. Jin Penunggu Cincin#part 4#by: R.
D.
Lestari.
Sudah satu minggu ini, Bang Wildan di rumah tanpa pekerjaan.
Uang tabungan sudah sangat menipis.
Aku semakin frustasi.
Mencoba mencari solusi lain.
Aku mengajukan diri untuk mencari pekerjaan.
Kebetulan di sosial media sedang gencar merekrut Lady Cimolly, menjual produk yogurt beraneka variant rasa.
Bang Wildan tampak pasrah mendengar permintaanku.
Meski sedikit kesal karena menurutku ia kurang berjuang dan banyak main game saja, aku tetap berusaha sabar.
Dan, selama itu pula, makhluk jadi-jadian itu tak pernah hadir, baik di alam mimpi maupun alam nyata.
Ia benar-benar menepati janjinya.
Aku menghela napas dalam.
Memandang halaman rumah yang hanya lima meter dari jalan aspal.
Menatap orang-orang yang lewat dan hilir mudik kendaraan.
Bengkel pun sepi.
Sedari pagi hingga tengah hari ini, hanya ada dua orang yang mengisi angin.
Total pendapatan masuk sekitar empat ribu saja.
Menyedihkan!Aku melirik Bang Wildan dari jendela kaca, memperhatikan tingkahnya yang hanya menatap layar HP dari buka mata, sekitar jam delapan pagi.
Hampir empat jam ia habiskan dengan bermain game tanpa usaha mencari pelanggan.
Lagi-lagi hanya desahan kekesalan yang meluncur dari bibirku.
Tiba-tiba perasaan rindu yang teramat sangat menghampiri.
Semenjak Bang Wildan di rumah, ia selalu meminta jatah, hingga tulang-tulangku rasanya nyeri dan tubuhku sakit-sakit.
Yang lebih membuat batinku tersiksa, seperti biasa, ia hanya memikirkan nafsunya sendiri.
Setelah Ia tuntas, Ia membiarkanku begitu saja tanpa ada usaha untuk membuatku mencapai puncak.
Itu yang membuat aku begitu merindu dengan makhluk yang tak kuketahui namanya itu.
'Ah, sudahlah! semakin aku di rumah, semakin gil*!' batinku.
Dan, aku pun kemudian beranjak dari kursi kayu yang mulai lapuk.
Kursi itu berderit dan bergoyang saat bokong ini kuangkat perlahan.
Aku melewati Bang Wildan begitu saja menuju kamar, mencari berkas-berkas untuk besok kuserahkan.
Sekilas, aku melirik cincin yang tergeletak begitu saja diatas nakas.
Ingin rasanya kudekati dan kucium sebagai permintaan maaf, tapi batin ini menolak tegas.
'Ingat! bersekutu dengan setan hanya akan membawamu ke lubang kesengsaraan!' lagi-lagi hatiku bersuara.
Aku berpaling, dan tatapanku kembali jatuh ke tumpukan kertas yang sudah aku rapikan dan masukkan ke dalam map.
Berharap besok ada kemudahan, hingga aku bisa bekerja dan mendulang rupiah.
Kriett!Pintu berderit dan kulihat Bang Wildan berdiri menyender diambang pintu.
Wajahnya kuyu dan menatapku sendu.
"Dek ... kamu marah ya, sama Abang karena sudah seminggu di rumah aja?""Abang minta maaf, ya, Dek.
Job Abang bener-bener sepi," keluhnya.
Aku hanya terdiam.
Aku kemudian menunduk dan tanpa terasa ada bulir bening yang terjatuh.
Tak ingin Bang Wildan semakin sedih karena melihat air mataku.
Aku segera mengangkat tangan dan menyekanya dengan sigap.
Kembali kuangkat kepalaku dan menatapnya dalam, masih dengan posisi duduk bersila di depan tumpukan kertas-kertas dan dokumen penting yang kusimpan.
Aku menggeleng pelan sembari mengulas senyum manis untuknya.
Sumber:Internet