Gelap

Jin Penunggu Cincin 12

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Jin Penunggu Cincin 12

.                Jin Penunggu Cincin#part 12#R.
D.
Lestari.
Kendaraan roda dua itu kemudian ia hempas begitu saja.
Lelaki bertubuh besar itu masuk tergesa, ia sudah tak sabar melihat tumpukan uang yang akan diberikan Jin tampan itu.
Namun, semuanya sirna.
Senyum yang sempat terkembang berubah pias saat melihat ruangan kosong tanpa selembar uang pun.
Dengan langkah gontai dan kecewa, Wildan melangkah pergi.
Kakinya terasa berat dan pandangannya berkunang.
Harapan untuk membelanjakan uangnya lenyap begitu saja.
Padahal sudah beberapa hari ini ia tak punya pemasukan.
Motor ia kendarai pelan.
Pupus sudah.
Hari ini ia tak jadi mengganti motor bututnya.
Kesal.
Ini pasti berkaitan dengan Resti.
Apa dia tak melayani Jin dengan baik?Brakk!Pintu ia dobrak saat memanggil nama istrinya berkaki-kali, tapi orang yang ia panggil tak menyahut apalagi membuka pintu.
Kesal pada istrinya, ia mencari Resti ke semua tempat, tapi wanita itu tak jua ia temukan.
Ke mana dia?***Sore menjelang, Wildan tertidur dalam kondisi kesal.
Seketika terbangun saat mendengar deru motor diteras rumahnya.
Dengan kondisi masih terhuyung karena kesadarannya masih belum penuh, ia melangkah menuju pintu depan dan membukanya.
Matanya berkilat marah saat melihat Resti baru saja turun dari motornya.
Ia berkacak pinggang hendak menumpahkan amarahnya yang tak beralasan.
"Dari mana kamu?" tanyanya dengan nada penuh penekanan.
Resti yang baru saja menginjakkan kakinya, tersenyum lebar pada laki-lakinya itu.
"Abang!" serunya riang.
Ia berlari mendekati Wildan dan hendak memeluknya, tapi dengan sigap Wildan menangkisnya.
Resti menatapnya sedih.
Ada apa dengan suaminya itu? kenapa wajahnya menyiratkan amarah yang teramat sangat?"Kenapa, Bang?""Kamu dari mana? kenapa sore baru pulang?" omelnya sembari memutar tubuh dan masuk ke dalam rumah.
"A--Adek tadi dapat panggilan kerja, Bang, dan alhamdullilah ke terima," jawabnya dengan takut-takut.
"Ngapain kerja, kalau dengan di rumah aja kamu bisa dapat uang banyak, yang penting kamu itu tinggal layani ...," Wildan menghentikan ucapannya.
Hampir saja ia keceplosan.
Resti menatap tajam suaminya.
Matanya seolah menuntut jawaban.
  "Tinggal layani? maksud Abang?""Ah, sudahlah.
Terserah kamu lah.
Aku lelah," Wildan berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Resti yang masih mematung seorang diri diambang pintu.
Hingga malam menjelang, Wildan tan juga mau menyapa Resti.
Ia nampak acuh.
Resti yang memang sudah lelah, memilih tidur memunggungi suaminya.
Apa segitu marahnya sampai ia tak ingin menyapa?Dalam kesedihan yang teramat sangat, menghadapi sikap suaminya yang tiba-tiba kasar padanya.
Apalagi ia dengan tegas menolak bertemu dengan makhluk tampan itu.
Ia bagai terbuang, menangisi nasibnya yang serba salah.
Perlahan mata basah itu terpejam dan terlelap.
Begitu lelah dan beratnya beban yang ia pikul hingga lupa jika perutnya belum terisi sedari pagi, dan kini tertidur dalam keadaan perut yang pedih dan keroncongan.
***"Abiseka ... maaf ...," tangisku pecah saat melihat sosok tampan itu memunggungiku di kejauhan.
Di antara pendar cahaya bulan purnama yang berwarna keemasan.
Memantulkan sinar indahnya di atas padang rumput dan bunga-bunga liar berwarna-warni.

Sumber:Internet