. Kicauan burung yang terdengar di kamis pagi ini tidaklah semerdu biasanya, dari dalam kontrakan Mang Deden terdengar suara ocehan seorang wanita.
Dialah Fitri, sudah 3 hari ini ia terheran-heran dengan sikap Mang Deden yang takmau menyentuhnya.
Meskipun dari mata Fitri sendiri terlihat gundukan penis Mang Deden yang mengeras tiap kali dirinya menggoda Mang Deden, namun Mang Deden terus saja menahan hawa nafsunya.
"Isshh kamu kenapa sih mang, kok gamau ngewe sama aku.
Aku bikin salah kah? Kalo bikin salah kenapa? Bilang dong, jangan anggurin aku begini" oceh Fitri sambil mengenakan seragam kerja miliknya.
"Gapapa lho fit, percaya sama mamang yak.
Eh fit, anu, aku nanti malem mau ke rumah sodara dulu di cilegon.
Nanti kamu sendiri disini gapapa ya, atau engga ajak Ucup aja kesini" ujar Mang Deden.
"Tuh, belom jg dikasih jatah udah maen ditinggal aja.
Tapi yaudahlah, aku sendiri aja.
Males ajak Ucup, ga berasa juga ngewe sama dia" jawab Fitri sambil berekspresi angkuh mengingat kekasihnya disana sedang bersama istrinya.
"Yeee dasar, yaudah mamang janji pulang dari sana mamang ewe terus kamu, jangan ketiduran ya!" Balas Mang Deden lagi, kali ini sambil mencubit buah dada Fitri.
"Huh, awas ya kalo boong, iya kemaren aku mah tidur karna belom persiapan aja udah diajakin ngewe semalem suntuk" jawab Fitri sambil mengarahkan kepalan tangan ke lengan kokoh Mang Deden itu.
"Yaudah kamu berangkat gih Fit, hati hati lho" "Iya mang, aku tunggu besok yaa" Setelah Fitri berangkat, Mang Deden langsung mandi membersihkan dirinya.
Ia mencari kemeja paling bagus untuk dia kenakan, ia ingin terkesan rapi untuk acara hari ini bersama Oca.. Ya, hari ini adalah hari yang telah ditentukan Oca untuk acara "perpisahan" dengan Mang Deden.
Baik Mang Deden maupun Oca bertanya-tanya dalam hati mereka, akan seperti apakah pertemuan mereka hari ini? Akankah terjadi lagi persetubuhan liar seperti yang dahulu mereka lakukan? Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, Mang Deden telah mandi juga makan siang.
Ia kini hanya terduduk sambil menghisap batang rokoknya.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil SUV berhenti tepat didepan pagar kontrakan Mang Deden.
Didalamnya terlihat Bimo sendiri menyetir mobil tersebut.
Mang Deden pun keheranan melihat Bimo menjemputnya, perlahan ia mendekat ke arah mobil itu dan Bimo pun menurunkan kaca mobil.. "Assalamualaikum Mang Deden, masuk aja mang, Oca udah nunggu" "Waalaikumsalam, wah jadi Mas Bimo ini yang jemput saya" Mang Deden menjawab salam Bimo sembari masuk kedalam mobil itu.
"Hehe iya mang" balas Bimo.
Mobil itu langsung beranjak pergi setelah Mang Deden masuk kedalamnya.
Di sepanjang perjalanan Bimo dan Mang Deden mengobrol panjang lebar.
Selain saling meminta maaf terkait kejadian tempo hari, Mang Deden juga mempertanyakan keikhlasan Bimo yang mengizinkan Oca bertemu dirinya hari ini.
"Saya mah kaget mas, kok mas bolehin saya ketemu lagi sama neng Oca" "Gapapa mang, tapi ini yang terakhir.
Jadi harapan saya kalian berdua bisa mengakhiri sesuatu yang kalian mulai dengan benar" jawab Bimo kali ini dengan nada tegas.
"Baik mas, saya juga tidak mau ingin ada pertengkaran antara kita.
Saya juga tidak mau punya musuh, terimakasih banyak Mas Bimo dan Oca yang sudah memaafkan saya" balas Mang Deden.
Tak terasa setelah berbincang panjang lebar, mobil itu telah berada di pintu masuk sebuah gedung.
"Hotel Mulia" sebuah tulisan besar didepan gedung tersebut.
Pertanda bahwa tempat yang mereka datangi adalah sebuah hotel.
Mang Deden hanya diam setelah mengetahui tempat yang dituju adalah sebuah hotel.
"Apa yang mereka rencanakan dengan membawaku ke hotel?" tanya Mang Deden dalam hatinya.
Sumber:Internet