Gelap

Jin Penunggu Cincin 2

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Jin Penunggu Cincin 2

. Jin Penunggu Cincin #part 2#by: Dewi Jambi Aku kira Bang Wildan benar-benar bersiap, tapi nyatanya ... ia malah ketiduran.
Dikarenakan lelah, aku tak mau banyak pikiran.
Meski semua terasa tak masuk akal.
Tak mungkin aku bermimpi, 'kan?Kejadian itu begitu nyata.
Setiap sentuhan memberi n*kmat yang tak terkira.
Aku hanya mampu menghela napas.
Kapandangi wajah lelaki yang amat aku cintai.
Tertidur pulas dengan napas yang teratur.
Dadanya naik turun seiring dengan bunyi dengkuran halus.
Perlahan, aku naik ke ranjang dan berbaring di sampingnya.
Bersandar di d*da bidangnya dan meraih tangannya.
Mengangkat tangan berkulit gelap yang menunjukkan gurat-gurat nadi yang mencuat ke permukaan.
Menempelkan wajahku di dadanya.
Kuc*umi d*da itu dengan sayang.
Tanpa terasa mataku basah dan menghangat.
Entah kenapa aku merasa sangat bersalah padanya.
Apa yang telah aku lakukan? haruskah aku cerita atau lebih baik di pendam saja?Begitu banyaknya yang digulirkan, hingga tubuh ini terasa amat lelah dan mataku terasa amat berat.
***"Sayang ....,"Kurasakan k*cupan lembut di area belakang leher dan tangan yang melingkar di pinggang.
Aku terhenyak.
Mataku mengerjap beberapa kali dan menatap tangan yang kini berada di perutku.
Tangan itu berkulit putih seputih susu dan memakai gelang emas tebal dengan permata berwarna biru dan merah di beberapa bagian.
Tangan siapa ini? mengapa tampak begitu asing?Aku berusaha berontak, dan tanganku hendak menepis tangan seseorang yang saat ini memelukku erat dari belakang.
Napasnya terdengar memburu dan wangi bunga begitu menyeruak dari tubuhnya yang hangat.
Kulitnya terasa amat halus saat aku menyentuhnya.
'Astaga! apa yang aku pikirkan! dia bukan Bang Wildan!'"Siapa kamu? apa yang kau mau dariku?" ucapku marah sembari berupaya lepas dari pelukannya.
"Sssttt, aku adalah bagian dari hidupmu mulai saat ini.
Kau dan aku ditakdirkan bersama," sahutnya.
Kurasakan ia menghembus di belakang leherku dan menci*mnya dengan gemas.
Sesuatu yang amat jarang dilakukan Bang Wildan dan jujur membuat tubuhku bergetar seketika.
"Jangan macam-macam! aku sudah punya suami!" ancamku, tapi yang terdengar hanya suara renyah tawa darinya.
"Suamimu tak akan pernah tau jika kau tak bicara apapun tentang kita,""Tubuhmu tak bisa bohong.
Kau suka sent*hanku dan semua yang kulakukan untukmu, karena aku belahan jiwamu,""Enak aja! sial*n kau! lepasin aku!" makiku tak terima dengan ucapannya.
Aku ini istri dari Bang Wildan, dan tak ada maksud sedikitpun untuk mendua.
""Kau bukan mendua.
Kau tetap miliknya, tapi saat ini kau milikku ," desisnya telingaku.
'Ah, sial*n! bukannya berontak, aku malah mende*ah! ini gil*!'"Ahhh, lepasin," desisku.
"Kau tau ... kau punya semua yang kumau.
Aku begitu menggilai tubuhmu,"Kali ini tangannya mulai menjalar dan men*lusup masuk melalui kancing atas daster yang ia buka perlahan, sedang kedua tanganku masih ia kunci dengan tangan kirinya.
"Ah ... jangan ... Aku mo tangisku pecah saat itu juga.
Di luar dugaan, ia yang berada di belakang ku seketika menghentikan aksinya dan menarik kembali tangannya.
Satu k*cupan ia layangkan di pipiku.
Ekor mataku tak dapat menangkap wajah yang saat ini amat dekat denganku.
"Maaf, aku telah menyakitimu, tapi aku berjanji akan memberikanmu uang yang banyak jika kau mau memberikan apa mauku,"Aku terdiam.
