. HAPPY READING AND SORRY FOR TYPOSS 000 Grace kembali mengetuk-ngetukkan sepatu kets yang ia pakai ke lantai sedari tadi, pertanda ia sedang bosan.
Ia memandang pintu ruangan Dokter Lius untuk kesekian kalinya.
Hari ini sebenarnya hari liburnya, tapi pagi ini Dokter Lius menyuruhnya datang.
Kemarin, saat hendak pulang melewati halaman rumah sakit ia melihat Dokter Lius yang sedang melamun menatap ke gerbang rumah sakit.
Awalnya Grace hanya melewati nya, tapi, tak lama Dokter Luis menyusulnya.
Memintanya untuk berbicara sebentar.
"Dokter ingin berbicara apa?" Grace bertanya langsung saat Lius memberinya segelas kopi dari kafe di dekat rumah sakit.
Lius ikut duduk disamping Grace.
Mereka kini tengah duduk ditempat Lius duduk sedari tadi.
Lius memperhatikan Grace seksama, "Kamu cukup sehat.
Ada riwayat penyakit?" Grace menjawab dengan gelengan kepala.
Bingung.
Ia tak tahu kenapa Lius bertanya seperti itu padanya.
Grace memang kenal dengan Lius, tapi itu hanya sebatas kenal rekan kerja.
Ia selalu menyapa saat berpapasan dengan Lius, itupun sering karna ruang cleaning service yang berada tak jauh dari ruang praktek Lius.
Grace langsung gugup, karna saat ini Lius sedang mengamati secara terang-terangan.
"Ke,, kenapa Dokter Lius bertanya seperti itu?" Lius menepuk kepalanya seakan tersadar akan sesuatu, "saya akan mengatakan nya langsung.
" Grace mengamati Lius yang kini memperbaiki duduknya mendekat ke arah Grace dan meletakkan kopinya disisi bangku yang lain.
"Saya punya pekerjaan bagus untuk kamu, saya tahu kamu butuh biaya untuk kembali kuliah,," Lius mengangkat tangan nya memberi isyarat Grace untuk diam mendengarkan.
",, Saya tahu karna saya enggak sengaja mendengar nya tahun lalu.
Maaf Grace.
" Grace terdiam mengangguk.
Bersyukur karna Dokter Lius tahu dan tetap bersikap biasa saja dengannya.
"Pekerjaan apa?" "Saya yakin kamu tahu pekerjaan ini.
" Grace masih menatap Lius bertanya, tanda ia memang tak tahu dengan apa yang Lius katakan.
"Gestational Carrier.
" Grace menatap Lius kaget.
"Atau yang lebih dikenal dengan nama ibu pengganti.
" *** Lius memandang dua orang didepannya, menunggu reaksi Rascal dan Nasya.
"Jadi gimana?" Lius bertanya tak sabaran.
Memandang bolak balik ke arah pintu, ada orang lain dibalik pintu yang juga butuh penjelasan nya.
Nasya menatap Lius ragu, "Kamu yakin Lius? Maksud aku, kamu yakin ini bisa?" Pagi ini ia dan Rascal kembali menemui Lius di rumah sakit.
Lius bilang ingin membicarakan mengenai keinginannya untuk memiliki anak.
Lius mengangguk cepat, "Aku udah membicarakan hal ini dengan dokter kandungan terbaik disini, dan dia sudah setuju.
Untuk urusan rumah sakit aku yang urus.
Kalian hanya perlu setuju dan menyiapkan biaya yang tidak sedikit.
" "Jangan khawatir soal biaya.
Gue mampu bayar seberapa pun.
" Potong Rascal.
Yah, apa yang tak bisa dimiliki seorang aktor terkenal?.
Nasya memutar matanya mendengar perkataan Rascal, dan kembali fokus pada Lius.
"Trus siapa ibu pengganti yang kamu saranin? Bagaimana orangnya?".
Rascal menggenggam tangan Nasya.
"Kamu yakin mau?" Tanyanya memastikan.
Walaupun tadi malam mereka sudah membicarakan nya dengan matang bahwa hanya ini satu-satunya cara yang aman, tetap saja ia tak bisa membuat Nasya berharap banyak.
Bukannya pesimis, Rascal suka melihat mata redup Nasya yang sekarang terlihat bahagia.
Hanya saja ia tak ingin Nasya bersedih hati bila ini tak berhasil, walaupun ia tahu Nasya adalah wanita yang kuat.
Sumber:Internet