. Jin Penunggu Cincin#part 3#R.
D.
Lestari.
'Ka--kamu... si--siapa? apa maumu?' batinku.
Makhluk tak kasat mata itu terkekeh.
Suaranya terdengar lantang di telinga Resti.
Membuat nyali Resti semakin ciut.
'Makhluk ini pasti amat jelek.
Suaranya aja buat merinding,' masih membatin, Resti kembali melebarkan matanya.
Yakin jika di hadapannya ini adalah makhluk yang sangat mengerikan.
Tiba-tiba asap itu mulai membentuk wajah seseorang, wajah itu ... astagaaa! Seumur hidup baru kali ini melihat sosok pria yang begitu tampan.
Wajah campuran Indonesia cina, dengan dagu lancip dan rahang yang tegas, persis seperti mimpinya!Alis mata yang tebal, tatapan teduh dengan retina berwarna hazel ( hijau kebiruan) bak zambrut katulistiwa.
Bibirnya tipis berwarna kemerahan dengan kulit putih yang bersinar.
Bertubuh kekar dengan gurat-gurat urat nadi yang mencuat di antara otot tangannya.
Berambut panjang dengan ikatan di dahinya.
Berhidung mancung dan deretan gigi yang rapi.
Ia tertawa renyah melihatku.
Aroma wangi semerbak memenuhi ruangan kamar.
"Sudah Aku duga.
Kau akan terpikat dengan ketampananku,""Ka-Kau si-apa?" desisku dengan melangkah mundur.
Degup jantung berdetak kian kencang saat melihat tangannya terangkat dan mencoba merangkulku.
"Kenapa Kau takut, Sayangku? bukankah kita sudah bersatu? kau sudah merasakan keperkasaanku dan kau pun berkali-kali mendesah penuh k*nikmatan di pelukanku," suara merdu itu menggema membuatku semakin tak menentu.
Ada rasa takut, ada rasa marah, ada rasa ... ah, terlalu banyak rasa, tapi yang kurasa saat ini adalah gelanyar yang merambat di sekujur tubuh, hingga terasa denyut di area k*wanitaan.
Sungguh gila! mendengar suaranya saja sudah mampu membuatku bern*fsu!"Emhh, pergi!" sentakku sembari merapatkan kakiku, menahan denyut yang terasa semakin menyiksa, tubuhku memanas dan bergetar melihat betapa menawannya makhluk aneh yang kini tengah tersenyum nakal.
Bukannya takut, ia malah semakin mendekat dan mendorong tubuhku hingga mentok di dinding.
Ia mengunci tanganku yang sempat mendorongnya menjauh.
Kedua tanganku ia angkat ke atas dan mencengkramnya hanya dengan satu tangan.
Slaps!Begitu saja makhluk itu menarik ikatan di handuk hingga benda yang membalut tubuh ini terlepas tanpa menyisakan apapun.
"Akh, sial*n!" caciku.
Aku membuang wajah ke arah lain, menghindari tatapan mata hazel yang kini menatapku penuh g*irah.
D*daku naik turun menahan sesak.
Apalagi saat kurasakan hembusan napasnya yang wangi bagai bunga setaman merasuk ke dalam indra penciumanku.
"Sekuat apa pun kau ingin lepas dariku, tubuhmu tak bisa bohong, kau menginginkanku, Res"Kau ingin berada dalam pelukanku, merasakan lagi ... lagi ... dan lagi ... k*nikmatan yang telah kuberi,""Lepasin! aku sudah bersuami! jangan kurang ajar kamu!" makiku dengan suara bergetar.
Sungguh berada dekat dengan posisi polos seperti ini membuatku begitu tersiksa.
Apalagi saat kurasakan kecupan-kecupan kecil di leher, dan suaranya yang merayu ditelinga.
Terdengar s*ksi, membuatku semakin basah dan beberapa otot mengejang.
"Lepaskan! ... akSuara d*sahan dari mulutku sendiri membuat diri ini muak.
Aku ingin menolak, tapi sial! tubuhku berkata sebaliknya.
Sumber:Internet