. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS 000 Kediaman keluarga Winata berbeda di pagi ini.
Nyonya Winata sedang bahagia, anak laki-laki satu-satunya akan datang untuk merayakan ulang tahunnya setelah di bujuk berkali-kali.
Ketika melihat cucunya bermain dengan sang paman, senyumnya mengembang cantik.
Tak nampak sedikitpun keriput di wajah tuanya, seakan mengatakan perawatan mahal yang ia jalani tak sia-sia.
"Ma, perut mama gak akan kenyang kalau terus liatin Kevin.
" Thata, putri tertuanya berujar sambil memandang mamanya heran.
Nyonya Winata tersenyum, menuangkan air ke gelas dan memberikannya pada putra kesayangannya.
"liat kalian makan mama udah kenyang kok.
Ya ampun nak, kenapa kamu kurusan sih sayang? Kamu gak makan dengan baik ya di Jakarta?" Thata menggeleng-gelengkan kepala melihat perhatian berlebihan yang di berikan mamanya untuk adiknya itu.
Kevin hanya tertawa dan melanjutkan makan siangnya tanpa gangguan.
Ia memang menyadari bahwa ia jarang pulang ke rumah untuk mengunjungi orang tuanya, bahkan ia jarang menelpon untuk sekedar memberi kabar.
Kemarin, mamanya benar-benar memaksa.
Bahkan sampai mengancam hendak bunuh diri.
Membuat Kevin mau tak mau datang berkunjung, meski untuk sekedar makan siang bersama.
"kamu sebentar lagi wisuda kan?" Kepala Keluarga Winata yang sedari tadi makan dalam diam, bersuara.
Membuat Kevin secara tak sadar menghentikan gerakan tangannya.
Menunggu pertanyaan selanjutnya dari orang yang sangat Kevin hormati.
"Papa sudah memikirkan ini, setelah wisuda nanti, papa mau kamu lanjut di USA.
Kamu bisa sekalian magang di perusahaan paman kamu disana.
" Ucap Juan Winata santai.
Tak memperdulikan tatapan tak terima istrinya.
"ngapain Kevin jauh-jauh kesana? Dia kan bisa bikin perusahaan sendiri disini.
Mama gak mau, kenapa dia harus jauh dari kita terus sih!" Kevin diam menatap makanan di piringnya.
Ia tak terlalu berharap ketika mendengar pembelaan mamanya.
Baginya, perkataan Juan adalah perintah.
Ultimatum yang sama sekali tak bisa dilanggar.
Melihat anak bungsunya yang hanya diam, Juan menghembuskan napas pelan.
"kamu harus tahu maksud papa, Kevin.
Papa tahu kamu masih hidup dengan rasa bersalah mu itu, karna itu papa mau kamu pindah dari sana.
Memulai hidup baru kamu.
kamu gak bisa terus-terusan hidup dengan rasa bersalah itu.
Semua itu bukan salah kamu.
" Mendengar perkataan papanya, sendok di tangannya terlepas.
Membuat suara yang cukup keras.
Hingga orang tua dan kakaknya menatapnya kaget.
Kevin berdiri dari duduknya, "Aku kenyang, dan ngantuk.
" Hingga di tangga, ia masih mendengar suara mamanya yang protes dengan keputusan sepihak yang papanya berikan.
Ia memejamkan mata tak perduli.
Dengan malas ia memasuki kamar yang sudah lama ia tinggal, namun rapi dan bersih karna selalu diurus.
Tanpa melepas sandal rumahnya, ia menjatuhkan badannya ke kasur empuk yang langsung membuat matanya terpejam.
Bila ini bukan salahnya, kenapa bayangan itu tak mau hilang? Bila ini bukan salahnya, kenapa kejadian itu selalu menghantuinya? Bila ini bukan salahnya, kenapa untuk bernafas saja susah? Bila ini bukan salahnya, lantas salah siapa? Perasaan itu selalu menghantuinya, membuat dirinya sulit untuk hidup.
Setelah bertahun-tahun berlalu pun, mimpi buruk itu selalu datang ditidurnya.
Ia sama sekali tak bisa menghilangkan bayangan itu, hingga ia yakin, sampai matipun ia tak akan bisa melupakannya.
Sumber:Internet