Gelap

Jin Penunggu Cincin 8

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Jin Penunggu Cincin 8

.                 Jin Penunggu Cincin#part 8#R.
D.
Lestari.
Bisa kurasakan aroma bunga yang begitu wangi menguar dari mulutnya.
Awalnya hanya sebuah kecupan, saling mengecup, lalu berubah menjadi pagutan hebat.
Hisapan bibirnya terasa sangat nikmat dan menggelora, membuat tubuhku bergetar.
Kecupan itu semakin menjalar, menuju leher sembari salah satu tangannya bermain di daerah bokong dan pinggangku.
Membelai dengan lembut dan teratur.
"Emhh," desahan itu lolos tanpa bisa kutahan saat bibirnya begitu keras menghisap salah satu belahan dadaku.
Menyisakan bekas merah yang membuat mataku mendelik seketika.
Bught!"Awhh!"Refleks tubuhnya kudorong hingga terjungkal dan jatuh di lantai marmer yang begitu mengkilat.
"Apa-apaan ini? kalau Bang Wildan tau bagaimana?" decakku kesal.
Pria tampan itu berdiri sembari meringis kesakitan.
"Hei, tenagamu kuat juga, permaisuriku," Ia mendekat dengan tawa renyahnya.
Pipiku langsung merah seketika.
Padahal kesal karena ia membuat jejak disekitar dadaku.
Bagaimana jika Bang Wildan melihatnya?"Lagian, katanya Jin, tapi kok di dorong gitu aja mental?" desisku setengah mengejek.
"He-he-he, biarin Jin juga, kalau sudah sama-sama wujud begini, aku jadi sama seperti kamu," lagi-lagi tawa renyah itu terdengar begitu menghibur.
Tanpa kusadari, dua sudut bibir ini terangkat dan membuat satu senyuman di wajah.
Ia menatapku dengan mata yang berbinar.
"Kamu memang sangat cantik, Res apalagi jika tersenyum tulus seperti itu," pujinya yang kembali membuat wajahku memanas karena malu.
'Apa ini? mengapa persaanku menjadi tak karuan saat bersamanya? apa aku ...,'"Apa kamu ... mulai jatuh cinta padaku ...,"gumamnya dengan mendekatkan bibirnya tepat di telingaku, membuat jantungku berdebar seketika.
"A--aku ...,"Cup!Kecupan singkat ia layangkan sebelum kembali berdiri dan meraih tanganku.
"Ikut, yuk!" ajaknya.
"Mau ke mana? nanti kalau Bang Wildan cari gimana?" lirihku cemas.
Ia menggeleng pelan.
"Ini di alam mimpi, Sayang.
Dia tak akan pernah mencarimu, kamu kan tidur di sampingnya," jelasnya.
"Aku ...,""Ayolah, Sayangku.
Aku tak akan mencelakaimu, karena aku sangat mencintaimu," ucapnya tulus.
Entah kenapa, setiap Ia berbicara padaku, seperti ada magnet yang menarik dan membuatku dengan sadar selalu mengikuti apa maunya.
Perlahan, ku jejakkan kakiku ke lantai marmer yang berkilau seperti emas itu.
"Aww!" refleks kuangkat kembali kakiku, karena lantai yang begitu dingin layaknya menginjak tingkatan es.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Di--ngin," Ia terdiam sejenak, tapi akhirnya ia mendekat dan merundukkan tubuhnya, tangan kekarnya menyelusup kearah pinggang dan kaki.

Sumber:Internet