Gelap

Jin Penunggu Cincin 23

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Jin Penunggu Cincin 23

. Matanya membola saat berada di depan pintu dan melihat Wildan yang sedang tertidur di lantai.
Sontak Resti langsung membangunkan suaminya, mengira jika laki-laki itu jatuh terjengkang hingga membuatnya pingsan.
"Bang ... bangun, Bang," panggil Resti seraya mengguncang tubuh Wildan.
Laki-laki bertubuh gempal itu mulai bergerak dan mengerjapkan matanya menatap ke arah Resti.
Ia lalu mengucek matanya beberapa kali dan mengedarkan pandangannya ke segala arah seraya menggerakkan tubuhnya untuk duduk.
"Kenapa Abang di sini, Dek?" tanyanya yang sontak membuat Resti mengedikkan bahu.
"Harusnya Adek yang tanya, Bang.
Bukannya tadi Abang permisi mau ke toilet, ditunggu-tunggu malah nggak balik-balik, kok malah tiduran di sini.
Abang jatuh?" cerocos Resti yang membuat Wildan semakin bingung.
Wildan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Resti lalu membantunya untuk berdiri dan masuk ke dalam kamar.
Memang Kita ngapain, Dek.
Kok kayaknya kamu nggak pakai bra, ya?" ucap Wildan saat melihat bra Resti masih tergeletak di lantai.
Resti menoleh dan melihat miliknya masih ada di lantai.
Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Wildan.
"Emang Abang lupa Kita tadi ngapain? apa karena terbentur Abang jadi lupa ingatan?" Resti balik bertanya.
Wildan mengangguk cepat.
"Abang lupa tadi ngapain aja ,Dek, beneran.
Abang nggak ingat apa-apa tiba-tiba bangun sudah di tempat tadi," Resti menarik nafas dalam, gairahnya hilang tanpa bekas.
Ia kemudian mengajak Wildan untuk istirahat dan menarik selimut kembali.
"Istirahat aja lah Bang aku sudah ngantuk,"***Dita menatap sedih foto USG anaknya yang telah gugur, tangisnya pecah saat itu juga, harapannya pun pupus sudah.
Padahal Ia berharap besar pada anak yang Ia kandung.
Anak yang akan mempererat tali percintaannya bersama dengan Wildan, karena Ia ingin merebut Wildan dan menjadikan Wildan seutuhnya hanya untuknya.
Ia sudah tak ingin lagi berbagi kebahagiaan dengan Resti, apalagi melihat Wildan yang sudah jadi kaya raya dan punya banyak harta.
Ia ingin memiliki itu semua.
Srattt!Dengan kasar kita merobek kertas itu.
Iya investasi kemudian meraih telepon genggamnya dan berusaha menelpon Wildan.
Satu kali panggilan, tidak terjawab.
Dua kali panggilan, juga tidak terjawab, hingga 5 kali panggilan Wildan juga tak jua menjawab telepon darinya.
Dengan kesal Dita mengambil vas bunga yang berada dekat dengannya dan melempar vas itu ke dinding hingga pecah berantakan, menjadi puing-puing yang berserakan di lantai.
Dita berteriak kencang, kesal karena setelah Ia keguguran, Wildan menjadi tidak perduli padanya, padahal saat itu Ia butuh Wildan berada di sampingnya.
"Dasar laki-laki tak punya hati!" ucapnya kesal.
Dita yang masih merasa kesakitan kemudian berdiri dan tertatih menuju ranjangnya.
Ia kemudian berbaring di atas ranjang sembari menitikkan air mata yang terus mengalir tanpa jeda.
Tak henti memikirkan cara bagaimana agar Wildan kembali kepadanya, sedangkan Ia sudah tidak mempunyai alasan untuk menahan laki-laki itu untuknya.
Di saat Ia terpuruk, tak lama terdengar suara dari HP yang berdering berkali-kaliMeski kesakitan, Dita langsung berdiri dan menahan rasa sakitnya untuk meraih handphone yang tadi berada di atas nakas.
Kelopak matanya melebar saat melihat nama seseorang yang memanggil di dalam layar handphone, yang tak lain adalah Wildan, laki-laki yang sejak tadi Ia tunggu kehadirannya.
