.
"Kalau kau menganggap kami saudara, aku yakin kau akan merasakan kasih sayang itu," jawab Dika spontan.
Lalu aku menoleh ke belakang.
Reza pun angkat bicara, "anggap aja kami ini adalah saudaramu, karena kita juga orang yang selalu ada buat kamu.
"Aku tersenyum.
"Terima kasih, ya, aku bahagia kok ada di dekat kalian.
Kita gak boleh pisah, jangan tinggalkan aku.
Ketika pulang bertugas nanti, aku harap kita tetap bertiga dan jangan ada yang berkurang satu pun.
""Amin ... kita akan kembangkan bakat kita dan karir, agar menjadi seseorang yang sangat di hargai dalam kehidupan bermasyarakat.
Bisa, kita pasti bisa!" Dika bersemangat dalam memberikan nasihat.
Tiba-tiba, serunai pun berbunyi sanget keras.
Kami yang berada di dalam ruangan pun segera ke luar dan berlari menuju pusat suara.
Masih sangat pagi, dan ini adalah serunai paling pagi yang pernah berbunyi.
Dengan berlari, aku memakai baret hijau dan menuju ke arah pengambilan senapan.
Kemudian aku bergeras ke lapangan hijau di ikuti dengan yang lainnya.
Mendapatkan posisi shaf paling depan adalah aku, karena kesigapan menjadi prajurit dan ini adalah hal yang selalu aku kembangkan.
Selalu sigap dalam hal apa pun, aku pun telah siap dan melawan dinginnya suasana di pagi ini.
Banyak prajurit yang belum sampai, mereka masih nerada di tempat pengambilan senjata dan ada juga yang masih berlari.
"Selamat pagi ...!" teriak seorang komandan di hadapan kami.
"Siap, pagi komandan!" Kami pun menjawab serempak, kemudian kami pun bernyanyikan yel-yel yang biasa di lakukan setiap apel.
Kali ini semakin banyak para petinggi dan panglima perang dari berbagai penjuru, memiliki jabatan luar biasa dan mereka telah hadir di sini.
Aku tak kenal satu pun dari mereka, yang pasti kalau komandan Ferdi dan Satria tetap paling gagah dan tampan di antara yang lainnya.
Tak berapa lama, ke luar seseorang dari arah mobil kompi.
Dia berjalan dan badannya sangat tinggi.
Aku tercengang, karena dia memiliki bola mata yang hampir sama dengan aku, sangat kuning.
Ini adalah bola mata khas warga luar negeri.
Namun, aku tidak tahu dia adalah siapa.
Pengarahan pun telah di lakukan, berlangsung dengan sebuah skema yang menarik dari seorang jendral panglima perang di batalyon 3.
Aku mendengarkan meraka, tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara.
Ini adalah pengarahan paling berpengaruh akan perjalanan kami nanti, akan ada titik di mana kami akan mencari sebuah pusat persembunyian.
Kemudian, salah seorang komandan menunjuk ke arahku.
Aku pun berjalan menemuinya, dengan berlari kecil dan menenteng senapan.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Siap, nama saya adalah Arjuan, Komandan!" Aku menjawab tegas dan gagah.
"Bagus, kau ikut aku ke ruangan.
" Dia pun menunjuk kembali beberapa orang yang berbeda jurusan, yaitu dari lulusan kopassus dan lain sebagainya.
Pasalnya, lelaki tampan itu mengajak kami memasuki ruangan di depan kantor penting.
Yang belum pernah aku singgahi, dia menemui seseorang di dalam sana.
Aku dan lima yang lainnya pun saling menoleh, terlihat wajah-wajah asing di sini.
Walau pun satu letingan, aku tidak tahu nama mereka siapa.
Namun, ada satu yang tersenyum padaku, memakai baret cokelat yang merupakan seorang wanita cantik.
Kamudian aku membalas tatapannya, dia terlihat sangat lembut akan tetapi wajahnya tegas.
Akan tetapi fokusku malah ke arah dadanya yang sangat menonjol itu.
Kemudian aku menelan ludah, hati pun berkata, 'astaga ... besar banget itu, aku jadi ngiler lihatnya.
' Bersambung ...
Sumber:Internet