. Jin Penunggu Cincin #part 10#R.
D.
Lestari.
"Raden Mas Abi Aku ingin ketemu," desisku seraya memejamkan mata.
Satu menit, dua menit, tak ada sesuatu yang aneh, tapi pada menit ketiga, kurasakan ...Desiran angin sepoi-sepoi menyentuh tubuhku, sedikit dingin, membuat tubuhku bergetar.
Brrr!Sesuatu di tubuhku menegang, aku kembali mengguyurkan air, dan ..."Kau merindukanku, hah?" Aku terjingkat mendengar suara serak nan seksi tepat di telinga kananku.
Refleks kubuang gayung ke bak, hingga terdengar percikan air yang cukup kencang dan menutupi sesuatu yang menegang di tengah gunung kembar juga bagian bawah.
Tap! Tangan kekar itu mencengkeram kedua lenganku dan memutar tubuh polosku hingga kami saling berhadapan dan netra saling menatap.
"Kenapa di tutupi? Aku sudah sering melihatnya," desis lelaki itu dengan nada menggema.
Ia menggigit bibir bawahnya yang membuat daerah sensitifku berdenyut-denyut riang.
"Eumh, Raden tak pernah melihat sepolos ini, 'kan?" jawabku sengaja ingin menggodanya.
Bibit ranumnya membuat jiwa ini bergolak.
'Shittt! I love it!' "Aku sudah melihat dirimu dengan atau tanpa sesuatu yang menutupimu.
Kau cantik dengan atau tanpa baju, sayangnya kau bukan untukku seutuhnya," kulihat sorot penuh kekecewaan terpancar di mata hazelnya.
Tanpa sadar, Aku mendekat dan salah satu tanganku menyentuh wajahnya.
Salahkah Aku bila mulai memujanya? Jemariku mulai menelusuri wajah dan membawa rambut yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.
"Maaf, Aku tak bisa memilih, tapi Aku tidak akan meninggalkanmu, asal ...,""Asal ...," Ia menatapku, seolah meminta jawaban secepatnya.
"A Aku mendekatkan wajah, sengaja menggodanya.
Ia tampak mulai geram dan salah satu tangannya meraih pinggang polosku hingga tubuh kami menyatu.
"Kau selalu membuatku gusar dan bergairah.
Tak taukah kalau kau adalah racun berbisa yang membunuhku secara perlahan?"Aku terkekeh mendengar ucapannya.
Darimana Jin tampan ini mulai pandai menggombal?"Aku nonton TV, bareng suamimu, salah satu cowoknya bicara begitu," dengan wajahnya yang polos ia menjelaskan, yang membuatku semakin geli dan tanpa sadar mengangkat kedua tanganku dan menutup mulut.
"Mau Aku sabuni?" tawarnya seraya mulai menggerayangi daerah pinggang, tapi aku langsung menepisnya.
"Dah, aku mau mandi.
Keluar sana," Aku mendorong tubuhnya, tapi ia dengan sigap menarik tanganku, hingga wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja.
Saat ia mendekatkan wajahnya, Aku ...Mengangkat salah satu tangan dan menutup mulutku.
Hingga kurasakan ia mendengus kesal.
"Tadi manggil, setelah datang ga boleh diapa-apain," ia mengerucutkan bibir, membuat wajah tampannya semakin mempesona.
"Hussss ... usirku.
Ia akhirnya melangkah gontai menembus dinding, hilang tanpa bekas.
Sedang Aku kembali melanjutkan mandi yang tertunda, sesekali Aku tertawa geli.
Melihat tingkahnya yang seperti manusia.
Kadang cemburu, kadang kesal, kadang marah, untung tampan!
Sumber:Internet