Gelap

Jin Penunggu Cincin 4

๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear โš™ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple (๏ฃฟ) > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Jin Penunggu Cincin 4

. Bismillah ย  ย  ย  ย  ย  JIN PENUNGGU CINCIN#part 4#by: R.
D.
Lestari.
Hingga suara suaminya terdengar lirih dan membuat matanya mengerjap.
"Apa, Bang ...,""Dek ... pahamu ini apa? kok bau pandan?"Resti terdiam.
Ia langsung terduduk dan melihat cairan hijau yang merembes di antara pahanya.
Dengan rasa penasaran, ia menyolek cairan itu dan menciumnya.
Wangi pandan, persis cairan beberapa hari yang lalu.
Glek!Istri Wildan itu meneguk air liurnya susah payah, seolah tercekat di kerongkongan.
'Ini sebenarnya cairan apa? kenapa lendir berwarna hijau keruh ini teksturnya sama seperti cairan keperkasaan milik suaminya?'Seketika ia teringat mimpi barusan.
Itu mimpi atau memang nyata? pemuda tampan i"Dek? dek?" telapak tangan Wildan melambai tepat di depan wajah Resti, membuat wanita itu tersentak dan gelagapan.
"Eh, iya, Bang.
Adek juga ga tau, Bang," Resti bingung menjelaskan.
Haruskah ia jujur tentang sosok tampan itu? jika itu cuma mimpi, kenapa terasa amat nyata? dan sampai saat ini daerah kewanitaannya terasa nyeri.
"Apa ada yang sakit, Dek? ga mungkin ini dari Abang, 'kan?" Wildan masih menatap heran cairan kental itu.
Resti merasa tak nyaman dan mengambil tissue.
Ia langsung melap cairan itu dan membuangnya ke sembarang tempat.
Kelakuannya itu membuat sesosok makhluk tak kasat mata yang berdiri tak jauh darinya itu menatap marah.
"Ga ada yang sakit, Bang... udah, jangan dipikiri.
Abang hari ini kerja, ga?" tanya Resti.
"Iya, Dek.
Abang mau ke bengkel pagi-pagi, belakangan ini rezeki Abang lancar banget.
Apa gara-gara cincin itu, ya, Dek?"Mata Resti mengikuti arah telunjuk jarinya.
Cincin bermata biru yang tergeletak di atas nakas berkilauan terkena sinar matahari yang masuk dari sela ventilasi kamar.
Seketika ia kembali teringat obrolan di mimpinya saat itu.
Apa ini memang ada hubungannya dengan cincin itu? Resti menggeleng cepat.
"Itu cuma kebetulan, Bang.
Rezeki itu datang nya dari Allah," kilahnya.
Sembari beringsut dan beranjak dari ranjang, Resti merapikan pakaiannya yangย  kusut.
Ia berjalan melewati sosok tak kasat mata yang masih memperhatikan gerak gerik tingkahnya.
"Adek buat sarapan dulu, Bang," ucap Resti seraya berlalu menuju dapur.
Wildan hanya mengangguk.
Ia kembali menatap cincin bermata biru indah itu.
Ia pun akhirnya bangkit dan berniat meraihnya, tapi entah kenapa rasa kantuk yang teramat sangat begitu menyerangnya.
Ia mengurungkan niatnya setelah beberapa kali menguap dan kembali ke ranjang.
Lelaki berkulit eksotik itu kemudian merebahkan tubuhnya dan tak lama terdengar dengkuran halus darinya.
Sosok yang berdiri tak jauh itu menyungingkan senyum smirknya.
Ya, dialah yang membuat Wildan menjadi mengantuk berat.
Hanya dengan jentikan jari, ia mampu menguasai tubuh mana pun sesuai kehendaknya.
Makhluk berparas tampan itu lalu menghilang dalam kedipan mata dan timbul di dalam kamar mandi.
Menunggu kedatangan Resti yang telah membuatnya jatuh hati hanya dalam hitungan hari.
Sementara Resti yang masih di liput berbagai pertanyaan, terlihat bingung dan sering melamun hingga sarapan yang ia buat untuk suaminya itu gosong .
Merasa frustasi, Resti memutuskan untuk mandi.
"Nanti beli nasi gemuk aja buat Abang," lirihnya.
Byur! byur!Guyuran air yang menerpa tubuhnya membuat Resti kembali rileks.
Otot-ototnya yang semula menegang kembali meregang.
Tangan kanannya memijat tengkuk kepalanya.
Tubuhnya terasa pegal-pegal.
