Gelap

Jin Penunggu Cincin 18

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Jin Penunggu Cincin 18

.                Jin Penunggu Cincin#part 62#by: R.
D.
Lestari.
Hap!Sempat terhenyak saat Ahool mengangkat tubuhku, tapi dengan bibir yang masih saling menaut.
Suasana terasa semakin panas, gairahku berkobar, Aku pun tak kalah nakal menelusuri lehernya dengan kecupan-kecupan, hingga ..."Res... Resti! Resti sayang ...,""Bang Wildan?""Dek ... Res Kamu di dalam, kan , Dek?""Eh--,iya, Bang, tunggu Adek ganti baju," teriakku.
"Ahool, please Kamu pergi.
Nanti kelihatan Bang Wildan," Aku berusaha melepas pelukannya yang semakin erat.
"Ga mau, Res.
Biar aja suamimu tau.
Aku pengen rebut Kamu terang-terangan," Ahool tambah mempererat pelukannya.
Jantungku berdegup kencang, takut terjadi keributan antara Bang Wildan dan juga Ahool, jin tampan yang saat ini bersikeras tak mau pergi.
"A Aku berusaha melepas tangannya, perlahan ... Ia pun akhirnya melepas tangannya, tapi tetap berdiri di tempat.
"Kamu ... pergi dulu, dong ... ," pintaku saat Ahool terlihat cuek dan seperti menantang.
"Pleaseee,""Ya-ya-ya!"Aku tersenyum saat sosok itu berubah transparan dan lekas membuka pintu, di mana Bang Wildan sudah menunggu dengan alis yang bertaut.
"Kok lama, sih.
Memang ada siapa di dalam?" tanyanya curiga.
"Lha, memang siapa yang mau Aku undang ke rumah? selingkuhan?" Aku membalas ucapannya yang terdengar menyudutkanku.
"Ehm, bukan begitu, kan, mana tau ada yang datang.
Temanmu, gitu Dek," sembari berucap, kulihat Bang Wildan mengedarkan pandangannya, seolah sedang mencari sesuatu.
Telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu, layaknya orang yang berpikir keras.
"Cari aja Bang, ga akan ada orang, kalau jin mungkin," desisku mengejeknya.
Sengaja, Aku ingin melihat reaksinya, dan seperti yang ku kira, Ia tampak pucat.
"Lha, kok Jin, Dek.
Ya udah, ga penting.
Sini ... peluk Abang, Sayang.
Abang kangen banget sama Kamu,"Aku termenung menatap Bang Wildan yang naik ke atas kasur.
Ia bersandar di kepala ranjang dan menopang salah satu kakiny di kaki yang lain.
Pandangannya penuh gairah menatapku.
Aku berpikir keras.
Bagaimana jika Ahool melihat? pasti Dia..."Awas, ya, kalau Kamu di sentuh sama Dia.
Aku bakal bikin sesuatu yang buat Dia marah," Aku tercekat, mendengar bisikan tepat ditelingaku.
Hembusan napas hangat tanpa raga itu membuat nadiku bekerja lebih keras.
"Dek ... sini ... cepat! Abang kangen...," Bang Wildan semakin tampak tak sabar.
Tangannya melambai ke arahku.
Aku ragu, tapi jika tidak mendekatinya, pasti Bang Wildan curiga dan marah.
Aku pun akhirnya melangkah ke arahnya.
Menepiskan Ahool yang pastinya marah.
Bagaimana pun Wildan masih suamiku, meski kutau, Ia sudah mengkhianatiku.
Aku berangsur mendekati diri ke pelukan Bang Wildan.
Rasa itu sudah berbeda.
Apalagi setelah Aku melihatnya tidur dengan perempuan lain tepat di depan mataku.
"Dek ... lama banget Abang ga dapet jatah.
Mau dong, Dek?"Keningku mengernyit, tapi akhirnya pasrah saat tangannya mulai menyelusup masuk ke dalam daster yang Ia sibak.

Sumber:Internet