["Halo, assalamualaikum, Abang.
Dari tadi Aku tunggu-tunggu.
Kamu ke mana aja? Aku butuh Kamu di sini, Bang,"]Dita menjawab dengan gaya manjanya tapi laki-laki di ujung sana seperti terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Dita.
["Maaf, Dit.
Abang lagi sibuk.
Kamu jangan ganggu dulu,ya,Abang lagi di rumah sakit,"]Kontan mendengar ucapan Wildan barusan membuat alisnya bertaut penasaran.
[" Rumah sakit? ngapain Abang di rumah sakit? Abang sakit apa Bang?"]Pertanyaan beruntun begitu saja terlontar dari mulut Dita.
Hanya terdengar helaan nafas dari ujung sana sebelum akhirnya laki-laki itu menjawab pertanyaan Dita dengan nada datar.
[" Bukan aku yang sakit tapi Resti,"]Mendengar nama Resti diucapkan kobaran api cemburu mulai merasuki dada Dita.
Bagaimana bisa Wildan bersama dengan Resti? padahal dirinya pun sakit dan termasuk sakit yang berbahaya.
Mengapa Ia bisa begitu memanjakan Resti dan memperhatikan Resti, sedangkan Ia yang mengandung anaknya diperlakukan acuh begitu saja.
["Sakit apa istrimu itu, tumben Kamu mau pergi mengantarkannya ke rumah sakit, kenapa dengan Aku nggak,"]Nada nada cemburu terekam jelas dari suara Dita.
["Sudahlah, jangan cemburu.
Aku hanya mengantarkannya ke rumah sakit.
Lagian wajar kan karena Aku suaminya dan dia istriku?"]Untuk pertama kalinya, Wildan menjawab ketus ucapan dari Dita, yang langsung membuat Dita semakin naik pitam dan membuat dunianya hancur berantakan.
Ia semakin takut untuk ditinggalkan oleh Wildan.
["Oh,ya ,wajar.
Dia istrimu tapi jangan lupa kalau Aku ini juga istrimu, meski Aku cuma istri sirihmu,"]["Iya, Aku tahu Kau istri sirihku dan Aku berjanji akan adil, makanya sudah jangan cemburu lagi, ya.
Aku sekarang sedang bahagia dan tidak mau meracuni pikiranku dengan hal-hal buruk lainnya,"]Mendengar Wildan mengatakan hal bahagia tentu saja membuat Dita merasa penasaran.
Hal apa sih yang bisa membuat laki-laki itu begitu bahagia?["Memang apa yang membuatmu bahagia? menang tender atau hasil jualanmu hari ini lancar dan banyak untungnya?"]Dengan perasaan gundah Dita menunggu jawaban dari Wildan.
Berharap laki-laki itu mau jujur dan tidak menyimpan sesuatu darinya.
Cukup lama Wildan menggantung ucapannya sebelum ia akhirnya menjawab dengan lugas.
["Resti sedang hamil muda dan ia kini sedang mual-mual makanya aku banyak ke rumah sakit,"]["Ha--ha--hamil?"]Tut-tut-tut!Dita shock mendengar ucapan Wildan barusan, hp-nya terjatuh begitu saja di lantai tanpa ia sadari.
Sedang Wildan di seberang sana cuek dan menutup teleponnya.
Ia langsung berjalan menuju ke dalam ruangan, melihat Resti yang sedang diperiksa oleh Dokter kandungan.
Dita yang terbakar cemburu langsung meraih handphone dan membuangnya begitu saja hinggahandphone hancur.
"Aaaa! sialan! wanita sialan Kau Resti!"Dita menangis histeris.
Ia menghempaskan tubuhnya kasar di kasur, menepis rasa sakit yang saat ini sedang menerpa perutnya.
Merasa terbuang, harapannya pun pupus sudah, hancur .
Lelah dalam keterpurukan, Dita akhirnya tertidur ditengah tangisnya.
Membungkus kesedihan dalam kegelapan.
Entah berapa jam Ia tertidur, saat menjelang tengah malam, Dita terbangun dan merasakan haus yang tiada terhingga.
Sembari meringis menahan sakit, Dita kemudian memaksakan diri untuk keluar dari kamarnya dan melangkah tertatih menuju ke arah dapur.
Tiba-tiba Dita menghentikan langkah saat mendengar suara desisan dari kamar kosong yang memang sengaja dipersiapkan Wildan untuk tamu.
Awalnya kita tidak menaruh curiga tapi ketika Ia ...
Sumber:Internet