. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS 0000 Hari ini hujan.
Padahal ramalan cuaca kemarin mengatakan bahwa hari ini akan cerah.
Sialan.
Kevin tak jadi membuka pintu apartement nya.
Dengan malas ia berjalan ke kamar, tempat terakhir kali ia menyimpan payung.
Yang sangat jarang ia gunakan.
Ia merapatkan kembali jaketnya sebelum membuka pintu.
Bersiap menghadapi dingin yang selalu menggodanya untuk kembali tidur.
Bukan pergi ke kampus, demi janji dengan dosen yang sudah ia cari selama seminggu ini.
Kevin keluar dari lift dan hendak menyapa ketika melihat Grace tengah berdiri di pintu gedung apartement, seperti tengah menunggu seseorang.
Seorang lelaki menghampiri Grace dengan payung di tangannya.
Berbicara sebentar, dan mereka berdua berjalan bersama menuju mobil yang tak jauh terparkir.
Dibawah satu payung yang sama.
Bahkan lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Grace, mempersilahkan masuk dan perlahan pergi meninggalkan apartement, menembus hujan yang semakin lebat.
Kevin meremas payung lipat yang ia pegang.
Sialan.
Mood-nya untuk bertemu dosen benar-benar hancur.
*** Kaca jendela ruangan Agung terlihat indah, tetesan hujan yang tak berhenti mengenai kaca seakan ingin ikut masuk kedalam ruangan.
Ikut merasakan kesunyian.
Orang yang sedari tadi menatap jendela hanya mengembuskan napas panjang.
Untuk kesekian kalinya.
Sudah hampir sejam ia duduk menunggu di ruangan yang memang agak sedikit lebih besar dari ruangan dokter lainnya.
"Tunggu sebentar ya Grace.
Mereka sedang dalam perjalanan.
" Grace menoleh pada Agung yang baru saja masuk kedalam ruangan dengan hp ditangan, tersenyum.
Mereka yang dimaksud Agung tentu saja Nasya dan Rascal.
"Gak papa Dok," Hujan pasti membuat jalanan macet.
Apalagi Grace sudah paham dengan pekerjaan aktor papan atas itu bagaimana.
Sibuk.
"Apa kamu gugup? Kamu tahu kan, proses bayi tabung itu jarang berhasil pada percobaan pertama.
" Agung berjalan duduk ke kursinya.
"Jadi kamu gak perlu khawatir bila ternyata hasil tes nanti tak berhasil.
" Grace hanya mengangguk paham.
Agung sudah menjelaskan itu kepadanya untuk kesekian kalinya.
Ia mengerti bahwa Agung hanya ingin membuat Grace nyaman.
Karna itu memang pekerjaannya.
Suasana ruangan kembali hening.
Sejak Agung menjemput di apartement tadi pagi, pembicaraan mereka hanya seputar proses bayi tabung, dan kesiapan Grace.
Sebenarnya, Agung sangat ingin mengajak Grace berbicara.
Mengenai hal selain proses bayi tabung.
Tetapi, setiap kali ia ingin membuka mulut untuk memulai, selalu saja batal.
Takut pertanyaannya membuat Grace tak nyaman.
Jadi, sedari tadi ia hanya duduk memperhatikan Grace yang kini kembali menatap jendela.
Melamun.
Terdengar ketukan pintu dari luar, dan terbuka ketika Agung memberi izin masuk.
Seorang perempuan bertubuh mungil yang memakai seragam seperti yang Agung gunakan, menyapa.
"Maaf menganggu Dok, tetapi pagi ini jadwal Dokter Agung memberi bimbingan pada kami.
" Agung menepuk keningnya.
"Ah,, maaf saya lupa.
" Agung mengecek kalender diatas meja kerjanya.
Beralih menatap Grace.
"Sepertinya saya harus pergi sebentar Grace, kamu tak apa menunggu mereka disini sendiri kan?" Agung bertanya memastikan.
Sumber:Internet