. Jin Penunggu Cincin#part 62#by: R.
D.
Lestari.
Hap!Sempat terhenyak saat Ahool mengangkat tubuhku, tapi dengan bibir yang masih saling menaut.
Suasana terasa semakin panas, gairahku berkobar, Aku pun tak kalah nakal menelusuri lehernya dengan kecupan-kecupan, hingga ..."Res... Resti! Resti sayang ...,""Bang Wildan?""Dek ... Res Kamu di dalam, kan , Dek?""Eh--,iya, Bang, tunggu Adek ganti baju," teriakku.
"Ahool, please Kamu pergi.
Nanti kelihatan Bang Wildan," Aku berusaha melepas pelukannya yang semakin erat.
"Ga mau, Res.
Biar aja suamimu tau.
Aku pengen rebut Kamu terang-terangan," Ahool tambah mempererat pelukannya.
Jantungku berdegup kencang, takut terjadi keributan antara Bang Wildan dan juga Ahool, jin tampan yang saat ini bersikeras tak mau pergi.
"A Aku berusaha melepas tangannya, perlahan ... Ia pun akhirnya melepas tangannya, tapi tetap berdiri di tempat.
"Kamu ... pergi dulu, dong ... ," pintaku saat Ahool terlihat cuek dan seperti menantang.
"Pleaseee,""Ya-ya-ya!"Aku tersenyum saat sosok itu berubah transparan dan lekas membuka pintu, di mana Bang Wildan sudah menunggu dengan alis yang bertaut.
"Kok lama, sih.
Memang ada siapa di dalam?" tanyanya curiga.
"Lha, memang siapa yang mau Aku undang ke rumah? selingkuhan?" Aku membalas ucapannya yang terdengar menyudutkanku.
"Ehm, bukan begitu, kan, mana tau ada yang datang.
Temanmu, gitu Dek," sembari berucap, kulihat Bang Wildan mengedarkan pandangannya, seolah sedang mencari sesuatu.
Telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu, layaknya orang yang berpikir keras.
"Cari aja Bang, ga akan ada orang, kalau jin mungkin," desisku mengejeknya.
Sengaja, Aku ingin melihat reaksinya, dan seperti yang ku kira, Ia tampak pucat.
"Lha, kok Jin, Dek.
Ya udah, ga penting.
Sini ... peluk Abang, Sayang.
Abang kangen banget sama Kamu,"Aku termenung menatap Bang Wildan yang naik ke atas kasur.
Ia bersandar di kepala ranjang dan menopang salah satu kakiny di kaki yang lain.
Pandangannya penuh gairah menatapku.
Aku berpikir keras.
Bagaimana jika Ahool melihat? pasti Dia..."Awas, ya, kalau Kamu di sentuh sama Dia.
Aku bakal bikin sesuatu yang buat Dia marah," Aku tercekat, mendengar bisikan tepat ditelingaku.
Hembusan napas hangat tanpa raga itu membuat nadiku bekerja lebih keras.
"Dek ... sini ... cepat! Abang kangen...," Bang Wildan semakin tampak tak sabar.
Tangannya melambai ke arahku.
Aku ragu, tapi jika tidak mendekatinya, pasti Bang Wildan curiga dan marah.
Aku pun akhirnya melangkah ke arahnya.
Menepiskan Ahool yang pastinya marah.
Bagaimana pun Wildan masih suamiku, meski kutau, Ia sudah mengkhianatiku.
Aku berangsur mendekati diri ke pelukan Bang Wildan.
Rasa itu sudah berbeda.
Apalagi setelah Aku melihatnya tidur dengan perempuan lain tepat di depan mataku.
"Dek ... lama banget Abang ga dapet jatah.
Mau dong, Dek?"Keningku mengernyit, tapi akhirnya pasrah saat tangannya mulai menyelusup masuk ke dalam daster yang Ia sibak.
Sumber:Internet