. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS 0000 Bau obat menyambut Grace ketika ia baru membuka pintu.
Dengan setengah berlari ia menuju ruang cleaning service dan mengganti pakaian dengan seragam kerjanya.
Rumah sakit tempatnya bekerja sebagai cleaning service masih sepi.
Baru jam enam pagi, masih ada satu jam lagi sebelum masuk jam besuk pasien.
"Pagi Grace.
" Lela cleaning service dari shift malam menyapanya ketika Grace baru keluar dari ruangan cleaning service.
Grace tersenyum.
"Pagi Mbak Lela.
Mau pulang?" Tanya Grace.
Lela mengangguk.
"Anak Mbak mau berangkat sekolah.
Enggak ada yang jaga warung.
" Grace menatap Lela yang tengah menguap, ngantuk.
Kadang, setiap kali Grace merasa hidupnya tak adil, ia teringat Lela yang membuatnya bersyukur dengan apa yang ia punya kini.
Wanita yang berumur 40-tahun ini bekerja sebagai cleaning service di malam hari dan mengurus warung kelontong kecilnya dirumah siang harinya.
Mempunyai 4 anak yang masih sekolah dan suami yang sudah meninggal membuat nya harus banting tulang mencari uang seorang diri.
"Mbak harus semangat Grace, dan yang bikin semangat itu anak dan suami Mbak.
Mbak tahu kalau suami Mbak dari surga bangga sama Mbak.
Karna Mbak berhasil kuat melewati ini semua.
" Ujar Lela suatu pagi saat tak sengaja melihat Grace yang duduk di atap gedung rumah sakit pagi-pagi buta.
Hari itu tepat setahun lalu, Grace pergi kerja lebih awal karna ingin bunuh diri.
Ia benar-benar lelah dengan hidupnya tanpa orang tua nya.
Lela adalah satu-satu nya orang yang mendengar suara tangis Grace yang pilu.
Pagi itu, Grace bagai menemukan sosok ibunya dalam diri Lela.
Sosok yang mendengar keluh kesahnya.
"Kapan kamu mampir ke rumah Mbak? Anak-anak Mbak udah pada nanyain kamu.
" Grace tersadar dari ingatan nya dan tersenyum.
"Belum tahu Mbak, di kafe Grace belum dapat jatah libur.
" Lela mengangguk mengerti dan menepuk pundak Grace pelan.
"Jangan paksakan diri Grace, tubuh kamu butuh istirahat juga.
" "Grace masih muda Mbak.
Kalau ada istirahat yang menghasilkan uang, Grace mau.
" Lela tertawa.
"Kalau gitu sih Mbak mau juga.
Mbak pulang dulu ya!" Grace mengangguk dan memulai pekerjaannya.
Ia memulai pekerjaan nya dari lobi rumah sakit.
Menyapa beberapa suster dan dokter yang berjalan melewatinya.
Yah, ia harus bersyukur dengan hidupnya kini.
Ia yakin orang tua nya melihatnya bahagia dari surga.
Dan suatu hari kan mengirimkan malaikat untuknya.
*** "Intinya Nasya memungkinkan untuk hamil apa tidak?" Rascal bertanya pada Lius yang sejak tadi menjelaskan panjang lebar tentang penyakit lemah jantung Nasya.
Sejak Rascal mengetahui Nasya menderita lemah jantung, ia tak pernah sekalipun absen menemani Nasya check up.
Termasuk pagi ini, menemani Nasya yang ingin konsultasi tentang kemungkinan nya untuk hamil.
"Rascal!" Nasya menegur dan meminta maaf pada Lius lewat tatapan matanya.
Rascal mendesah berat.
Mereka baru saja menikah dan Nasya sudah membicarakan tentang mempunyai anak.
Tidak, tidak.
Rascal bukan tak suka Nasya membicarakan itu apalagi tak ingin mempunyai anak, ia hanya tak mau Nasya menderita karna kehamilannya kelak.
Apalagi setelah mendengar penjelasan dari Lius.
Hatinya semakin tak ingin Nasya hamil.
"Tidak.
Itu jawaban gue sebagai dokter Nasya.
Tapi sebagai sahabatnya, Nas,," "Gue cuma butuh saran dari sudut pandang dokter.
Gue nggak butuh pandangan lo.
" Potong Rascal cepat.
Sumber:Internet