Apa maksud dari laki-laki ini? "A--apa maksudmu?" tanyaku.
Namun, belum sempat ia menjawab, kurasakan tubuhku seperti terguncang.
"Res Res... bangun Sayang," suara Bang Wildan sayup-sayup terdengar di kejauhan.
Lama kelamaan semakin jelas dan memekakkan telinga.
Mataku mengerjap dan samar kulihat Bang Wildan menyentuh bahuku dan menggoyangkan tubuhku.
"A--apa, Bang?" ucapku yang saat itu memegangi kepala karena pusing yang teramat sangat.
"Kamu sakit, Dek? tapi ga panas, kok," Aku terdiam.
Menatap suamiku yang nampak khawatir.
Apa tadi aku bermimpi? kenapa terasa nyata?"Adek ga apa-apa, Bang.
Abang kok udah rapi? mau berangkat, ya?" Aku menelisik setiap bagian tubuh Bang Wildan yang nampak berbeda.
Bang Wildan mengangguk.
"Pagi-pagi dapet telpon, lumayan, yang nelpon lebih dari satu orang.
Kayaknya rezeki lancar hari ini, Dek," Bang Wildan mengecup mesra keningku.
Orderan banyak? apakah ini ada kaitannya dengan mimpi tadi malam?"Dek?" tangannya melambai di depan wajahku, hingga membuatku tersadar dari lamunan.
"Eh, iya, Bang?" aku tergagap.
"Mikiri apa, Dek?"Aku langsung menggeleng.
Tak ingin pahlawan keluarga ini merasa khawatir dengan hal yang tak masuk akal.
"Abang bisa tinggal Adek, ga? Abang dah ditunggu soalnya," ungkapnya, tapi dari raut wajahnya, ia seperti tak rela meninggalkan aku sendiri.
Ya, Bang Wildan memang suami yang amat pengertian dan penuh kasih sayang.
Ia pun sangat memanjakanku, meski hingga kini aku tak juga punya momongan, ia tak pernah mempermasalahkan itu.
"Iya, Bang.
Pergilah.
Adek baik-baik aja," berusaha meyakinkan Bang Wildan.
Sayang juga kalau orderan banyak di sia-siakan.
Bang Wildan lantas merogoh kantong celananya.
Ia kemudian menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah dan biru.
Pupilku melebar melihat jejeran uang yang jarang Bang Wildan serahkan dalam jumlah yang tak sedikit.
"Banyak banget, Bang?" kataku seolah tak percaya.
"Rezeki Dek, disyukuri aja.
Di tabung kalau kebanyakan, mana tau bisa renovasi rumah, biar lebih layak huni dan buat kamu betah tinggal di rumah," senyum Bang Wildan seketika membuat hatiku terenyuh.
Mataku menghangat kala menatap sinar matanya yang memancarkan ketulusan.
"Oia, cincin ga di pakai, Bang?" tiba-tiba aku teringat pada cincin yang katanya di berikan Pakde.
Cincin bermata biru yang semenjak kehadirannya aku seperti mengalami hal yang ga wajar, meski itu hanya spekulasi ku saja, karena belum terbukti cincin itulah penyebab kejadian ganjil di rumah.
"Oh, itu ... sayang, Dek.
Entar kena oli, item-item," jelasnya.
Aku hanya menggigit bibir.
Kok rasanya takut ya kalau cincin itu ada di rumah.
Bagaimana jika ...."Dek, Abang berangkat dulu, ya? jangan sering keluar rumah, ga baik.
Pintu kunci kalau Abang lagi ga di rumah, banyak orang jahat di luar," Seperti biasa, Bang Wildan selalu berpesan untuk berhati-hati.
Sebelum ia pergi, kembali ia layangkan satu kecupan.
Meski sedikit terhuyung, kuantar Bang Wildan sampai muka rumah.
Menatap dengan penuh cinta punggung lelaki terbaikku hingga menghilang dari pandangan.
Aku menghela napas.
Mengingat rentetan peristiwa yang aku alami tadi malam hingga mimpi yang sesuai dengan rezeki yang diterima Bang Wildan.
Meski tak masuk akal, tapi orderan Bang Wildan yang banyak juga uang yang didapatnya sangat berkaitan dengan ucapan lelaki di mimpiku tadi pagi.
Apakah ini memang berkaitan dengannya? lantas, siapa lelaki itu sebenarnya?
Sumber:Internet