Di saat itu, ia merasakan sesuatu menjalar di bagian sensitif tubuhnya.
Berawal dari pinggang hingga di bawah dada.
Resti terkesiap dan membuka matanya.
Secepat kilat ia berbalik kebelakang.
Kosong.
Tak ada seseorang pun di belakangnya.
Napas Resti memburu.
Ia merasa sadar dan yakin jika memang ada yang menyentuh tubuhnya tadi.
Tangan hangat kekar dengan sentuhan lembut darinya.
"Ah! gil*!" Resti mengacak-acak rambutnya.
Semakin hari rumahnya semakin aneh.
Resti mempercepat acara mandinya.
Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
Ia kemudian keluar kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Saat melewati dapur, tatapannya tiba-tiba tertumpu pada meja makan, di mana makanan enak sudah ada disana.
Dengan handuk yang melilit tubuhnya, Resti melangkah pelan ke arah meja.
Dua porsi lontong sayur, dengan semangkuk rendang beserta kerupuk yang menggugah selera.
Resti menelan ludah.
Membayangkan nikmatnya makanan itu jika masuk kedalam mulutnya.
Pastilah amat enak.
Krukkkk!Perut Resti keroncongan.
Tanpa menunda waktu, ia langsung duduk di meja makan meski belum berganti pakaian.
Ia makan dengan amat lahap.
Sesosok mata elang yang sejak tadi menatapnya tersenyum puas.
Melihat bagaimana wanita yang ia sukai begitu nikmat mengunyah makanan yang ia curi dari beberapa warung demi untuk membuat Resti bahagia.
"Dek?" suara Wildan membuat Resti menghentikan makannya.
"Ya, Bang?" "Banyak banget makanan, kamu masak pagi-pagi begini?" Wildan tampak antusias dan duduk di hadapan istrinya.
"Enak, ni, Dek? makannya lahap bener, sampai lupa ganti pakaian," Wildan nyerocos, sedang Resti langsung terdiam.
Selera makannya hilang seketika.
Ia menatap suaminya intens.
Jika bukan Wildan yang membeli makanan, lantas siapa? apa ada orang lain selain mereka di rumah ini?Wildan menghentikan makannya dan menatap istrinya heran.
" Kok malah ngeliatin Abang, Dek.
Makannya dilanjutlah," Resti masih terdiam.
Dadanya bergemuruh kencang.
Ia meraih air dengan tangan yang gemetar.
Meneguknya dengan tergesa hingga satu gelas itu tandas dalam waktu singkat.
"Ba--bang... Adek mau ganti baju dulu,"Tanpa menunggu jawaban dari Wildan,wanita manis itu berdiri dan melangkah cepat ke arah kamar.
Ia mengunci pintu kamar dan duduk di pinggir ranjang.
Keringat dinginnya bercucuran menahan perasaan tak enak di dalam dirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini? kenapa menjadi penuh misteri?" Resti berbicara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba asap keluar dari dalam cincin, awalnya tipis tapi berubah tebal hingga memenuhi isi kamar.
Namun, anehnya Resti tidak terbatuk.
Asap itu persis seperti udara biasa, tapi berbau wangi bagai parfum malaikat subuh, menyengat tapi menenangkan.
Resti panik.
Ingin teriak tapi lidahnya seketika kelu.
Pandangan matanya mulai tertutup asap tebal hingga susah melihat sekitar.
Bertepatan dengan itu, ia merasakan tubuhnya di tarik kebelakang hingga ia terhempas di atas kasurnya.
Ia ingin berontak, tapi sesuatu seperti mengikatnya hingga ia tak mampu bergerak.
Hanya dadanya yang naik turun menahan takut.
"Kau tak perlu takut, aku tak akan menyaki suara laki-laki serak terdengar jelas di telinganya, beserta hembusan hangat yang membuat bulu kuduknya berdiri semua.
'Ka--kamu... si--siapa? apa maumu?' batin Resti.
Makhluk tak kasat mata itu terkekeh.
Suaranya terdengar lantang di telinga Resti.
Membuat nyali Resti semakin ciut.
'Makhluk ini pasti amat jelek.
Suaranya aja buat merinding,' masih membatin, Resti kembali melebarkan matanya.
Yakin jika di hadapannya ini adalah makhluk yang sangat mengerikan.
Tiba-tiba asap itu mulai membentuk wajah seseorang, wajah itu ...
Sumber:Internet