. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS 000 Ruangan yang didominasi warna abu-abu itu kini terlihat lebih bersih.
Setelah dua minggu lamanya tak dihuni, Grace mulai membersihkannya sedikit demi sedikit.
Bahkan sempat dibantu Nasya yang memang beberapa kali berkunjung sejak Grace keluar dari rumah sakit.
Ia selalu menemani kemanapun Grace hendak pergi.
Meski Nasya tak bisa setiap hari mampir, hingga terkadang rasa kesepian itu hadir menghampiri Grace.
Seperti saat ini.
Grace terdiam memandang keluar jendela.
Ditemani secangkir teh hangat dan biskuit asin, untuk mengurangi rasa mualnya sejak pagi.
Lius bilang itu salah satu cara mengatasi rasa mualnya.
Rasa mual yang datang tak menentu.
Terkadang di pagi buta mengganggu tidurnya, atau saat siang hari mengganggu tidur siangnya.
Grace banyak tidur.
Itu hal pertama yang ia sadari, badannya jadi gampang lelah hingga terkadang mengantuk.
Ia bahkan jarang keluar dari apartement nya, kecuali untuk membuang sampah disaat mualnya tak muncul.
Semua keperluan nya ditangani Nasya dengan baik.
Lemari pendingin nya selalu penuh buah dan makanan segar.
Lius terkadang mampir, ikut membantu keperluannya di kala Nasya tak sempat karna pergi menemani Rascal.
Mengecek keadaannya menjelang pengecekan bulan pertama kehamilannya.
Semua terasa menyenangkan.
Membuat Grace tersenyum sebelum menyesap tehnya.
Hamil itu menyenangkan.
Kecuali untuk rasa mualnya.
Grace mulai menikmatinya.
Sungguh.
Ia tak kesepian lagi bila malam datang, setiap tidur selalu ada yang bisa ia ajak bicara.
Meski lawan bicaranya masih terlihat rata belum ada tanda-tanda kehidupan.
"Jangan senyum-senyum sendiri Grace, nanti kamu disangka orang gila.
" June berjalan masuk kedalam apartement menghampiri Grace.
Ikut duduk dihadapan Grace dan mengambil biskuit asin.
Memakannya santai.
Sebagai balasan, Grace hanya tersenyum.
"Ada apa June? Tumben sore-sore kesini.
" June menelan biskuit di dalam mulutnya.
"Lusa aku ulang tahun, jadi kita makan malam bareng di apartement aku.
Kamu bisa kan?" Grace mengangguk membuat June tersenyum senang.
"Tenang aja.
Nanti aku siapkan makanan sehat untuk dedek di perut kamu.
" June tahu? Ya.
Grace tak ragu memberi tahu June tentang pekerjaan anehnya ini.
Ia tahu June bukan orang yang akan menyebarkan informasi tanpa izin orang bersangkutan.
Lagi pula, bila June tahu, semua menjadi lebih gampang.
Bila terjadi sesuatu, June bisa mengantarnya ke rumah sakit.
Menjadi teman siaga untuknya.
*** Grace memperhatikan gambaran hitam putih di layar kecil yang tak jauh darinya.
Melihat dengan teliti, seperti yang dilakukan Rascal dan Nasya.
Mereka bertiga sangat antusias menanti hari ini dari beberapa hari lalu.
"USG pada bulan pertama memang belum banyak memperlihatkan banyak hal, janin yang ada di dalam rahim pun masih berupa gumpalan.
Kabar baiknya, janinnya dalam keadaan baik-baik saja.
Tetapi kamu tetap harus mengonsumsi obat yang saya berikan Grace.
" Grace mengangguk.
Tak lama Agung mencetak gambar hasil USG menjadi dua.
Satu untuk Nasya dan satunya lagi untuk Grace.
Sepanjang perjalanan pulang, Grace tak berhenti tersenyum memandangi foto hitam putih di tangannya.
Ketika taksi yang mengantarkannya pulang sampai pun, ia masih tersenyum bahagia.
Grace menyapa Amir dengan senyuman lebar.
Hal yang paling jarang ia lakukan.
Ia menempelkan foto itu hati-hati di pintu lemari pendingin.
Terlihat berbeda dengan background laut, karna hanya itu satu-satunya foto yang di tempel.
Sumber:Internet