. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS 000 Grace merasa tangannya berdenyut menahan sakit.
Tangan kanannya ini sudah sering ditempa, Mengerjakan berbagai macam pekerjaan tanpa merasa sakit.
Tetapi kenapa tangannya sekarang terasa begitu sakit setelah menampar Kevin.
Dan melihat bekas memerah di pipi orang di depannya, bagian dalam tubuhnya juga terasa sakit.
Kenapa dadanya terasa sesak sekali.
"Sorry" gumam Grace dan mengambil foto USG dari tangan Kevin.
Meletakkannya kembali ke pintu kulkas.
Ia tak tahu kenapa dirinya merasa bersalah.
"Kenapa?" Grace terdiam mendengar pertanyan Kevin.
Ia merasa ada nada kekecewaan disana.
"Gue pikir lo gak seperti yang selama ini gue pikirkan.
" Ujar Kevin setelah terdiam lama tak mendapat jawaban Grace.
"Lo tahu apa? Yang lo tahu cuma menghina gue, ngomong sesuka hati lo.
Tanpa lo tahu yang lo omongin itu benar atau salah.
Stop ngomong hal yang gak lo tahu.
" Potong Grace.
Kevin terdiam sejenak, kembali berbicara seakan tak mendengar Grace.
"Karna gue sempat pikir selama ini emang otak gue yang brengsek, asal bicara.
Nyakitin lo,," "Lo gak asal bicara.
Kerjaan gue ya gini.
Lo juga gak perlu khawatir perkataan lo itu nyakitin gue atau gak, kenapa? Karna itu gak ngaruh apapun untuk lo.
" Grace berkata miris.
Hatinya yang awalnya terasa lega setelah menyampaikan keluhannya menjadi sedih.
Menyadari kenyataan yang sebenarnya.
Bahwa Kevin hanya merasa khawatir padanya.
Hanya khawatir.
Kevin berbalik menatap Grace lama.
Mengamati warna muka Grace yang kembali normal, tidak merah seperti sebelumnya, saat Grace membalas perkataan Kevin.
Ia berusaha menatap Grace, mencari apa yang sebenarnyaย wanita itu pikirkan.
Grace tersentak ketika Kevin memegang bahunya, berdiri tepat di depannya.
Menatapnya lekat.
"Siapa orang itu?" Kevin bertanya pelan.
Grace menatap Kevin tak mengerti.
Dan semakin tak mengerti ketika mendengar lanjutan ucapan Kevin.
"Kalau dia memang gak mau tanggung jawab," Kevin meraih tangan Grace.
"Biar gue yang tanggung jawab.
" **** Nasya mengamati Lius yang menyetir sambil tak berhenti tersenyum.
"Kamu kenapa? Dari tadi senyum-senyum aja.
Dapat koas yang cantik ya?" Tebaknya.
Luis menggeleng sambil berusaha menahan senyumnya.
"Terus kenapa? Harusnya waktu Rascal nyuruh kamu temenin aku ke apartement Grace kamu kesal.
Ini kenapa seneng?" Lius menatap Nasya sebentar, kemudian tertawa kecil.
Membuat Nasya semakin penasaran.
"Kenapa sih? Ada apa?" Melihat Lius yang tak mau menjawab pertanyaannya.
Nasya mulai memikirkan apa-apa saja penyebab Lius begitu senang hari ini.
Kenapa Lius tidak marah saat Rascal menyuruhnya menemani Nasya di hari minggu.
Hari istirahat nya.
"Gak apa-apa Sya.
Serius.
" Jawab Lius akhirnya, dan melihat Nasya yang masih menatapnya tak percaya tapi tak mengatakan apa-apa lagi.
Nasya tak mengatakan apa-apa lagi hingga mereka sampai di apartement.
Sambil membawa oleh-oleh hasil menemani Rascal kemarin untuk Grace.
"Sini biar aku bawakan," Nasya mengiyakan dan memberi seluruh bawaannya pada Lius.
Berjalan memasuki bangunan besar didepan nya, berhenti sebentar untuk menyapa Pak Amir, memberikan oleh-oleh yang sudah ia sisihkan sebelumnya.
Sumber:Internet