. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS HARAP BACA NOTE HINGGA SELESAI 000 Ruangan itu penuh suara musik dan kilatan lampu sorot.
Beberapa orang tampak berlari tergesa-gesa membawa peralatan untuk fotografi.
Seorang pria membawa gelas kopi di kedua tangannya dan memberikan kedua gelas kopi tersebut pada pasangan yang duduk di depannya.
"Sorry, kita adanya kopi.
" Rascal menerimanya dan segera memberikan satu gelas pada wanita yang duduk di sampingnya, sedang termenung menatap layar komputer dimana hasil jepretan foto ditampilkan.
"Nasya? Kamu mau kopi?" tanya Rascal menyadarkan lamunan Nasya.
Nasya segera menatap Rascal dan mengambil gelas kopi yang Rascal berikan.
ia memperhatikan isi gelas sebentar dan meminumnya perlahan.
Setelah selesai, ia balas menatap tatapan Rascal.
Ia tahu Rascal sedari tadi mengamati tingkahnya yang terlalu banyak melamun selama mereka berada di Singapura.
"Kamu kenapa Sya? Kamu masih khawatir Grace pergi check up sama siapa?" Nasya menggeleng lemah.
"Aku hanya merasa gak enak aja," jawabnya jujur.
"Gak enak kenapa? Kamu sakit? Mana yang sakit?" Rascal bertanya khawatir.
Bukannya menjawab, Nasya kembali meminum kopinya, berharap bisa menghilangkan rasa pening yang sejak tadi pagi ia rasakan.
Perasaan pening yang hadir karna terlalu banyak pikiran.
Dan sayangnya Nasya sama sekali tak tahu apa yang mengganggu pikirannya.
Ia hanya merasa tak tenang.
"Apa masih lama?" Nasya bertanya pada Rio, manajer Rascal yang kini berdiri di belakang Rascal, mengecek hp.
Rio menggeleng.
"Ini baju terakhirnya, setelah itu selesai.
" Nasya mengangguk mengerti dan menoleh kepada Rascal yang masih menatapnya sedari tadi.
Menatap Nasya dengan tatapan yang membuat orang-orang disekitar mereka menatap iri pada Nasya.
Tatapan penuh cinta dan kasih sayang yang meluap-luap.
"Apa kita bisa langsung pulang ke Indonesia?" Alis kanan Rascal naik keatas, keningnya sedikit berkerut mendengar pertanyaan yang istrinya lontarkan.
"Kamu gak mau nginap dulu.
Kita bisa ambil penerbangan pagi-pagi besok.
" Gelengan Nasya membuat Rascal mengangguk.
"kita ambil penerbangan sore ini oke?" Rascal berusaha menenangkan kegelisahan Nasya.
"Oke.
" Tak ada yang tahu dan mengira bahwa sejam setelah itu, Rascal mendapat telepon dari rumah sakit.
Mengatakan Grace sedang dalam ruang UGD dan siap di operasi.
Bahwa anaknya dan Nasya akan dilahirkan prematur.
Hal pertama yang Rascal lakukan adalah menyembunyikan berita tersebut dari Nasya.
Segera ia memesan tiket penerbangan tercepat menuju Jakarta.
Ia segera memasang raut wajah biasa saja setiap kali Nasya menatap matanya.
Setiap kali Nasya bertanya apa yang terjadi pada Rascal, Rascal segera mengalihkan pembicaraan mereka.
Bersikap tenang seakan tak terjadi apapun.
Pesawat mulai mendarat di bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Rascal mulai bernapas tenang.
Ia mengamati Nasya yang sedari tadi menatap pemandangan luar melalui jendela pesawat.
Dengan perlahan ia menggenggam jemari mungil Nasya dalam jemari tangannya.
"Kamu baik-baik aja kan Rascal?" tatapan Nasya beralih pada Rascal.
Rascal terdiam.
Ia merapikan anak rambut Nasya yang sedikit berantakan dengan tangan kirinya.
memikirkan sekiranya jawaban apa yang akan ia berikan pada Nasya.
Bagaimanapun cepat atau lambat Nasya akan mengetahuinya.
Kabar yang tidak baik.
Sumber:Internet