Gelap

Istriku Kerja Membayar Hutang 2

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Istriku Kerja Membayar Hutang 2

. POV - Nina"Mas Henri, kok bengong?" tanyaku penasaran.
Aku mendengar hampir semua percakapan mereka.
Aku masih tidak menyangka sahabatnya sendiri berkata seperti itu.
Sebenarnya, bila itu satu-satunya cara melunasi hutang Mas Henri, aku tidak keberatan.
"Ah cuma kepikiran aja," ucap Mas Henri sedikit gelagapan.
Aku yakin dia masih memikirkan perkataan sahabatnya.
Melakukan pekerjaan itu bukan lagi kotor, melainkan hina, terlebih pada seorang yang telah menikah dan memiliki seorang anak sepertiku.
Akan tetapi, bulan depan kami harus melunasi hutang sebesar 800 juta itu, jika tidak rumah kami akan disita.
Aku meletakkan gelas-gelas itu di meja dan duduk di samping Mas Henri.
Permasalahannya bukan soal hutang saja, aku tidak keberatan bila harus hidup sederhana dengan Mas Henri karena aku benar-benar mencintainya.
Akan tetapi, pekerjaan Mas Henri yang sebagai kontraktor memiliki circle pertemanan yang sangat elite.
Rekan-rekannya berisi orang-orang kaya dan terpandang di pemerintahan, jika mereka tahu Mas Henri menjadi miskin, aku khawatir dia dipandang rendah dan kesulitan dalam pekerjaannya.
"Kepikiran apa, Mas?" tanyaku santai.
"Kenapa kamu lama ambil gelasnya?" pertanyaan Mas Henri seperti sedang curiga.
Aku kenal tatapan tajam seperti itu, sifat posesifnya mulai kumat.
"Ah itu.
" Aku mencari-cari alasan agar tidak ketahuan mendengar percakapan mereka tadi, "aku dari tadi gak menemukan nampan Mas," ucapku bohong.
Thomas membuka matanya lebar-lebar, dia tahu kalau aku bohong karena nampan dan gelas sudah ada di dapur.
"Oh, maafkan aku, Nina.
Alisa yang biasa menaruh nampan.
" Thomas menepuk keningnya seperti orang bodoh yang kelupaan, tapi aku tahu dia mengikuti alur cerita kebohonganku.
"Jadi, bagaimana tawaranku, Hen?" Thomas membuka botol anggurnya dan menuangkannya di gelas-gelas kami.
Tatapan posesif Mas Henri beralih ke Thomas, aku rasa tatapan itu merupakan sebuah kemarahan.
Mas Henri meraih gelas anggur yang di tuangkan Thomas, ia merebahkan punggungnya di sofa dan meminum anggur itu.
"Aku akan pikirkan.
""Tawaran apa, Mas?" pancingku.
Mas Henri dan Thomas saling memandang,Mas Henri menjawab santai, "Thomas punya teman yang bisa meminjami kita uang.
Gali lubang, tutup lubang.
Tapi aku kurang setuju, soalnya bunganya besar.
""Oh begitu," jawabku seolah percaya.
Mereka berdua terus saling bercanda selama satu jam.
Aku lebih banyak diam dan hanya ikut tertawa, tak lama kemudian kami pun pulang.
***Mobil melaju, aku duduk di samping Mas Henri yang mengemudi.
"Aku dengar semua perkataan Thomas tadi, " ucapku memberanikan diri membahas topik itu.
Mas Henri langsung menatapku tajam seperti saat menatap Thomas tadi.
"Apa yang kamu dengar?""Semuanya, Mas.
"Mas Henri langsung memutar setirnya untuk menepi dan mobil berhenti di pinggir jalan.
"Kamu mau jadi pelacur?" tanya Mas Henri dengan murka.
Aku tertunduk diam dan tak berani menatap wajah Mas Henri.
