. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS 000 Rasa kesepian akan membuat mu kebal.
Kebal dengan segala masalah yang menghampiri.
"Jadi, selama dua minggu kedepan kamu menginap disini.
" Agung mempersilahkan Grace masuk kedalam ruang inap vip rumah sakit.
Ia memperhatikan Grace yang hanya diam saja mengamati isi ruangan.
"Apa tak masalah bila satu kamar ini hanya untuk saya Dok? Rasanya terlalu berlebihan.
" Agung mengamati ruangan sekali lagi dengan seksama, Mempertanyakan 'berlebihan' yang Grace maksud.
Ruangan vip ini seperti kamar inap biasa, satu tempat tidur, meja berlaci disampingnya, sofa di sudut kamar, tak jauh dari sofa ada pintu yang mengarah pada kamar mandi.
Tak ada yang istimewa kecuali sebuah tv yang tergantung di dinding.
"Apanya yang berlebihan Grace?" Akhirnya Agung bertanya tak mengerti.
"Semuanya Dok, kenapa saya tidak ditempatkan di ruangan biasa? Bergabung dengan pasien lainnya?.
" "Karna kamu tidak sakit Grace, bukannya Rascal meminta kamu menginap disini agar kami bisa mengawasi kesehatan kamu dengan baik? Kalau kamu berada di ruangan yang sama dengan pasien lainnya, tidak menutup kemungkinan kesehatan kamu akan bermasalah.
Tertular.
" Melihat Grace yang kini mengangguk mengerti, Agung meletakkan koper milik Grace di dekat sofa.
"Saya ada janji dengan pasien, kalau kamu butuh sesuatu tinggal pencet tombol disitu.
" Agung menunjuk tombol merah di dekat tempat tidur.
"Atau kamu bisa ke sana, tiga ruang dari kamar kamu sebelah kiri.
Didepan pintu lift tadi.
Minta tolong saja sama perawat-perawat disana.
" Agung tersenyum singkat setelah Grace mengangguk paham dan mengucapkan terimakasih.
Sebenarnya ia penasaran dengan tingkah Grace saat di mobil tadi, kenapa Grace menangis? Siapa yang membuat Grace menangis?.
Semua pertanyaan itu Agung simpan sendiri.
Rasanya tak baik bertanya untuk saat ini.
Bagaimanapun itu adalah privasi Grace, yang kini menjadi pasiennya.
*** Grace menyapa Pak Amir yang masih seperti biasa.
Menonton tv.
Ia melangkah cepat memasuki lift.
Mengingat Agung yang tengah menunggu nya di tempat parkir, Grace harus cepat.
Ia tahu dokter seperti Agung pasti orang yang sangat sibuk.
Menemani Grace mengambil perlengkapan untuk menginap dirumah sakit membuat Grace tersenyum sendiri.
Sesampai di kamar, ia segera menyusun rapi pakaiannya yang tak terlalu banyak.
Masih ada luang kosong sehingga Grace mengisinya dengan buku-buka yang ingin ia baca, untuk menghilangkan suntuk di rumah sakit.
Setelah dirasa lengkap, tak ada yang tertinggal, Grace segera menutup koper dan mengunci.
Ia memandang sekeliling apartement yang akan ia tinggalkan lumayan lama.
Padahal baru saja direnovasi.
Dengan lesu ia membuka pintu dan keluar, ia mengambil kunci apartemennya dari dalam tas dan mengunci pintu.
Apa perlu pamit pada mereka ya? Grace menatap pintu apartement June yang ada didepan nya, jam segini pasti June belum pulang.
Apalagi kalau June menginap di rumah temannya.
Sambil menarik koper Grace mulai berjalan menuju lift.
Ketika didepan pintu apartement Kevin, Grace terdiam.
Harus pamit kan? Baru saja ia hendak mengetuk pintu saat pintu terbuka dari dalam.
Kevin berdiri didepan nya, mengenakan kaos abu-abu polos dan celana jeans selutut.
Seperti bersiap pergi.
Sumber:Internet