. "Kalau kelaparan, kan ada makanan di hutan.
Banyak buah dan lain sebainya," jawabku ketus.
"Ini anak polos banget, bukan itu yang aku maksud loh ... sini masuk aku akan memberikan bekal padaku!" serunya.
Dengan mengangguk beberapa kali, aku pun masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Lelaki itu bergerak menuju ke salah satu ruangan kecil dan dia mengambil beberapa makanan, sudah seperti apa yang ada di dalam benakku.
Kalau komandan akan mengambil makanan yang banyak seperti kemping, tidak terbayangkan kalau sampai aku membawa ini di dalam tas.
Roti dan makanan dalam bentuk kemasan pun telah dia berikan.
Aku tercengang karena ini adalah makanan yang sangat banyak untuk aku menelan sendirian, akan tetapi tidak masalah kalau akan berbagi pada Reza dan Dika nantinya.
Kemudian Komandan berhenti, dia menatap ke arahku yang sedang bergeming tanpa suara.
"Kenapa gak kamu masukkan ke tas, entar kamu ketinggalan loh ...," omelnya, orang itu malah membantuku berberes.
"I-iya, Dan, aku akan bantu kamu!" jawabku.
"Salah, yang membantu itu aku.
Dan kamu yang harusnya menyusun di dalam sini," omel Komandan lagi.
'Ini orang makin ke sini makin ke sana, makanan sebanyak ini untuk apa? Seperti anak sekolah dasar saja, diberikan bekal makan banyak,' kataku dalam hati.
"Udah jangan ngata-ngatain aku di hatimu!" pekiknya.
'Buju buset, dia tahu lagi kalau aku gibahin dia dalam hati' lanjutku bersenandika.
Setelah makanan sudah masuk ke dalam tas, aku pun memulai untuk menyandangnya.
Tidak berat, karena ini hanya minuman dan roti.
Tak banyak yang tahu, kalau komandan sangat baik padaku.
Namun, aku tidak meminta kalau dia sebaik ini.
Sudah seperti seorang ayah pada anaknya, terkadang aku membutuhkan kasih sayanh itu.
Tak pernah di perhatikan, bahkan selalu melalui hidup sendirian.
"Udah selesai, sekarang kita ke lapangan bareng," ajak komandan Satria.
Aku mengangguk, kami pun berjalan bersama-sama ke lapangan hijau.
Semua mata tertuju pada kami, yang sangat dekat bagai seorang anak dan ayahnya.
Namun, semua sedang fokus menatap depan.
Mereka sangat pahan kalau Komandan Satria adalah orang yang sangat baik, humble, dan mau menjawab pertanyan dari prajurit kalau soal pendidikan.
Sehingga tak ada yang merasa tertahan kalau sedang punya pertanyaan.
Bahkan aku, selalu meminta ilmu padanya perihal cara menembak yang baik, dan bertahan lama di dalam air.
Semua teknik dia berikan, sangat susah mencari orang sebaik itu.
Hanya saja aku belum bertanya defence ketika berhadapan satu lawan satu, itu adalah ilmu fight yang sulit di pelajari kalau sedang satu lawan satu menghadapi musuh.
Selama ini aku hanya latihan sendirian, tanpa ada yang membantu.
Setibanya di barisan, kemudian aku pun berjalan dan menemui para danton lainnya yang saat ini di tugaskn membawa prajurit.
Di sampingku ada Erika, yang merupakan tentara wanita dengan mental luar biasa.
Perempuan itu lebih dulu lulus dariku, karena dia adalah senior satu tahun lebih dulu.
Sejak aku hadir di sini, dia tampak sangat asyik.
Namun, kami tak pernah berkata sama sekali.
Memiliki badan yang sempurna, bagai seorang model.
Aku sempat menelan ludah kalau bertemu dengannya, berambut pendek dan sangat cantik.
Dia adalah tipe perempuan yang aku sukai.
Namun, sepertinya dia sudah punya pacar.
Melihat aku yang datang di sampinya, kemudian Erika pun tersenyum dan menaikkan kedua alis.
"Hai," katanya singkat.
"Hai," jawabku sangat malu, hanya sekadar kata-kata itu yang kami ucapkan.
Tidak lebih, dan tidak terlalu membuat spesial.
Aku tahu kalau Erika telah di nobatkan sebagai danton terkuat tahun lalu, walau dia wanita dan sudah memiliki lencana dari berbagai ajang lomba pertandingan fisik.
Namun, aku tidak mau kenal lebih jauh karena aku bukan siapa-siapa dan tak mau memberikan effort tinggi pada orang lain.
Sumber:Internet