Tapi bagaimana cara membayar hutang kami? Semua rekan Mas Henri yang di datangi menolak meminjamkan uang, meski beberapa orang sudah bersedia meminjamkan uang, tetap saja hutang kami masih kurang 800 juta.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Mas, tapi apa ada cara lain? Semua teman Mas sudah kita datangi.
Aku tidak ingin Mas dan anak kita menderita.
Ini bukan soal rumah saja Mas, tapi untuk menyekolahkan Dimas.
Juga tentang pekerjaan Mas, nantinya," ucapku memberanikan diri.
"Tapi itu gila Nina!" bentak Mas Henri.
Aku terdiam, air mataku terasa membasahi pipi.
Wajah murka Mas Henri tampak mengendur.
Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat untuk menenangkan diriku.
"Nina, aku mohon jangan lakukan hal itu.
Aku berjanji akan mencarikan jalan keluar," ucap Mas Henri dengan mengecup keningku dan merangkul pundakku.
"Baik, Mas.
" Aku menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Mas Henri, tapi dalam batinku terus berkecamuk, 'Maaf, aku harus melakukan ini.
'Aku mengusap air mataku, aku menyukai sikap Mas Henri yang penuh kepedulian, tapi tekadku sudah bulat.
Aku tahu mungkin Mas Henri tidak akan menyetujuinya jika aku berterus terang.
Akan tetapi aku sangat kenal sikap Mas Henri, dia seorang yang posesif di awal, tapi jika sudah terlanjur dilakukan, dia tak akan berkomentar banyak.
Sama halnya seperti kejadian beberapa bulan yang lalu.
Ketika Mas Henri mengajakku ke pesta seorang direktur perusahaan yang sedang menawarkan sebuah tender, direktur itu menggodaku, dan Mas Henri terlihat tidak terima.
Direktur itu pun berpaling dengan kecewa, saat itu aku berusaha membujuk direktur itu untuk tidak pergi.
Wajah Mas Henri tampak semakin murka, tapi dia hanya diam saja, dan bujukanku berhasil.
Setelah kejadian itu, Mas Henri tidak membahasnya meski aku tahu dia tidak terima.
Seminggu kemudian, Mas Henri dengan canggung memberitahuku.
Si direktur itu mengajak kami ke karokean, aku tidak keberatan.
Aku paham ketertarikan si direktur padaku dan betapa pentingnya tender tersebut bagi pekerjaan Mas Henri.
Di sana, kami menemani si direktur untuk bersenang-senang dan bernyanyi.
Dengan izin dari Mas Henri, aku menemaninya bernyanyi bersama dan si direktur terkadang menyentuhku dengan nakal.
Aku dan Mas Henri tidak keberatan, hanya saja Mas Henri terlihat canggung saat aku dekat dengan direktur itu.
Setelah kejadian tersebut, Mas Henri tidak pernah mengungkitnya lagi dan tender itu dimenangkan olehnya.
Mas Henri mulai menyetir mobilnya lagi, dia diam tanpa berkata-kata seperti biasanya setelah marah.
"Mas, boleh aku pulang saja?" pintaku yang tak ingin melanjutkan perjalanan lagi, moodku terasa berubah.
Sebenarnya kami berniat mendatangi beberapa rumah teman Mas Henri selain Thomas.
Termasuk si direktur kala itu, makanya Mas Henri bersedia mengajakku pergi bersamanya.
Ia menoleh sejenak dan tersenyum, "Kamu beneran ingin pulang? Kamu gak marahkan tadi aku bentak, kan?""Gak, Mas.
Itu salahku," jawabku yang sudah biasa pada sifat temperamennya yang kadang muncul.
"Ya sudah, aku antar kamu pulang dulu.
Mas kayaknya bakal pulang malam, nanti aku kabari aja ya.
"Perkataan Mas Henri tiba-tiba mematik sebuah ide dalam kepalaku.
'Mungkin ini kesempatanku meminta nomor kontak itu ke Thomas.
'>>>
Sumber:Internet